1 Apakah isi media adalah cerminan realitas sosial masyarakatnya ?. Bagaimana representasi media tentang dunia sosio-kultural dibandingkan dengan dunia sosial yang nyata ? Berikan pendapat dan analisis anda tentang hal ini ?
Jawab :
Tidak selalu bahwa isi media merupakan cerminan dari realitas sosial yang ada dimasyarakat. Dapat dikatakan bahwa di era saat ini media memliki kecenderungan untuk merepresentasikan apa yang menjadi pemahaman atau ideologi media terhadap kehidupan sosial atau budaya masyarakat yang menjadi khalayak dari media itu sendiri. Realitas sosial masyarakat bahkan cenderung hasil dari realitias yang dibentuk oleh media itu sendiri. Bahkan dalam kenyataannya realitas sosial masyarakat “diselewengkan” makna sebenarnya, perubahan konsep kencantikan misalnya, dikonstruksikan oleh media. Misal: konsep cantik tentang perempuan modern adalah putih, kurus, berambut lurus, slim dan sebagainya. Realitas ini menggeser makna yang telah menjadi kebenaran umum dalam masyarakat. Dalam kenyataannya, realitas sosial tidak pernah memberi tolak ukur atau barometer bahwa cantik adalah seperti yang disebutkan diatas. Walau disamping itu, media juga terkadang memberi gambaran sebenarnya tentang realitas sosial yang terjadi dalam masyarakat. Misal: kenaikan BBM yang terjadi, media benar dalam merepresentasikan realitas bahwa pemerintah menaikkan harga BBM paska melambungnya harga minyak dunia saat itu. Disini digambarkan bahwa media merepresentasikan realitas yang ada atau yang terjadi dimasyarakat tanpa dibumbui oleh kepentingan atau ideologi dari media.
Agenda publik bukan lagi menjadi agenda media tetapi cenderung berubah haluan menjadi agenda media yang dikonstruksikan sebagai agenda publik itu sendiri. Jika harus membandingkan representasi media tentang dunia sosio-kultural dengan dunia sosila yang nyata, ada perbandingan dan perbedaan yang jelas saat dua dunia ini direpresentasikan oleh media. Dalam merepresentasikan dunia sosio-kultural misalnya, seperti yang telah digambarkan diatas, media sering sekali “menyelewengkan” makna atau artian dari suatu realitas sosial yang sebenarnya. Ajaibnya media sanggup memepenagruhi, mengubah, bahkan memanipulasi. Sebagai contoh lainnya: imej politik seseorang bisa terbentuk atau dibentuk. Politisi yang berusaha memoles dan memperindah diri untuk konsumsi media, dan selanjutnya media “menjejalkanya” kedalam pikiran kolektif public. Yang menjadikan politisi itu “terlihat” lebih baik dalam pandangan masyarakat. Sementara representasi media mengenai dunia sosial yang nyata ? pada umumnya jarang sekali media benar – benar merepresentasikan realitas yang nyata. Media menyuguhkan informasi dan khalayaknya tidak memiliki pilihan lain kecuali mengkonsumsi informasi tersebut.
2. Peter L Berger dan Thomas Luckmann beranggapan bahwa konstruksi social atas realitas muncul berkaitan dengan pemikiran manusia dan konteks sosial dimana pemikiran itu berkembang dan dikembangkan. Berikan analisis dan pendapat anda bagaimana gagasan tentang konstruksi sosial tersebut mempengaruhi dan dipengaruhi oleh media ?
Jawab:
Konstruksi sosial merupakan penggambaran proses sosial melalui tindakan dan interaksi antara individu dimana masing-masing individu tersebut memiliki pengalaman dan informasi yang berbeda. Didalam konstruksi sosial dapat dilihat bagaimana masyarakat melalui interaksi interpersonal menciptakan realitas-realitas sosial baru, dimana realitas sosial baru tersebut muncul sesuai dengan konteks yang ada. Di era masyarakat kapitalisme (menghamba pada konsumsi) terjadi relasi saling mempengaruhi antara media massa, realitas sosial, serta realitas sosial bentukan media, sehingga pencitraan yang dilakukan media terhadap berbagai produk acara dan informasi pada akhirnya menciptakan realitas sosial baru yang mengikuti raelitas yang dipaparkan oleh media. Media dalam hal ini dianggap sebagai agen pembentuk realitas sosial yang baru. Teori dan pendekatan konstruksi sosial atas realitas terjadi secara simultan melalui tiga proses sosial, yaitu ekternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. 3 proses ini terjadi diantara individu satu dengan individu lainnya dalam masyarakat. Karena adanya perubahan zaman, adanya perubahan masyarakat transisi modern menjadi masyarakat modern dan postmodern, teori dan pendekatan konstruksi sosial atas realitas melihat variabel atau fenomena media massa menjadi sangat substansi dalam proses eksternalisasi, subjektivasi, dan internalisasi. Konstruksi sosial yang terbentuk dalam masyarakat merupakan hasil pandangan, pemikiran dan pemaknaan masing-masing individu terhadap suatu fenomena sosial karena masing – masing individu yang berinteraksi memiliki penalaman dan informasi yang berbeda - beda. Proses yang terjadi dalam fenomena-fenomena sosial tersebut dikonstruksi masyarakat hingga membentuk suatu realitas baru dalam masyarakat tersebut. Suatu realitas dalam masyarakat ini akan menjadi agenda publik, yang selanjutnya agenda publik ini akan menjadi agenda media manakala media mengangkat agenda publik yang ada menjadi suatu hal yang dianggap penting oleh publik. Hasil konstruksi sosial yang telah menjadi agenda publik tersebut akan mempengaruhi media dalam mengambil sikap dan menentukan kebijakan serta dalam pembentukan citra dan realitas yang baru di masyarakat. Realitas yang terkonstruksi tersebut pun akan membentuk opini publik, dan hal ini juga akan mempengaruhi media dalam menjalankan fungsinya sebagai alat penyebar informasi dan pemuas kebutuhan bagi publiknya. Konstruksi sosial yang dibentuk dan dibangun masyarakat tidak hanya mempengaruhi media, tetapi juga sebaliknya bahwa konstruksi sosial yang terjadi di masyarakat dapat dipengaruhi oleh realitas yang dientuk media yang selanjutnya realitas media tesebut dikonsumsi sebagai realitas publik.
Konstruksi sosial yang dibentuk oleh media tersebut melalui beberapa tahapan proses, yaitu tahap menyiapkan materi konstrukasi, tahap sebaran konstruksi, tahap pembentukan konstruksi, dan tahap konfirmasi. Didalam tahap menyiapkan materi konstruksi pihak media selalu menyiapkan isu-isu penting yang menjadi fokus kebutuhan publik, terutama yang berhubungan dengan kedudukan (tahta) yaitu segala hal yang berhubungan dengan jabatan dan kinerja birokrasi serta layanan publik, harta yaitu menyangkut persoalan materi dan kekayaan termasuk juga didalamnya persoalan korupsi, dan perempuan yaitu yang menyangkut masalah aurat, wanita cantik dan segala aktivitas mereka. Selain itu fokus dalam materi konstruksi ini adalah informasi-informasi yang sifatnya menyentuh perasaan banyak orang, misalnya sensivitas, sensualitas, maupun kengerian. Dalam menyiapkan materi konstruksi, media massa memosisikan diri pada tiga hal yaitu keberpihakan media massa kepada kapitalisme, tidak dapat dipungkiri lagi bahwa media massa hampir tidak ada yang tidak dikuasai oleh kaum kapital yang mana dalam prinsip kapitalisme ini tidak jarang idealisme media dan para pelakunya tergeser oleh kepentingan pragmatis ekonomi dalam penciptaan uang dan mengasilkan keuntungan yang besar oleh kaum penguasa tersebut. Keberpihakan semu kepada masyarakat, yang dilakukan pihak media dalam bentuk empati, simapati dan partisipasi masyarakat yang pada akhirnya tujuan dari bentuk ini adalah untuk menjual berita dengan menarik perhatian masyarakat tersebut untuk kepentingan kaum kapitalis. Keberpihakan kepada kepentingan umum juga merupakan hal yang harus dilihat media dalam menyiapkan materi konstruksi. Bentuk keberpihakan ini dalam arti sesungguhnya adalah visi setiap media, tetapi realitanya sekarang ini visi dari media tersebut lamban laun mulai terkikis dan tak pernah menunjukkan jati dirinya, namun hal-hal tentang visi tersebut tetap menggema. Tahap konstruksi sosial media selanjutnya adalah sebaran konstruksi media massa yang dilakukan melalui strategi media massa, yaitu real-time dimana semua informasi harus sampai pada pemirsa atau pembaca secepatnya dan setepatnya berdasarkan agenda media. Yang dalam hal ini apa yang dianggap penting oleh media, maka menjadi penting pula bagi publiknya. Kemudian adalah tahap pembentukan konstruksi sosial, meliputi tiga tahap yaitu konstruksi realitas pembenaran sebagai suatu bentuk konstruksi media massa yang terbangun di masyarakat yang akan cenderung membenarkan apa saja yang disajikan oleh media dan menjadikannya sebagai suatu realitas kebenaran. Kesediaan dikonstruksi oleh media massa dan menjadikan konsumsi media massa sebagai pilihan konsumtif, dimana seseorang menjadi ketergantungan terhadap media massa dan media massa merupakan suatu kebiasaan hidup yang tak bisa dilepaskan. Dan tahap yang terakhir dari konstruksi sosial yang dibangun media adalah konfirmasi. Merupakan tahapan dimana publik ataupun pihak media memberi argumentasi dan akuntabilitas terhadap pilihannya untuk terlibat dalam tahap pembentukan konstruksi. Bagi pihak media tahapan ini bertujuan untuk pemberian argumentasi terhadap alasan-alasan dari konstruksi sosial yang dibentuk. Dan bagi publik bagian ini dapat menjelaskan mengapa ia terlibat dan bersedia hadir dalam proses konstruksi sosial.
Referensi :
Bungin, Burhan. 2007. Sosiologi Komunikasi: teori, paradigma dan paradigma tekhnologi komunikasi dimasyarakat. Jakarta
This article is purely the work of the author. It is not a plagiarism of the work of others.
Minggu, 10 Januari 2010
Psikologi Komunikasi
1.Seberapa besarkah (sesunggunya) pengaruh media terhadap publiknya ?
Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla mengatakan, “media massa memberikan pengaruh yang sangat besar dalam tatanan kehidupan setiap penduduk bumi Indonesia ini”. Bahkan lebih tajam dan kuat dari senjata. Hal ini cukup beralasan, sebab dalam praktiknya, media massa seakan-akan ‘menyodorkan’ segala kebutuhun kita, mulai dari kebutuhan akan informasi hingga hiburan.Dalam hampir setiap aspek kehidupan individu yang mengkonsumsi yang disediakan oleh media massa memiliki dampak yang luarbiasa. Dan hal ini tidak hanya sebagi suatu hiburan semata atau media sebagai pemuas akan informasi tapi hal ini sangat mempengaruhi publik.
Hampir semua yang menjadi pemberitaan media massa dianggap sebagai suatu hal yang layak untuk dikonsumsi langsung atau bahkan dijadikan sebagai suatu pembenaran terhadap suatu kasus. Bahkan di Amerika ada golongan tertentu yang mencanangkan anti Televisi, karena dikhawatirkan akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak-anak mereka. Sedangkan di Indonesia sendiri bisa dilihat dari klasifikasi yang diberikan pada saat suatu acara berlangsung ( BO = bimbingan orang tua, SU = semua umur ) hal ini dimaksudkan agar acara yang diberikan tepat sasaran.
2.Apakah media memiliki pengaruh yang perkasa terhadap publiknya atau pengaruh media hanya terbatas ?
Pengaruh yang diberiakan oleh media massa sungguh amat luarbiasa. Dalam setiap tayangan-tanyangan yang kita lihat setiap harinya secara tidak langsung telah mengajarkan dan mempengaruhi cara berpikir kita tentang sesuatu. Karena apa yang kita lakukan atau pikirkan bias dilihat dari apa yang kita terima.
Hasil analisa terhadap lebih dari 8000 jam program televisi dan parabola AS membuktikan bahwa 60 persen dari program televisi AS merupakan produk acara yang mengandung kekerasan. Dengan kata lain, bocah-bocah AS sebelum lulus SD, mereka telah dijejali dengan lebih dari 8000 tayangan pembunuhan, dan ratusan ribu tindak kekerasan lainnya seperti aksi saling pukul, baku tembak, dsb.
Dan hasilnya ? Terjadinya kasus pembantaian di SMA Columbine, Colorado, AS pada tahun 1999 merupakan salah satu contoh kasus kekerasan berdarah di negara ini. Kasus-kasus semacam ini merupakan salah satu indikator bobroknya nilai-nilai moral dan kemanusiaan di negeri Paman Sam. Dalam peristiwa tragis ini, dua remaja menembak membabi-buta hingga menewaskan 12 rekan siswa dan seorang guru.
Hal diatas sangat jelas menerangkan bahwa betapa luarbiasanya media massa berpengaruh dalam kehidupan manusia.
3.Faktor apa saja yang berpengaruh (menyebabkan) kekuasaan atau keterbatasan media ?
Pemerintah sebagai regulator, penyelenggara semua aspek kehidupan warga negaranya seyogyanya mengetahui batasan tentang kendali mutu materi siaran. Sudah sepatut nya pemerintah menyertainya dengan mengusahakan semakin tingginya nilai mendidik dari segala tayangan yang ada di media massa.
Media massa sendiri juga seharusnya menyadari peran dan dampak dari apa yang seharusnya mereka sajikan. Bukan semata hanya meliaht dari segi bisnis semata tapi juga dilihat hasil yang dirasakan oleh khalyak banyak. Jangan sampai fungsi utama sebagai salah satu media untuk memberikan informasi dan hiburan dikesampingkan untuk mendaptkan keuntungan pribadi.
Media massa berpengaruh sangat besar terhadap konsumennya. Pengguna dan Penyedia informasinya adalah manusia. Maka kontrolnya adalah kita sebagai manusia harus melengkapi diri kita akan kecerdasan intelektual dan kecerdasan moral, salah satu caranya adalah dengan mengikuti pendidikan formal. Hal ini dimaksudkan agar publik sendiri sebagai ‘konsumen’ dari media massa, membentengi diri serta cermat dalam memilih tayangan-tanyangan yang beredar luas.
Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla mengatakan, “media massa memberikan pengaruh yang sangat besar dalam tatanan kehidupan setiap penduduk bumi Indonesia ini”. Bahkan lebih tajam dan kuat dari senjata. Hal ini cukup beralasan, sebab dalam praktiknya, media massa seakan-akan ‘menyodorkan’ segala kebutuhun kita, mulai dari kebutuhan akan informasi hingga hiburan.Dalam hampir setiap aspek kehidupan individu yang mengkonsumsi yang disediakan oleh media massa memiliki dampak yang luarbiasa. Dan hal ini tidak hanya sebagi suatu hiburan semata atau media sebagai pemuas akan informasi tapi hal ini sangat mempengaruhi publik.
Hampir semua yang menjadi pemberitaan media massa dianggap sebagai suatu hal yang layak untuk dikonsumsi langsung atau bahkan dijadikan sebagai suatu pembenaran terhadap suatu kasus. Bahkan di Amerika ada golongan tertentu yang mencanangkan anti Televisi, karena dikhawatirkan akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak-anak mereka. Sedangkan di Indonesia sendiri bisa dilihat dari klasifikasi yang diberikan pada saat suatu acara berlangsung ( BO = bimbingan orang tua, SU = semua umur ) hal ini dimaksudkan agar acara yang diberikan tepat sasaran.
2.Apakah media memiliki pengaruh yang perkasa terhadap publiknya atau pengaruh media hanya terbatas ?
Pengaruh yang diberiakan oleh media massa sungguh amat luarbiasa. Dalam setiap tayangan-tanyangan yang kita lihat setiap harinya secara tidak langsung telah mengajarkan dan mempengaruhi cara berpikir kita tentang sesuatu. Karena apa yang kita lakukan atau pikirkan bias dilihat dari apa yang kita terima.
Hasil analisa terhadap lebih dari 8000 jam program televisi dan parabola AS membuktikan bahwa 60 persen dari program televisi AS merupakan produk acara yang mengandung kekerasan. Dengan kata lain, bocah-bocah AS sebelum lulus SD, mereka telah dijejali dengan lebih dari 8000 tayangan pembunuhan, dan ratusan ribu tindak kekerasan lainnya seperti aksi saling pukul, baku tembak, dsb.
Dan hasilnya ? Terjadinya kasus pembantaian di SMA Columbine, Colorado, AS pada tahun 1999 merupakan salah satu contoh kasus kekerasan berdarah di negara ini. Kasus-kasus semacam ini merupakan salah satu indikator bobroknya nilai-nilai moral dan kemanusiaan di negeri Paman Sam. Dalam peristiwa tragis ini, dua remaja menembak membabi-buta hingga menewaskan 12 rekan siswa dan seorang guru.
Hal diatas sangat jelas menerangkan bahwa betapa luarbiasanya media massa berpengaruh dalam kehidupan manusia.
3.Faktor apa saja yang berpengaruh (menyebabkan) kekuasaan atau keterbatasan media ?
Pemerintah sebagai regulator, penyelenggara semua aspek kehidupan warga negaranya seyogyanya mengetahui batasan tentang kendali mutu materi siaran. Sudah sepatut nya pemerintah menyertainya dengan mengusahakan semakin tingginya nilai mendidik dari segala tayangan yang ada di media massa.
Media massa sendiri juga seharusnya menyadari peran dan dampak dari apa yang seharusnya mereka sajikan. Bukan semata hanya meliaht dari segi bisnis semata tapi juga dilihat hasil yang dirasakan oleh khalyak banyak. Jangan sampai fungsi utama sebagai salah satu media untuk memberikan informasi dan hiburan dikesampingkan untuk mendaptkan keuntungan pribadi.
Media massa berpengaruh sangat besar terhadap konsumennya. Pengguna dan Penyedia informasinya adalah manusia. Maka kontrolnya adalah kita sebagai manusia harus melengkapi diri kita akan kecerdasan intelektual dan kecerdasan moral, salah satu caranya adalah dengan mengikuti pendidikan formal. Hal ini dimaksudkan agar publik sendiri sebagai ‘konsumen’ dari media massa, membentengi diri serta cermat dalam memilih tayangan-tanyangan yang beredar luas.
PIALA CITRA UNTUK GOLKAR.
Golkar menang pemilu legislative 2004, menggaet 24.480.757 suara (21,58 %) pemilih. Kemenangan yang sudah diduga sebelumnya, tetapi tetap menimbulkan tanya. Bagaiman kemenangan ini bisa terjadi ? sejumlah analisa menjawab : Golkar memiliki pemilih loyal; Golkar kompeten mengatasi masalah ekonomi; dan Golkar/Soeharto memerintah lebih baik ketimbang pemerintahan di era reformasi.
Analisa lain yang lebih akademis menyebutkan, Golkar menang karena: Pertama, merupakan satu – satunya partai yang bersifat plural, lintas ideologi serta agama. Menjadi tempat yang “aman” bagi konstituen yang risau dengan tetap melembaganya politik aliran dan primordial. Kedua, merupakan partai yang bersifat nasional dalm arti sebenarnya (PDI-P dan PKB relative merupakan “partai – partai Jawa). Ketiga, psikopolitik masyarakat yang gamang terhadap kinerja partai reformis serta ketidakjelasan arah reformasi membuat rakyat kecewa dan terperangkap dalam memori “aman dan sejahtera” era Orde Baru. Keempat, Golkar secara organisasi memang “bekerja”, bahkan jauh – jauh hari sebelum bendera dan tanda gambar dikibarkan dalam masa kampanye.
Bagaimana Golkar bekerja? Antara lain dengan mengeksploitasi memori public yang sesungguhnya manipulative. Golkar memperoleh kredit positif Orde Baru, sementara citra negative rezim otoriter dibiarkan menjadi milik Soeharto dan keluarga Cendana. Ini mnejelaskan mengapa Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB) yang mencalonkan Siti Hardiyanti Rukmana (Tutut) gagal memperoleh dukungan yang signifikan.
Old habit dies hard, kebiasaan lama sulit mati. Partai Golkar yang tealh terekam dalam memori public selama lebih dari 30 tahun adalah Goliath untuk partai – partai baru. Termasuk PKPB, yang menyatakan diri sebgai pendukdung sejati Orde baru-- “lebih Golkar dari pada Golkar”—juga gagal menggaet cukcup suara, karena tidak dikenal. Sembari mengeksploitasi “rindu Orde Baru”, Golkar juga berupaya menegasi citra lama. Melalui semboyan “Golkar baru, bersatu untuk maju”, mereka bekerja memperbaiki citra, dengan memanfaatkna media massa—secara cerdik.
Bagi Golkar, citra adalah segala – galanya untuk memenangkan politik di era media massa. Pertarungan politik dalam pemilu, pertam – tama, harus dimenangkan melaui media massa. Kekuatan politik dan ekonomi yang berkuasa (seperti Golkar, misalnya) meggunkan media massa untuk menyampaikan retorika konsep –konsep, member label, menilai dan menjelaskan. “Konvensi Golkar”, tampaknya adalah label-konsep yang sukses. Khalayak menerima proses konvensi sebagai “sebuah nilai yang menjelaskan jati diri Golkar”. Untuk itu, terimakasih pada media massa. Konvensi Golkar, salah satu dari parpol peserta pemilu, disiarkan langsung, live!,.oleh beberapa stasiun TV sampai pukul satu pagi. Dan kemudian, hasil konvensi itu menjadi judul utama hamper semua Koran harian. Seolah – olah konvensi yang memelih calon presiden Golkar sama pentingnya dengan pemilihan presiden Indonesia.
Konvensi yang sesungguhnya semacam kongres atau ajang rapat besar bagi pengurus sebuah partai, berhasil melibatkan khalayak di seantero Indonesia. Public serta merta ikut melaui medium layar televisi. Penonton televise dirumah dipaksa (atau terpaksa) tertarik dan terlibat penghitungan suara konvensi itu, menebak siapa pemenangnya. Ini lah pesona, atau sihir, televise. Peristiwa dan kejadian yang jauh terjadi dapat dilihat dan dirasakan pada waktu yang bersamaan, diintegrasikan kedalam pengalaman pribadi. Media massa mampu membawa tema – tema public kedalam wilayah privat (rumah – rumah), dan secra langsung atau tidak langsung telah mempenagruhi, mengkondisikan, mengorintasikan, bahkan menunjukan otoritas.
Tak ada saran lain, baik individu, kelompok social, atau institusi yang mampu menyampaikan pesan semenarik dan berkesinambungan seperti media massa. Hal ini juga menjelaskan, misalnya, mengapa pada tahun 1998 – 1999 tuntutan agar Golkar dibubarkan—yang ramai disuarakan oleh mahasiswa dan aktivis LSM dijalan – jalan—tidak bergaung dan bersambut. Boleh jadi, karena media massa tidak terlalu antusias mengekspose tuntutan pembubaran itu secara berkesinambungan—apalagi siaran langsung. Bayangkan jika berbagai tuntutan pembubaran Golkar, 10 tahun lalu, teru menerus diekspose dan didukung media, apa yang terjadi dengan Golkar? Mungkin, Golkar harus bubar, atau setidaknya berganti nama, dan para kadernya mesti nebeng di partai lainnya.
Tapi faktanya—juga ironisnya, Partai Golkar adalah pemenang Pemilu legislative 2004. Partai yang 10 tahun lalu dinilai menjadi mesin korupsi dan alat tirani Orde Baru, menajdi “bahaya laten” , kini kembali memimpin politik negeri ini.
Politik, ada yang bilang, adalah permainan segala kemungkinan untuk mewujudkan apa yang mustahil. Golkar menang dalm pemilu yang dinilai demkratis. Barangkali Golkar lebih baik dari partai lain, atau berhasil meyakinkan public sebagai partai reformis yang layak dipilih. Golkar wajib bersyukur karena masyarakat Indonesia adalah pemilih yang pemaaf dan pendek ingatanya. Golkar juga wajib berterimakasih kepada media massa yang dengan suka rela menjadi sara promosinya.
Kemenangan Golkar bisa diibaratkan sebagai “ekor yang mengibaskan anjing” (dari perumpamaan the tail that wag the dog, yang dibintangi Robert Deniro dan Al Pacino. Film satir politik ini menggambarkan keberhasilan spin doctor mengalihkan perhatian media massa untuk kepentinagn politik. Media massa mudah sekali “disuapi” denagn isu dan dialihkan perhatiannya dari persoalan real. Kenapa anjing mengibaskan ekornya? Karena anjing lebih pintar dari ekornya. Namun dalam politik di era media massa, ternyata “ekor bisa mengibaskan anjing”, buntut mengibaskan badan. Rakyat Indonesia seharusnya mengibaskan partai Golkar, atas “karya-nya” selama 30 tahun mempurukkan Indonesia. Namun, rupanya, Golkar lebih piñtar dari rakyat Indonesia: Golkar mampu mengibaskan rakyat Indonesia dalam pemilu 2004.
GOLKAR – PESAN – MEDIA MASSA – KHALAYAK.
Model komunikasi persuasive ini mencoba menggambarkan apa yang dilakukan Golkar dan Media massa. Golkar dengan cerdas menggunakan pesan yang dipublikasikan melalui banyak media massa kepada kahlayak yang mau tidak mau akan memproses apa yang telah dipublikasikan Golkar. Konvensi Golkar misalnya, masyarakat umum dipaksa untuk mengikuti konvensi yang seyogyanya “hanya” rapat biasa. Pengitungan siapa yang akan menang dan segala macam hal yang terjadi didalamnya diliput oleh berbagi stasiun TV dan surat kabar nasional. Dengan harapan bahwa khalayak akan memberI feedback sama seperi apa yang diharapkan oleh Golkar.
Dan feedback yang diharapkan Golkar pun terjadi. Imej Golkar yang selama beberapa dekade terakhir berhasil “disulap” oleh Golkar dan media, yang ternyata ampuh untuk mepersuasi masyarakat untuk memilih Golkar di pemilu 2004, dengan bukti, Golkar berhasil memenangkan pemilu legislative 2004.
Analisa lain yang lebih akademis menyebutkan, Golkar menang karena: Pertama, merupakan satu – satunya partai yang bersifat plural, lintas ideologi serta agama. Menjadi tempat yang “aman” bagi konstituen yang risau dengan tetap melembaganya politik aliran dan primordial. Kedua, merupakan partai yang bersifat nasional dalm arti sebenarnya (PDI-P dan PKB relative merupakan “partai – partai Jawa). Ketiga, psikopolitik masyarakat yang gamang terhadap kinerja partai reformis serta ketidakjelasan arah reformasi membuat rakyat kecewa dan terperangkap dalam memori “aman dan sejahtera” era Orde Baru. Keempat, Golkar secara organisasi memang “bekerja”, bahkan jauh – jauh hari sebelum bendera dan tanda gambar dikibarkan dalam masa kampanye.
Bagaimana Golkar bekerja? Antara lain dengan mengeksploitasi memori public yang sesungguhnya manipulative. Golkar memperoleh kredit positif Orde Baru, sementara citra negative rezim otoriter dibiarkan menjadi milik Soeharto dan keluarga Cendana. Ini mnejelaskan mengapa Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB) yang mencalonkan Siti Hardiyanti Rukmana (Tutut) gagal memperoleh dukungan yang signifikan.
Old habit dies hard, kebiasaan lama sulit mati. Partai Golkar yang tealh terekam dalam memori public selama lebih dari 30 tahun adalah Goliath untuk partai – partai baru. Termasuk PKPB, yang menyatakan diri sebgai pendukdung sejati Orde baru-- “lebih Golkar dari pada Golkar”—juga gagal menggaet cukcup suara, karena tidak dikenal. Sembari mengeksploitasi “rindu Orde Baru”, Golkar juga berupaya menegasi citra lama. Melalui semboyan “Golkar baru, bersatu untuk maju”, mereka bekerja memperbaiki citra, dengan memanfaatkna media massa—secara cerdik.
Bagi Golkar, citra adalah segala – galanya untuk memenangkan politik di era media massa. Pertarungan politik dalam pemilu, pertam – tama, harus dimenangkan melaui media massa. Kekuatan politik dan ekonomi yang berkuasa (seperti Golkar, misalnya) meggunkan media massa untuk menyampaikan retorika konsep –konsep, member label, menilai dan menjelaskan. “Konvensi Golkar”, tampaknya adalah label-konsep yang sukses. Khalayak menerima proses konvensi sebagai “sebuah nilai yang menjelaskan jati diri Golkar”. Untuk itu, terimakasih pada media massa. Konvensi Golkar, salah satu dari parpol peserta pemilu, disiarkan langsung, live!,.oleh beberapa stasiun TV sampai pukul satu pagi. Dan kemudian, hasil konvensi itu menjadi judul utama hamper semua Koran harian. Seolah – olah konvensi yang memelih calon presiden Golkar sama pentingnya dengan pemilihan presiden Indonesia.
Konvensi yang sesungguhnya semacam kongres atau ajang rapat besar bagi pengurus sebuah partai, berhasil melibatkan khalayak di seantero Indonesia. Public serta merta ikut melaui medium layar televisi. Penonton televise dirumah dipaksa (atau terpaksa) tertarik dan terlibat penghitungan suara konvensi itu, menebak siapa pemenangnya. Ini lah pesona, atau sihir, televise. Peristiwa dan kejadian yang jauh terjadi dapat dilihat dan dirasakan pada waktu yang bersamaan, diintegrasikan kedalam pengalaman pribadi. Media massa mampu membawa tema – tema public kedalam wilayah privat (rumah – rumah), dan secra langsung atau tidak langsung telah mempenagruhi, mengkondisikan, mengorintasikan, bahkan menunjukan otoritas.
Tak ada saran lain, baik individu, kelompok social, atau institusi yang mampu menyampaikan pesan semenarik dan berkesinambungan seperti media massa. Hal ini juga menjelaskan, misalnya, mengapa pada tahun 1998 – 1999 tuntutan agar Golkar dibubarkan—yang ramai disuarakan oleh mahasiswa dan aktivis LSM dijalan – jalan—tidak bergaung dan bersambut. Boleh jadi, karena media massa tidak terlalu antusias mengekspose tuntutan pembubaran itu secara berkesinambungan—apalagi siaran langsung. Bayangkan jika berbagai tuntutan pembubaran Golkar, 10 tahun lalu, teru menerus diekspose dan didukung media, apa yang terjadi dengan Golkar? Mungkin, Golkar harus bubar, atau setidaknya berganti nama, dan para kadernya mesti nebeng di partai lainnya.
Tapi faktanya—juga ironisnya, Partai Golkar adalah pemenang Pemilu legislative 2004. Partai yang 10 tahun lalu dinilai menjadi mesin korupsi dan alat tirani Orde Baru, menajdi “bahaya laten” , kini kembali memimpin politik negeri ini.
Politik, ada yang bilang, adalah permainan segala kemungkinan untuk mewujudkan apa yang mustahil. Golkar menang dalm pemilu yang dinilai demkratis. Barangkali Golkar lebih baik dari partai lain, atau berhasil meyakinkan public sebagai partai reformis yang layak dipilih. Golkar wajib bersyukur karena masyarakat Indonesia adalah pemilih yang pemaaf dan pendek ingatanya. Golkar juga wajib berterimakasih kepada media massa yang dengan suka rela menjadi sara promosinya.
Kemenangan Golkar bisa diibaratkan sebagai “ekor yang mengibaskan anjing” (dari perumpamaan the tail that wag the dog, yang dibintangi Robert Deniro dan Al Pacino. Film satir politik ini menggambarkan keberhasilan spin doctor mengalihkan perhatian media massa untuk kepentinagn politik. Media massa mudah sekali “disuapi” denagn isu dan dialihkan perhatiannya dari persoalan real. Kenapa anjing mengibaskan ekornya? Karena anjing lebih pintar dari ekornya. Namun dalam politik di era media massa, ternyata “ekor bisa mengibaskan anjing”, buntut mengibaskan badan. Rakyat Indonesia seharusnya mengibaskan partai Golkar, atas “karya-nya” selama 30 tahun mempurukkan Indonesia. Namun, rupanya, Golkar lebih piñtar dari rakyat Indonesia: Golkar mampu mengibaskan rakyat Indonesia dalam pemilu 2004.
GOLKAR – PESAN – MEDIA MASSA – KHALAYAK.
Model komunikasi persuasive ini mencoba menggambarkan apa yang dilakukan Golkar dan Media massa. Golkar dengan cerdas menggunakan pesan yang dipublikasikan melalui banyak media massa kepada kahlayak yang mau tidak mau akan memproses apa yang telah dipublikasikan Golkar. Konvensi Golkar misalnya, masyarakat umum dipaksa untuk mengikuti konvensi yang seyogyanya “hanya” rapat biasa. Pengitungan siapa yang akan menang dan segala macam hal yang terjadi didalamnya diliput oleh berbagi stasiun TV dan surat kabar nasional. Dengan harapan bahwa khalayak akan memberI feedback sama seperi apa yang diharapkan oleh Golkar.
Dan feedback yang diharapkan Golkar pun terjadi. Imej Golkar yang selama beberapa dekade terakhir berhasil “disulap” oleh Golkar dan media, yang ternyata ampuh untuk mepersuasi masyarakat untuk memilih Golkar di pemilu 2004, dengan bukti, Golkar berhasil memenangkan pemilu legislative 2004.
FENOMENA SBY
PENDAHULUAN.
Kancah politik di Indonesia telah memasuki babak baru. Untuk kedua kalinya rakyat memilih langsung presiden dan wakil presiden, juga memilih wakil rakyat (DPR) dan wakil daerah (DPD) memlalui sistem pemilu proporsional terbuka. Setelah gerakan reformasi 1998, sistem demokrasi pelan – pelan—namun belum pasti—mulai diterima sebagai proses yang diyakini bisa membawa perbaikan di negeri ini.
Demokrasi, dengan segala kerumitannya dan kerewelannya, terbukti mampu membuka aspirasi dan menyumbang aspirasi dan motivasi bagi keterlibtan aktif public pada politik. Selain itu, demokrasi juga member inspirasi dan mendorong inovasi bagi actor – actor politik untuk berupaya melakukan “segala cara” untuk memikat minat masyarakat utnuk terlibat. Rakyat Indonesia yang pada 4 dekade terakhir, terbiasa diasingkan dari proses politik, kini untuk pertama kali menjadi primadona. Suara rakyat tiba – tiba menjadi suara Tuhan (vox populi vox dei) bagi politisi. Dari beberapa pemilu terakhir, rakyat juga mengalami bahwa proses kompetisi politik tidak harus berarti anarkhi atau sekedar ritual manipulasi elit.
Pemilu kemudian menjadi proses yang asik untuk dinikmati. Di warung – warung, di gardu ronda, di kantin – kantin, di café – café, di hotel- hotel, pemilu menjadi topic obrolan dan diskusi. Setiap orang tiba – tiba menjadi “pengamat politik”, merasa paling tahu peta politik parpol dan capres, mampu meramal partai apa bakal menang ? siapa capres yang kalah ?. sebagai contoh, minat public memperdebatkan pemilu presiden 2004 setara dengan penggemar bola membincangkan kejuaraan Piala Eropa 2004.
Semua itu terjadi karena Media. Ekspose tentang pemilu dan Piala Eropa sama hebohnya di pemberitaan media massa. Melalui gelombang radio, dihalaman Koran, dan dilayar televise, media massa mengajak masyarakat terlibat. Media massa bahkan mendedikasikan sejumalah besar halaman (Koran) dan jam siaran (radio,TV) untuk “membawa” khalayak menikmati proses pemilu secara “lebih dekat lebih nyata”.
Keajaiban lainnya, media sanggup memepenagruhi,mengubah, bahkan memanipulasi. Para politisi bekerja keras memeperbaiki citra menjadi ramah, penuh perhatian, dekat dengan rakyat cilik demi dan untuk media.Dalam pebahasan berikutnya, akan dibahas mengenai bagaimana imej politik seseorang bisa terbentuk atau dibentuk. Politisi yang berusaha memoles dan memperindah diri untuk konsumsi media, dan selanjutnya media “menjejalkanya” kedalam pikiran kolektif public.
POLITIK SIMULAKRA.
Politik di era media massa adalah soal membuat citra. Melalui layar kaca, siaran radio, dan halaman Koran, citra bisa dibentuk dan dijejalkan dalm pikiran kolektif public. Dan citra itu bisa dibuat lebih dahsyat ketimbang ciri – ciri actual dan kondisi real. Realitas masa kini adalah realitas media, sering juga disebut sebagai simulacra, merujuk pada realitas budaya yang dikemas atau disampaikan oleh media. Simulacra, menurut Jean Baudrillard, filsuf postmodern penggagas istilah itu, adalah kemasan dari sesuatu yang tidak lagi memeiliki keaslian. Didalam media massa, beda antara yang nyata (real) dan merepresentasikan (kemasan) telah lebur dan kabur. Yang tersisa hanyalah simulacra, sesuatu yang “lebih nyata ketimbang kenyataan”.
Di era informasi ini media massa begitu berkuasa dalm menyebarkan pesan, symbol, dan nilai – nilai kepada public. Kini, relaitas adalah fakta dan peristiwa yang ditetukan oleh cara pemberitaan media massa. Misalnya, kampanye yang dihadiri 1000 orang akan lebih efektif jika diliput oleh Koran yang dibaca oleh 5 juta orang atau disiarkan stasiun TV yang ditonton 50 juta orang pemirsa. Sebaliknya, kempanye yang dihadiri 100.00 orang akan tetap terbatas pengaruhnya jika sepi dari liputan media. Orasi yang bagus dari juru kampanye tidak ada artinya tanpa ekspose media.
Tanpa media politisi tak berdaya. Itu sebabnya politisi selalu berupaya menguasai media, dengan persuasive atau otoritatif. Melalui media politisi ingin memastikan bahwa citranya terekspose sesuai yang mereka inginkan. Dalam iklan di TV mereka ramah, bersahabat, murah senyum, dekat dengan rakyat. Mereka melakukan ini didepan sorotan kamera televise dan kamera wartawan. Apakah mereka bersedia melakukan semua “aksi merakyat” itu tanpa kehadiran media dan wartawan?.
FENOMENA SBY
Kibasan media nampaknya bukan hanya membantu memenangkan partai Golkar, namun mungkin juga bisa menjelaskan “fenomena SBY”. Bahkan, karier politik mantan Mneko Polkam ini agaknya kuat dipengaruhi oleh kontroversi yang muncul dari produk media massa: sebuah iklan layanan masyarakat. Iklan itu menggambarkan sekelompok orang sedang ngobrol diwarung kopi kaki lima mengkhawatirkan pemilu pemilu 5 april 2004 yang berpotensi kacau. “capek, ribut melulu, kapan bisa aman dan kerja tenang” ujar salah seorang dalam kerumunan itu. Mereka khawaitr pemilu bakal menjadi biang kerusuhan dan keributan. Lalu, SBY sekonyong – konyong muncul dan berkhotbah: “Mari kita dengar suara rakyat. Mereka butuh rasa aman agar dapat bekerja tenang. Dengan pemilu yang aman, dami, dan demokratis masa depan Indonesia akan lebih baik”.
Ajakan simpatik SBY itu disiarkan di 8 stasiun TV sejak akhir februari sampai akhir maret. Iklan yang dibuat rumah produksi cangkir kopi tiu cukup menarik, terlihat wajar, dan peran SBY juga tampak menawan. Selain itu, pesan yang disuarakan juga oke, siapa tak ini damai dan aman? Soalanya adalah, mengapa harus SBY? Sebagai salah seorang calon presiden pada pemilu 2004, mudah muncul tudingan, iklan ini adalah kampanye terselubung untuk meningkatkan popularitasnya. Entah berkaitan atau tidak, memang faktanya popularitas SBY kemudian meguat. Iklan controversial itu terus diberitakan dan dipolemikkan di media massa, SBY menjadi pusat pemberitaan. Selanjutnya, dalam berbagai poling calon presiden, SBY selalu menduduki peringkat pertama. Dapat dimengerti jika popularitas SBY kemudian “membuat kubu Megawati grogi”—kata judul Koran Rakyat Merdeka.
Dan SBY menuai kecaman dari elite politik. Pramono agung, sekjen PDI-P, menuduh SBY kurang etis secara politik dengan menampilkan diri dalm iklan layanan masyarakat. “agak berlebihan, mengingat posisi dias ebgai calon presiden. “Effendy Choiri, dari PKB, bahkan menuding Sby menggunakan fasilitas negara untuk berkampanye. “iklan itu jelas kampanye terselubung. Masih bnayak bintang ikaln lain yang lebih menarik. Kenapa dia (SBY) sendiri yang ahrus menjadi bintang iklan untuk ajakn pemilu damai? Itu pasti punya maksud politik.”
SBY merasa sah – sah saja ketika institusinya, Kementrian Polkam, membuat iklan layanan masyarakat entang pemilu. Iklan itu tidak mengindikasikan keinginanya untuk maju menjadi calon presiden, juga bukan promosi Partai Demokrat—partai yang mengusungnya sebagia capres. Namun menjelang pemilu, siapa tak curiga, iklan semacam itu untuk menaikkan popularitas politik alias “mencuri start”. Dan, nampaknya, SBY adalah “pencuri start” yang lihai. Ia menggunakan posisinya sebagai penanggungjawab soal keamanan untuk mengiklankan diri. Soal mencuri start, siapa politisa yang tidak mencuri start ? Hamzah Haz, Amien Raiz, Wiranto, semuanya mencuri perhatian media. Begitu juga ketika Megawati menyampaikan ucapan “gong xi fa chai”, selamat tahun baru, kepada komunitas keturunan Cian melalui iklan televisi. Yang membedakan SBY dan politisi lainnya, boleh jadi, adalah kecerdikan strateginya mengemas pesan iklannya melalui media massa—secara lebih sistematis.
Sejak 2003 SBY sudah menunjukkan isyarat seorang yang ingin menjadi calon presdien, misalnya rajin berkeliling ke pesantren – pesantren dan mendatangi kyai. Sikap malu – malu kucing SBY, boleh jadi dilandasi sikap tahu diri. Meskipun polpuler, namun dukungan politk saat itu belum kuat.
SBY memang sngat cermat. Sebelum menyebarkan iklan layanan masyarakat “pemilu damai”, ia mneyelenggarakan poling. Dilaksanakan oleh Kantor Kementrian koordinator Politik dan Keamanan, poling ini ingin mendeteksi tanggapan masyarakat terhadap Pemilu dan calon presiden, dikaitkan dengan keamanan. Poling yang dilaksanakan januari 2004 itu juga mengundang kecaman, dinilai sebagai upaya mendongkrak popularitas (saat itu Partai Demokrat telah menyatakan akan mencalonkan SBY sebagai presiden. Namun, SBY dengan tenang membungkam para pengritiknya dengan mengatakan bhawa program poling tersebut sesuai dengan tugasnya sebagai Menko Polkam. Apa yang salah dengan poling pemilu dan iklan pemilu damai ?. tidak ada tentu saja.
Kecermatan SBY kembali diperlihatkan ketika dia mengajukan surat pengunduran diri dari posisi Menko Polkam pada 11 maret. Pengunduran diri tersebut segera memperoleh liputan media secara besar – besaran. SBY curhat ke media massa, merasa presiden telah mengambil wewenangnya sebagai Menko Polkam sehingga ia sulit mengendalikan jajarannya. Dua hari sebelum mengundurkan diri, SBY menyurati Presiden untuk berkonsultasi mengenai posisinya. Sebgai Menko Polkam, dia memohon untuk menghadap untuk mendapat penjelasan langsung. Presiden Megawati tidak menanggapi surat itu, namun menurut Mentri Skertaris Negara, Bambang Kesowo, Menko Polkam tidak ahrus mengirim surat permohonan jika ingin menemui Presiden. Pengunduran diri SBY, dalam liputan media massa, namapak menjadi drama mengaharukan, terkesan SBY menjadi “korban” kecemburuan politik, dikucilkan dari kabinet, diolok- olok “kekanak – kanakan” oleh suami Presiden, Taufik Kiemas. Akibatnya? SBY memanem simpati.
KAMPANYE CALON PRESIDEN ( SBY & JK ).
Beragam strategi kampanye dilakukan oleh partai politik (parpol) dan calon presiden (capres)nuntuk merebut hati pemilih. Berbagai cara dilakukan, dari membagi sembako-kaos, menyebar atribut (spanduk,poster,baliho) dijalan – jalan, dan, tentu saja memasang iklan di media massa. Kampanye calon presiden dan wakil presiden yang berlangsung pada 1 juni – 1 juli 2004, pertama kali dalam sejarah Indonesai, ternyata kurang semarak dibanding kampanye parpol. Meskipun kurang ramai dari segi respon masyarakat, namun dari segi kretivitas dan inovasi kampanye jauh lebih menarik. Dengan sistem pemilihan langsung, stiapa capres mesti berkampanye sebaik mungkin agar memperoleh suara sebanyak mungkin.
Dengan menggandeng JK sebagai calon Presiden masalah dana kampanye bukan lagi masalah yang perlu dikhawatirkan, mengapa? Karena total kekayaan dari pengusaha sukses ini sendiri sudah cukup untuk kampanye Capres & CaWapres. SBY dengan Rp. 4.652.069.796 dan JK dengan Rp 122.654.898.046 plus US $ 14.928 (data 2004 yang diserahkan calon ke KPKPN) bukan hal yang susah jika ingin melakuakan kampanye besar – besaran di media massa.
Sang fenomenal SBY dan kandidat terkaya JK, membuat beberapa iklan kampanye. Yang muncul di TV anatara lain iklan seri “gaul”, “ibu – ibu”, “bapak – bapak”, “opini rakyat”, “lagu Bimbo” dan “bernyanyi bersama”. Iklan versi “opini rakyat” menampilkan hasil wawancara dengan beberapa wawancara kelas bawah yang mendukung SBY - JK. Sedangkan iklan “benyanyi bersama” memeliki kekuatan lagu sebgai daya tarik. Jargon “bersama kita bisa”, yang diususng pasangan ini, dibuat lagu yang dinyanyikan bergantian oleh beberapa orang dan diakhiri suara SBY—walaupun suara SBY tidak terlalu bagus untuk ukuran penyanyi. Kebersamaan dan keanekaragaman sepertinya menjadi tujuan pemilihan angle iklan ini. Hadirnya SBY – JK diharapkan mrnjadi pemersatu dan harapan masa depan.
SBY dengan kemampuan artikulasinya dengan kesantunanya telah “mempesona” media massa, konon, ibu – ibu rumah tangga. Bahkan bagi media massa, SBY benar – benar menjadi “fenomena”. Sebagai pendatang baru SBY dan Partai Demokrat, menjadi fenomena dengan meraih suara 8.455.225, atau 7,45 %, menggaet 57 kursi. SBY juga cerdas memainkan peran media massa dan terlebih lagi kekuasaan yang di dapat dari jumlah kekayaan, pantas saja jika “fenomena SBY” di pemilu 2004 benar – benar menjadi senjata yang akhirnya memenangkan SBY & JK menjadi presiden RI. Bagaimana di pemilu 2009 ? kita tunggu saja.
Kancah politik di Indonesia telah memasuki babak baru. Untuk kedua kalinya rakyat memilih langsung presiden dan wakil presiden, juga memilih wakil rakyat (DPR) dan wakil daerah (DPD) memlalui sistem pemilu proporsional terbuka. Setelah gerakan reformasi 1998, sistem demokrasi pelan – pelan—namun belum pasti—mulai diterima sebagai proses yang diyakini bisa membawa perbaikan di negeri ini.
Demokrasi, dengan segala kerumitannya dan kerewelannya, terbukti mampu membuka aspirasi dan menyumbang aspirasi dan motivasi bagi keterlibtan aktif public pada politik. Selain itu, demokrasi juga member inspirasi dan mendorong inovasi bagi actor – actor politik untuk berupaya melakukan “segala cara” untuk memikat minat masyarakat utnuk terlibat. Rakyat Indonesia yang pada 4 dekade terakhir, terbiasa diasingkan dari proses politik, kini untuk pertama kali menjadi primadona. Suara rakyat tiba – tiba menjadi suara Tuhan (vox populi vox dei) bagi politisi. Dari beberapa pemilu terakhir, rakyat juga mengalami bahwa proses kompetisi politik tidak harus berarti anarkhi atau sekedar ritual manipulasi elit.
Pemilu kemudian menjadi proses yang asik untuk dinikmati. Di warung – warung, di gardu ronda, di kantin – kantin, di café – café, di hotel- hotel, pemilu menjadi topic obrolan dan diskusi. Setiap orang tiba – tiba menjadi “pengamat politik”, merasa paling tahu peta politik parpol dan capres, mampu meramal partai apa bakal menang ? siapa capres yang kalah ?. sebagai contoh, minat public memperdebatkan pemilu presiden 2004 setara dengan penggemar bola membincangkan kejuaraan Piala Eropa 2004.
Semua itu terjadi karena Media. Ekspose tentang pemilu dan Piala Eropa sama hebohnya di pemberitaan media massa. Melalui gelombang radio, dihalaman Koran, dan dilayar televise, media massa mengajak masyarakat terlibat. Media massa bahkan mendedikasikan sejumalah besar halaman (Koran) dan jam siaran (radio,TV) untuk “membawa” khalayak menikmati proses pemilu secara “lebih dekat lebih nyata”.
Keajaiban lainnya, media sanggup memepenagruhi,mengubah, bahkan memanipulasi. Para politisi bekerja keras memeperbaiki citra menjadi ramah, penuh perhatian, dekat dengan rakyat cilik demi dan untuk media.Dalam pebahasan berikutnya, akan dibahas mengenai bagaimana imej politik seseorang bisa terbentuk atau dibentuk. Politisi yang berusaha memoles dan memperindah diri untuk konsumsi media, dan selanjutnya media “menjejalkanya” kedalam pikiran kolektif public.
POLITIK SIMULAKRA.
Politik di era media massa adalah soal membuat citra. Melalui layar kaca, siaran radio, dan halaman Koran, citra bisa dibentuk dan dijejalkan dalm pikiran kolektif public. Dan citra itu bisa dibuat lebih dahsyat ketimbang ciri – ciri actual dan kondisi real. Realitas masa kini adalah realitas media, sering juga disebut sebagai simulacra, merujuk pada realitas budaya yang dikemas atau disampaikan oleh media. Simulacra, menurut Jean Baudrillard, filsuf postmodern penggagas istilah itu, adalah kemasan dari sesuatu yang tidak lagi memeiliki keaslian. Didalam media massa, beda antara yang nyata (real) dan merepresentasikan (kemasan) telah lebur dan kabur. Yang tersisa hanyalah simulacra, sesuatu yang “lebih nyata ketimbang kenyataan”.
Di era informasi ini media massa begitu berkuasa dalm menyebarkan pesan, symbol, dan nilai – nilai kepada public. Kini, relaitas adalah fakta dan peristiwa yang ditetukan oleh cara pemberitaan media massa. Misalnya, kampanye yang dihadiri 1000 orang akan lebih efektif jika diliput oleh Koran yang dibaca oleh 5 juta orang atau disiarkan stasiun TV yang ditonton 50 juta orang pemirsa. Sebaliknya, kempanye yang dihadiri 100.00 orang akan tetap terbatas pengaruhnya jika sepi dari liputan media. Orasi yang bagus dari juru kampanye tidak ada artinya tanpa ekspose media.
Tanpa media politisi tak berdaya. Itu sebabnya politisi selalu berupaya menguasai media, dengan persuasive atau otoritatif. Melalui media politisi ingin memastikan bahwa citranya terekspose sesuai yang mereka inginkan. Dalam iklan di TV mereka ramah, bersahabat, murah senyum, dekat dengan rakyat. Mereka melakukan ini didepan sorotan kamera televise dan kamera wartawan. Apakah mereka bersedia melakukan semua “aksi merakyat” itu tanpa kehadiran media dan wartawan?.
FENOMENA SBY
Kibasan media nampaknya bukan hanya membantu memenangkan partai Golkar, namun mungkin juga bisa menjelaskan “fenomena SBY”. Bahkan, karier politik mantan Mneko Polkam ini agaknya kuat dipengaruhi oleh kontroversi yang muncul dari produk media massa: sebuah iklan layanan masyarakat. Iklan itu menggambarkan sekelompok orang sedang ngobrol diwarung kopi kaki lima mengkhawatirkan pemilu pemilu 5 april 2004 yang berpotensi kacau. “capek, ribut melulu, kapan bisa aman dan kerja tenang” ujar salah seorang dalam kerumunan itu. Mereka khawaitr pemilu bakal menjadi biang kerusuhan dan keributan. Lalu, SBY sekonyong – konyong muncul dan berkhotbah: “Mari kita dengar suara rakyat. Mereka butuh rasa aman agar dapat bekerja tenang. Dengan pemilu yang aman, dami, dan demokratis masa depan Indonesia akan lebih baik”.
Ajakan simpatik SBY itu disiarkan di 8 stasiun TV sejak akhir februari sampai akhir maret. Iklan yang dibuat rumah produksi cangkir kopi tiu cukup menarik, terlihat wajar, dan peran SBY juga tampak menawan. Selain itu, pesan yang disuarakan juga oke, siapa tak ini damai dan aman? Soalanya adalah, mengapa harus SBY? Sebagai salah seorang calon presiden pada pemilu 2004, mudah muncul tudingan, iklan ini adalah kampanye terselubung untuk meningkatkan popularitasnya. Entah berkaitan atau tidak, memang faktanya popularitas SBY kemudian meguat. Iklan controversial itu terus diberitakan dan dipolemikkan di media massa, SBY menjadi pusat pemberitaan. Selanjutnya, dalam berbagai poling calon presiden, SBY selalu menduduki peringkat pertama. Dapat dimengerti jika popularitas SBY kemudian “membuat kubu Megawati grogi”—kata judul Koran Rakyat Merdeka.
Dan SBY menuai kecaman dari elite politik. Pramono agung, sekjen PDI-P, menuduh SBY kurang etis secara politik dengan menampilkan diri dalm iklan layanan masyarakat. “agak berlebihan, mengingat posisi dias ebgai calon presiden. “Effendy Choiri, dari PKB, bahkan menuding Sby menggunakan fasilitas negara untuk berkampanye. “iklan itu jelas kampanye terselubung. Masih bnayak bintang ikaln lain yang lebih menarik. Kenapa dia (SBY) sendiri yang ahrus menjadi bintang iklan untuk ajakn pemilu damai? Itu pasti punya maksud politik.”
SBY merasa sah – sah saja ketika institusinya, Kementrian Polkam, membuat iklan layanan masyarakat entang pemilu. Iklan itu tidak mengindikasikan keinginanya untuk maju menjadi calon presiden, juga bukan promosi Partai Demokrat—partai yang mengusungnya sebagia capres. Namun menjelang pemilu, siapa tak curiga, iklan semacam itu untuk menaikkan popularitas politik alias “mencuri start”. Dan, nampaknya, SBY adalah “pencuri start” yang lihai. Ia menggunakan posisinya sebagai penanggungjawab soal keamanan untuk mengiklankan diri. Soal mencuri start, siapa politisa yang tidak mencuri start ? Hamzah Haz, Amien Raiz, Wiranto, semuanya mencuri perhatian media. Begitu juga ketika Megawati menyampaikan ucapan “gong xi fa chai”, selamat tahun baru, kepada komunitas keturunan Cian melalui iklan televisi. Yang membedakan SBY dan politisi lainnya, boleh jadi, adalah kecerdikan strateginya mengemas pesan iklannya melalui media massa—secara lebih sistematis.
Sejak 2003 SBY sudah menunjukkan isyarat seorang yang ingin menjadi calon presdien, misalnya rajin berkeliling ke pesantren – pesantren dan mendatangi kyai. Sikap malu – malu kucing SBY, boleh jadi dilandasi sikap tahu diri. Meskipun polpuler, namun dukungan politk saat itu belum kuat.
SBY memang sngat cermat. Sebelum menyebarkan iklan layanan masyarakat “pemilu damai”, ia mneyelenggarakan poling. Dilaksanakan oleh Kantor Kementrian koordinator Politik dan Keamanan, poling ini ingin mendeteksi tanggapan masyarakat terhadap Pemilu dan calon presiden, dikaitkan dengan keamanan. Poling yang dilaksanakan januari 2004 itu juga mengundang kecaman, dinilai sebagai upaya mendongkrak popularitas (saat itu Partai Demokrat telah menyatakan akan mencalonkan SBY sebagai presiden. Namun, SBY dengan tenang membungkam para pengritiknya dengan mengatakan bhawa program poling tersebut sesuai dengan tugasnya sebagai Menko Polkam. Apa yang salah dengan poling pemilu dan iklan pemilu damai ?. tidak ada tentu saja.
Kecermatan SBY kembali diperlihatkan ketika dia mengajukan surat pengunduran diri dari posisi Menko Polkam pada 11 maret. Pengunduran diri tersebut segera memperoleh liputan media secara besar – besaran. SBY curhat ke media massa, merasa presiden telah mengambil wewenangnya sebagai Menko Polkam sehingga ia sulit mengendalikan jajarannya. Dua hari sebelum mengundurkan diri, SBY menyurati Presiden untuk berkonsultasi mengenai posisinya. Sebgai Menko Polkam, dia memohon untuk menghadap untuk mendapat penjelasan langsung. Presiden Megawati tidak menanggapi surat itu, namun menurut Mentri Skertaris Negara, Bambang Kesowo, Menko Polkam tidak ahrus mengirim surat permohonan jika ingin menemui Presiden. Pengunduran diri SBY, dalam liputan media massa, namapak menjadi drama mengaharukan, terkesan SBY menjadi “korban” kecemburuan politik, dikucilkan dari kabinet, diolok- olok “kekanak – kanakan” oleh suami Presiden, Taufik Kiemas. Akibatnya? SBY memanem simpati.
KAMPANYE CALON PRESIDEN ( SBY & JK ).
Beragam strategi kampanye dilakukan oleh partai politik (parpol) dan calon presiden (capres)nuntuk merebut hati pemilih. Berbagai cara dilakukan, dari membagi sembako-kaos, menyebar atribut (spanduk,poster,baliho) dijalan – jalan, dan, tentu saja memasang iklan di media massa. Kampanye calon presiden dan wakil presiden yang berlangsung pada 1 juni – 1 juli 2004, pertama kali dalam sejarah Indonesai, ternyata kurang semarak dibanding kampanye parpol. Meskipun kurang ramai dari segi respon masyarakat, namun dari segi kretivitas dan inovasi kampanye jauh lebih menarik. Dengan sistem pemilihan langsung, stiapa capres mesti berkampanye sebaik mungkin agar memperoleh suara sebanyak mungkin.
Dengan menggandeng JK sebagai calon Presiden masalah dana kampanye bukan lagi masalah yang perlu dikhawatirkan, mengapa? Karena total kekayaan dari pengusaha sukses ini sendiri sudah cukup untuk kampanye Capres & CaWapres. SBY dengan Rp. 4.652.069.796 dan JK dengan Rp 122.654.898.046 plus US $ 14.928 (data 2004 yang diserahkan calon ke KPKPN) bukan hal yang susah jika ingin melakuakan kampanye besar – besaran di media massa.
Sang fenomenal SBY dan kandidat terkaya JK, membuat beberapa iklan kampanye. Yang muncul di TV anatara lain iklan seri “gaul”, “ibu – ibu”, “bapak – bapak”, “opini rakyat”, “lagu Bimbo” dan “bernyanyi bersama”. Iklan versi “opini rakyat” menampilkan hasil wawancara dengan beberapa wawancara kelas bawah yang mendukung SBY - JK. Sedangkan iklan “benyanyi bersama” memeliki kekuatan lagu sebgai daya tarik. Jargon “bersama kita bisa”, yang diususng pasangan ini, dibuat lagu yang dinyanyikan bergantian oleh beberapa orang dan diakhiri suara SBY—walaupun suara SBY tidak terlalu bagus untuk ukuran penyanyi. Kebersamaan dan keanekaragaman sepertinya menjadi tujuan pemilihan angle iklan ini. Hadirnya SBY – JK diharapkan mrnjadi pemersatu dan harapan masa depan.
SBY dengan kemampuan artikulasinya dengan kesantunanya telah “mempesona” media massa, konon, ibu – ibu rumah tangga. Bahkan bagi media massa, SBY benar – benar menjadi “fenomena”. Sebagai pendatang baru SBY dan Partai Demokrat, menjadi fenomena dengan meraih suara 8.455.225, atau 7,45 %, menggaet 57 kursi. SBY juga cerdas memainkan peran media massa dan terlebih lagi kekuasaan yang di dapat dari jumlah kekayaan, pantas saja jika “fenomena SBY” di pemilu 2004 benar – benar menjadi senjata yang akhirnya memenangkan SBY & JK menjadi presiden RI. Bagaimana di pemilu 2009 ? kita tunggu saja.
Agenda Setting - Dalam representasi Media Massa
"Soal anak kita harus serius melindungi anak. Apapun itu harus terus dilakukan," kata JK dalam jumpa pers usai salah Jumat di Istana Wapres, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Jumat (24/10/2008). Menurut JK, bila terjadi eksploitasi terhadap anak sudah seharusnya dilaporkan ke polisi. "Begitulah hukum berjalan," tegas JK. Kasus eksploitasi anak menyentak kembali terkait pernikahan sensasional kiai kaya raya asal semarang Pujiono Cahyo Widiono alias Syekh Puji dengan Lutfiana Ulfa yang baru berumur 12 tahun. Setelah dinikahi Ulfa dijadikan general manager (GM) perusahaan Pujiono. Pernikahan siri itu dinilai melanggar tiga UU yaitu UU Perkawinan, UU Perlindungan Anak dan UU Tenaga Kerja. (detik.com 24 – 10 – 2008)
Kutipan berita diatas tentu masih lekang dalam ingatan kita tentang pernikahan seorang Pengusaha kaligrafi dan kuningan, Pujiono Cahyo Widianto yang menikahi seorang gadis berumur 12 tahun bernama Lutfiana Ulfa. Fenomena ini begitu menyita perhatian berbagai lapisan masyarakat. Banyak media yang memberitakan fenomena ini dengan durasi yang cukup banyak. Sorotan media massa, mulai media cetak dan media elektronik sungguh menyuguhkan bukan hanya tentang permasalahn pernikahan terlarang ini sampai hal – hal yang terkait dengan dua “pemeran utama” pernikahan terlarang tersebut. Bandingkan dengan berita Seorang guru di Tapanuli Tengah, Sumatera Utara (Sumut), memaksa murid perempuannya melakukan oral seks. Tindakan tidak terpuji itu sudah beberapa kali dilakukan sang guru. Seluruhnya dilakukan di depan kelas dan disaksikan seisi kelas. Mungkin banyak dari kita yang tidak tahu mengenai hal ini, padahal fenomena ini juga menyangkut tentang perlindungan anak dibawah umur.
Apa yang membuat dua fenomena tentang anak dibawah umur ini menjadi “timpang” dalam pemberitaan media massa ? adakah kriteria khusus mengenai menjual atau tidak sebuah berita di media massa ?. Hal ini menarik perhatian saya untuk mencoba mengamati dua fenomena yang terjadi dimasyarakat dan sangkut pautnya dengan peran media massa. Ada beberapa hal yang patut untuk dibandingkan dan didiskusikan mengenai fenomena tersebut. Pernikahan terlarang antar Syekh Puji dengan Lutfiana Ulfa menjadi suatu hal yang sangat menghebohkan, media secara sporadis mencoba memberitakan fenomena ini dengan segala hal yang terkait didalamnya. Sampai – sampai ketua komisi perlindungan anak, Kak Seto, turun tangan untuk membantu menyelesaikan masalah ini. Begitu besar peran media massa dalam menginformasikan dan mempublikasikan masalah ini sehingga menjadi “masalah nasional” yang ditunggu perkembangannya oleh masyrakat luas. Kita coba perhatikan masalah seorang guru di Tapanuli Tengah, Sumut, memaksa muridnya melakukan oral seks. Kalau tidak salah hanya satu kali media (TV) memberitakan masalah ini. Selain itu, tidak pernah terdengar kabar bahwa dengan adanya kejadian ini Kak Seto selaku ketua Komnas perlindungan anak akan datang, dan turun tangan sendiri untuk membantu atau paling tidak memberli perlindungan pada korban. Sedanglan fenomena pernikahan terlarang bukan suatu hal yang pertama kali terjadi. Dibeberapa bagian di pulau Jawa, pernikahan dini sering sekali terjadi. Dengan alasan ekonomi dan lain sebgainya pernikahan dini menjadi salah satu penyelesaian masalah yang bisa dilakukan oleh sebagian masyarakat Indonesia. Namun dalam kasus Syekh Puji dan Ulfa seakan – akan hal ini menjadi agenda yang paling penting, melampaui isu krisis global yang juga sedang terjadi.
Dua fenomena ini bisa dikaitkan dengan teori Agenda Setting, teori ini berbicara mengenai membentuk persepsi khalayak tentang apa yang dianggap penting. Dengan tekhnik pemilihan dan penonjolan, media memberikan test case tentang isu apa yang lebih penting (Betty – Soemirat, dalam Karlinah, dkk. 1999). Dasar pemikirannya adalah diantara berbagi topik yang dimuat dimedia massa, topik yang banyak mendapat perhatian dari media massa akan menjadi lebih akrab bagi konsumennya, akan dianggap penting dalam periode tertentu, sebaliknya bagi topik yang kurang mendapat perhatian media massa. Oleh karena itu, teori agenda setting menekankan adanya hubungan positif antara penilaian yang diberikan media pada suatu persoalan dengan perhatian yang diberikan khalayak pada persoalan tersebut. Dengan kata lain yang dianggap penting oleh media, akan dianggap penting oleh khalyak tersebut. Apa yang dilupakan oleh media, akan luput juga dari perhatian media.
Dalam pembahasan mengenai dua isu diatas, jelas sekali bahwa fenomena pernikahan dini Syekh Puji dan Ulfa mendapat prioritas yang lebih dari pada mengenai pelecehan yang dilakukan seorang guru pada muridnya yang telah berlangsung satu tahun. Khalayak dibawa untuk teru memberikan perhatiannya pada apa yang terjadi pada Syekh Puji dan Ulfa. Dan sebaliknya, minimnya pemberitaan tentang pelecehan anak ini menjadikan khalayak kurang mengerti mengenai hal ini. Padahal dua hal ini sama pentingnya untuk dibahas. Selain itu, disini jelas sekali degambarkan bagaimana kekuatan media untuk membangun persepsi mengenai suatu isu yang dipaparkan. Agenda setting telah menjadikan agenda media sebagai agenda publik, bukan sebaliknya, yang seharusnya terjadi.
Kutipan berita diatas tentu masih lekang dalam ingatan kita tentang pernikahan seorang Pengusaha kaligrafi dan kuningan, Pujiono Cahyo Widianto yang menikahi seorang gadis berumur 12 tahun bernama Lutfiana Ulfa. Fenomena ini begitu menyita perhatian berbagai lapisan masyarakat. Banyak media yang memberitakan fenomena ini dengan durasi yang cukup banyak. Sorotan media massa, mulai media cetak dan media elektronik sungguh menyuguhkan bukan hanya tentang permasalahn pernikahan terlarang ini sampai hal – hal yang terkait dengan dua “pemeran utama” pernikahan terlarang tersebut. Bandingkan dengan berita Seorang guru di Tapanuli Tengah, Sumatera Utara (Sumut), memaksa murid perempuannya melakukan oral seks. Tindakan tidak terpuji itu sudah beberapa kali dilakukan sang guru. Seluruhnya dilakukan di depan kelas dan disaksikan seisi kelas. Mungkin banyak dari kita yang tidak tahu mengenai hal ini, padahal fenomena ini juga menyangkut tentang perlindungan anak dibawah umur.
Apa yang membuat dua fenomena tentang anak dibawah umur ini menjadi “timpang” dalam pemberitaan media massa ? adakah kriteria khusus mengenai menjual atau tidak sebuah berita di media massa ?. Hal ini menarik perhatian saya untuk mencoba mengamati dua fenomena yang terjadi dimasyarakat dan sangkut pautnya dengan peran media massa. Ada beberapa hal yang patut untuk dibandingkan dan didiskusikan mengenai fenomena tersebut. Pernikahan terlarang antar Syekh Puji dengan Lutfiana Ulfa menjadi suatu hal yang sangat menghebohkan, media secara sporadis mencoba memberitakan fenomena ini dengan segala hal yang terkait didalamnya. Sampai – sampai ketua komisi perlindungan anak, Kak Seto, turun tangan untuk membantu menyelesaikan masalah ini. Begitu besar peran media massa dalam menginformasikan dan mempublikasikan masalah ini sehingga menjadi “masalah nasional” yang ditunggu perkembangannya oleh masyrakat luas. Kita coba perhatikan masalah seorang guru di Tapanuli Tengah, Sumut, memaksa muridnya melakukan oral seks. Kalau tidak salah hanya satu kali media (TV) memberitakan masalah ini. Selain itu, tidak pernah terdengar kabar bahwa dengan adanya kejadian ini Kak Seto selaku ketua Komnas perlindungan anak akan datang, dan turun tangan sendiri untuk membantu atau paling tidak memberli perlindungan pada korban. Sedanglan fenomena pernikahan terlarang bukan suatu hal yang pertama kali terjadi. Dibeberapa bagian di pulau Jawa, pernikahan dini sering sekali terjadi. Dengan alasan ekonomi dan lain sebgainya pernikahan dini menjadi salah satu penyelesaian masalah yang bisa dilakukan oleh sebagian masyarakat Indonesia. Namun dalam kasus Syekh Puji dan Ulfa seakan – akan hal ini menjadi agenda yang paling penting, melampaui isu krisis global yang juga sedang terjadi.
Dua fenomena ini bisa dikaitkan dengan teori Agenda Setting, teori ini berbicara mengenai membentuk persepsi khalayak tentang apa yang dianggap penting. Dengan tekhnik pemilihan dan penonjolan, media memberikan test case tentang isu apa yang lebih penting (Betty – Soemirat, dalam Karlinah, dkk. 1999). Dasar pemikirannya adalah diantara berbagi topik yang dimuat dimedia massa, topik yang banyak mendapat perhatian dari media massa akan menjadi lebih akrab bagi konsumennya, akan dianggap penting dalam periode tertentu, sebaliknya bagi topik yang kurang mendapat perhatian media massa. Oleh karena itu, teori agenda setting menekankan adanya hubungan positif antara penilaian yang diberikan media pada suatu persoalan dengan perhatian yang diberikan khalayak pada persoalan tersebut. Dengan kata lain yang dianggap penting oleh media, akan dianggap penting oleh khalyak tersebut. Apa yang dilupakan oleh media, akan luput juga dari perhatian media.
Dalam pembahasan mengenai dua isu diatas, jelas sekali bahwa fenomena pernikahan dini Syekh Puji dan Ulfa mendapat prioritas yang lebih dari pada mengenai pelecehan yang dilakukan seorang guru pada muridnya yang telah berlangsung satu tahun. Khalayak dibawa untuk teru memberikan perhatiannya pada apa yang terjadi pada Syekh Puji dan Ulfa. Dan sebaliknya, minimnya pemberitaan tentang pelecehan anak ini menjadikan khalayak kurang mengerti mengenai hal ini. Padahal dua hal ini sama pentingnya untuk dibahas. Selain itu, disini jelas sekali degambarkan bagaimana kekuatan media untuk membangun persepsi mengenai suatu isu yang dipaparkan. Agenda setting telah menjadikan agenda media sebagai agenda publik, bukan sebaliknya, yang seharusnya terjadi.
MEGENALI KONSEP DIRI DAN PENGARUHNYA PADA SUATU HUBUNGAN
PENDAHULUAN
Komunikasi antar pribadi merupakan aspek yang sangat penting dalam teori komunikasi, oleh sebab itu perlu diadakan studi lebih lanjut tentang cara yang terbaik untuk memanfaatkannya, penulis mencoba menganalisa salah satu teori tentang konsep diri, yang berkaitan dengan komunikasi antar pribadi untuk menciptakan komunikasi serta hubungan yang lebih baik.
Konsep diri merupakan Faktor yang sangat penting dan menentukan dalam komunikasi antar pribadi. Kunci keberhasilan hidup adalah konsep diri positif. Konsep diri memainkan peran yang sangat besar dalam menentukan keberhasilan hidup seseorang, karena konsep diri dapat dianalogikan sebagai suatu operating system yang menjalankan suatu komputer. Terlepas dari sebaik apapun perangkat keras komputer dan program yang di-install, apabila sistem operasinya tidak baik dan banyak kesalahan maka komputer tidak dapat bekerja dengan maksimal. Hal yang sama berlaku bagi manusia.
Konsep diri adalah sistem operasi yang menjalankan komputer mental, yang mempengaruhi kemampuan berpikir seseorang. Konsep diri ini setelah ter-install akan masuk di pikiran bawah sadar dan mempunyai bobot pengaruh sebesar 88% terhadap level kesadaran seseorang dalam suatu saat. Semakin baik konsep diri maka akan semakin mudah seseorang untuk berhasil. Demikian pula sebaliknya.
Kita dapat melihat konsep diri seseorang dari sikap mereka. Konsep diri yang negative akan mengakibatkan rasa tidak percaya diri, tidak berani mencoba hal-hal baru, tidak berani mencoba hal yang menantang, takut gagal, takut sukses, merasa diri bodoh, rendah diri, merasa diri tidak berharga, merasa tidak layak untuk sukses, pesimis, dan masih banyak perilaku inferior lainnya. Sebaliknya orang yang konsep dirinya baik akan selalu optimis, berani mencoba hal-hal baru, berani sukses, berani gagal, percaya diri, antusias, merasa diri berharga, berani menetapkan tujuan hidup, bersikap dan berpikir positip, dan dapat menjadi seorang pemimpin yang handal.
PEMBAHASAN
Tentang Konsep Diri
Menurut John Robert Powers (1977), konsep diri adalah ‘kesadaran dan pemahaman terhadap dirinya sendiri yang meliputi ; siapa aku, apa kemampuanku, apa kekuranganku, apa kelebihanku, apa perananku, dan apa keinginanku’ Konsep diri menjadi dasar perilaku hidup sehari-hari yang disadari. Kesadaran dan pemahaman akan dirinya semakin mencerminkan prinsip hidup dan kehidupannya.
Ismail (2001), menjelaskan bahwa konsep diri merupakan faktor yang sangat menentukan dalam hubungan interpersonal, karena setiap orang akan bertingkah laku sesuai dengan konsep dirinya. Artinya bahwa bila konsep diri seseorang positif, maka individu akan cenderung mengembangkan sikap-sikap postitif mengenai dirinya sendiri, seperti rasa percaya diri yang baik serta kemampuan untuk melihat dan menilai diri sendiri secara positif. Inividu dengan konsep diri positif cenderung akan dapat menimbulkan tingkah laku penyesuaian yang baik dengan lingkungan sosial. Sebaliknya bila seseorang memiliki konsep diri yang negatif, maka individu tersebut cenderung akan mengembangkan perasaan tidak mampu dan rendah diri, merasa ragu, dan kurang percaya diri. Individu dengan konsep diri yang negatif akan mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri dengan lingkungan sosial.
Konsep Diri Positif dan Negatif
Brooks dan Emmert (dalam Rahmat, 1996), mengungkapkan bahwa terdapat perbedaan karakteristik seseorang dengan konsep diri positif dan seseorang dengan konsep diri negatif. Perbedaan tersebut dapat ditunjukkan melalui beberapa indikator dari: A. Orang dengan konsep diri positif, dapat dilihat jika mereka : (1) Yakin akan kemampuan dalam mengatasi masalah; (2) Merasa setara atau sederajat dengan orang lain; (3) Menerima pujian tanpa rasa malu; (4) Menyadari bahwa setiap orang memilki berbagai perasaan, keinginan, dan perilaku yang tidak seluruhnya dapat diterima oleh masyarakat; (5) Memiliki kemampuan untuk memperbaiki diri sendiri; (6) Memiliki kesanggupan dalam mengungkapkan aspek yang tidak disenangi dan berusaha untuk merubahnya. B.Orang dengan konsep diri negatif, dapat dilihat jika mereka : (1) Peka terhadap kritik, namun dipersepsi sebagai upaya orang lain untuk menjatuhkan harga dirinya; (2) Cenderung menghindari dialog yang terbuka; (3) Selalu mempertahankan pendapat dengan berbagai logika yang keliru; (4) Sangat respek terhadap berbagai pujian yang ditujukan pada dirinya dan segala atribut atau embel-embel yang menunjang harga dirinya menjadi pusat perhatiannya; (5) Memiliki kecenderungan bersikap hiperkritis terhadap orang lain; (6) Jarang bahkan tidak pernah mengungkapkan penghargaan atau pengakuan terhadap kelebihan orang lain; (7) Memiliki perasaan mudah marah, cenderung mengeluh dan meremehkan orang lain; (8) Merasa tidak disenangi dan tidak diperhatikan oleh orang banyak, karena itulah cenderung bereaksi untuk menciptakan permusuhan; (9) Tidak mau menyalahkan diri sendiri namun selalu memandang dirinya sebagai korban dari sistem sosial yang tidak benar; (10) Pesimis terhadap segala yang bersifat kompetitif, enggan bersaing dan berprestasi, serta tidak berdaya melawan persaingan yang merugikan dirinya.
Berdasarkan pandangan di atas, dapat disimpulkan bahwa individu dengan konsep diri positif, cenderung mengembangkan sikap-sikap postitif mengenai dirinya sendiri, dan sebaliknya inividu dengan konsep diri negatif, maka individu tersebut cenderung akan mengembangkan nilai-nilai atau pandangan yang negatif tentang segala kondisi atau sistem sosial yang ada. Konsep diri yang dimiliki oleh seseorang, baik poistif maupun negatif akan mempengaruhi cara penilaian individu tersebut mengenai dirinya dan lingkungan karena itu akan sangat mempengaruhi perilakunya. Individu akan cenderung bertingkah laku sesuai dengan konsep diri yang dimilikinya yang juga akan berpengaruh pada hubungan di banyak aspek yang dijalani.
Mengapa Konsep Diri Diperlukan
Setiap orang perlu mengetahui dan memahami dirinya serta mampu menumbuhkan dan mengembangkan kemampuannya. Setelah seseorang mengetahui dirinya, maka terbentuklah sikap dan perilaku dalam menentukan arah dan prinsip hidup yang diinginkan. Seseorang yang mempunyai konsep diri, dapat menilai dirinya dalam menjalankan peranan hidup berkeluarga atau dalam masyarakat tanpa merasa lebih atau kurang terhadap kemampuan dan bersikap kepada orang lain. Perilaku seseorang dalam kehidupan bermasyarakat merupakan faktor yang menentukan, dengan demikian ‘konsep diri’ seseorang bukan suatu yang langsung jadi, melainkan diperoleh dan dibentuk melalui pendidikan, pengalaman serta pengaruh lingkungan.
Konsep Diri Punya Pengaruh
Sejauh manakah konsep-diri ini berpengaruh bagi kemajuan seseorang? Pertama, konsep-diri berhubungan dengan kualitas hubungan intrapersonal (diri sendiri). Konsep-diri positif akan memproduksi kualitas hubungan dengan diri sendiri yang positif. Ini misalnya harmonis dengan diri sendiri, mengetahui kelebihan dan kelemahan secara lebih akurat, atau punya penilaian positif terhadap diri sendiri. Hubungan yang harmonis akan menciptakan kebahagiaan diri (perasaan positif terhadap diri sendiri). Perasaan positif mendorong kita untuk melakukan hal-hal positif. Seringkali kita tidak bisa melakukan sesuatu dengan baik karena kita menyimpan perasaan yang tidak baik. Kalau kita sedang merasa berantakan, biasanya pekerjaan kita berantakan juga. Kedua, konsep diri terkait dengan kualitas hubungan dengan orang lain. Orang yang hubunganya harmonis dengan dirinya akan menghasilkan hubungan yang harmonis dengan orang lain. Sebaliknya, orang yang di dalam dirinya ada perang, akan mudah memproduksi peperangan juga di luar.Berbagai study di bidang kesehatan mental mengungkap bahwa orang yang sedang mengalami stres atau depresi kurang bisa menjalin hubungan harmonis dengan orang lain. Biasanya, hubungan mereka diwarnai dengan semangat permusuhan, konflik atau minimalnya gampang patah.
Konsep-diri juga terkait dengan isi pikiran saat berhubungan dengan orang lain atau sering disebut dengan istilah filsafat hidup. Ada orang yang punya filsafat hidup memberi, ingin berbagi, ingin bekerjasama, ingin meminta (diberi), ingin mengambil, dan lain-lain. Konsep-diri yang lemah akan mendorong kita untuk meminta. Ini misalnya saja: apa yang bisa diberikan kepada saya, apa yang bisa saya "manfaatkan", apa yang bisa saya ambil, dan lain-lain. Sebaliknya, konsep-diri yang kuat akan mendorong kita untuk berpikir, misalnya saja: Apa yang bisa saya berikan, apa yang bisa saya kerjasamakan, apa yang bisa saya sinergikan, apa yang bisa saya bantu, dan lain-lain. Kalau bicara keharmonisan hubungan jangka panjang, konsep mental yang paling menjanjikan adalah konsep mental yang kuat: saling memberi, saling berbagi, saling bersinergi, dan semisalnya.
Ketiga, konsep diri terkait dengan kualitas seseorang dalam menghadapi perubahan keadaan. Perubahan itu bisa dipahami sebagai tekanan atau tantangan. Ini tergantung pada bagaimana kita punya persepsi diri. Tantangan adalah kesempatan untuk membuktikan kemampuan, kebolehan, atau kehebatan kita. Konsep-diri yang bagus akan memproduksi kepercayaan yang bagus (pede). Orang yang pede akan cenderung melihat perubahan sebagai tantangan untuk dihadapi, tantangan untuk diselesaikan, tantangan untuk dilompati. Karena itu, seperti kata Mohammad Ali, yang membuat orang lari dari masalah itu adalah kepercayaan-diri yang rendah.
Penerapan konsep diri dalam kehidupan sehari-hari :
Dalam bermasyarakat kita menghadapi berbagai sikap dan perilaku yang berbeda-beda. Penerapan konsep diri tergantung kepada dirinya sendiri, antara lain :
1) Dapat menyadari kelemahan dan kekurangannya
2) Pandai mengendalikan diri
3) Tenggang rasa
4) Berusaha jujur terhadap diri sendiri serta menyadari peranannya
Contoh :
a. Mengambil keputusan tanpa mempelajari dan mempertimbangkan kenyataan yang sesungguhnya akan berakibat keputusan yang diambil kurang tepat. Dengan kata lain orang yang mempunyai konsep diri positif akan mengambil keputusan tanpa emosional.
b. Orang yang mempunyai sifat ‘mau menang sendiri’ (egois) tidak mau merubah diri untuk tidak egois. Orang tersebut tidak mampu merubah dirinya atau merubah konsep dirinya yang negatif.
Jadi konsep diri terbentuk melalui proses dimana seseorang telah dapat menemukan jati diri, mengetahui kekuatan dan kelemahan dirinya. Kemudian mampu menerima dirinya sebagai suatu kenyataan. Dengan kesadaran dan penerimaan ini seseorang mampu memperbaiki kekurangan sehingga mempunyai konsep diri yang positif. Untuk mendukung konsep diri tersebut, seseorang perlu memiliki sikap percaya diri. Sikap percaya diri merupakan sikap seseorang yang memiliki keyakinan teguh akan tindakannya, mampu menyatakan perasaan dan pendapatnya tanpa menyakiti perasaan diri sendiri dan perasaan orang lain.
Seseorang yang bersikap percaya diri mengakui dua hal, yaitu ; (1) dirinya mempunyai hak dan perasaan, (2) orang lain juga mempunyai hak dan perasaan. Menyadari kedua hal tersebut, seseorang tidak boleh menyakiti perasaan orang lain atau melanggar hak orang lain. Sifat percaya diri mudah dikatakan namun sulitdilaksanakan karena umumnya individu kurang yakin pada dirinya masing-masing. Sikap tersebut sudah berakar sehingga membutuhkan waktu dan tekad untuk merubahnya. Kita harus berani menyatakan perasaan dan pendapat sepanjang tidak menyakiti orang lain. Pendapat mungkin salah, namun lebih baik dikemukakan untuk kemudian dibicarakan dan diperbaiki. Seseorang yang memiliki percaya diri : lebih baik bertindak meskipun kemungkinan salah yang kemudian diselesaikan, daripada diam menerimanya dengan bersungut-sungut di belakang (ngomel)
TUJUAN PEMBAHASAN
Dengan adanya pemahaman terhadap konsep diri, diharapkan :
• Tumbuhnya kesadaran seseorang untuk memahami dan mengenali dirinya serta mampu mengembangkan kemampuannya.
• Terbentuknya sikap dan perilaku percaya diri serta prinsip hidup menuju kehidupan yang sejahtera. Sikap dan perilaku percaya diri adalah kemampuan mengekspresikan diri atau mengemukakan hak-hak pribadi serta mempertahankannya tanpa melanggar hak orang lain.
• Dapat menempatkan diri bagaimana haru berbicara, berfikir dan berperilaku menyangkut pada suatu hubungan.
KESIMPULAN
Konsep diri seseorang adalah jawaban terhadap “siapa saja” bagaimana seseorang melihat dirinya. Dengan demikian konsep diri merupakan titik pusat kesadaran perilaku seseorang. Konsep diri merupakan dasar dari seseorang untuk menilai pengalaman diri sendiri serta dasar untuk memperbaiki kekurangan dalam mencapai tujuan yang diharapkan. Konsep diri adalah seluruh persepsi tentang “aku” yang berhubungan dengan perasaaan, keyakinan, nilai-nilai, kekurangan, kelebihan serta kemampuannya. Konsep diri adalah sesuatu yang dinamis (terus berkembang) dan merupakan kumpulan dari berbagai sikap seseorang yang positif. Seseorang yang memiliki konsep diri mempunyai identitas diri yang jelas. Dengan melatih diri, seseorang akan mencapai tingkat kemantapan dalam menentukan peran, dan dapat mengambil keputusan yang selaras, serasi dan seimbang dengan keadaan, serta dapat mengembangkan konsep diri.
Setelah seseorang melakukan upaya mengenali kekuatan dan kelemahan diri, orang lain akan menyadari siapa saya? Mengenal diri bukanlah tujuan. Pengenalan diri adalah sebagai wahana (sarana) untuk mencapai tujuan hidup. Oleh karenanya, setelah seseorang dapat menjawab pertanyaan siapa saya? maka pertanyaan selanjutnya adalah saya ingin menjadi siapa? Jawaban atas pertanyaan tersebut tentunya beragam, sesuai dengan peran-peran yang dimainkannya. Manusia memiliki kemampuan untuk mengubah atau mengembangkan diri.
REFERENSI
• Jalaluddin Rakhmat, Psikologi Komunikasi.Cetakan 2004.
• Helmi, A. F. Dan Ramdhani, N. 1992. Konsep Diri dan Kemampuan Bergaul.
• John Robert Powers, 1977, Pelatihan Program Pengembangan Pribadi, Departemen Kesehatan RI, Jakarta.
• http://wangmuba.wordpress.com/2008/12/26/konsep-diri/
Komunikasi antar pribadi merupakan aspek yang sangat penting dalam teori komunikasi, oleh sebab itu perlu diadakan studi lebih lanjut tentang cara yang terbaik untuk memanfaatkannya, penulis mencoba menganalisa salah satu teori tentang konsep diri, yang berkaitan dengan komunikasi antar pribadi untuk menciptakan komunikasi serta hubungan yang lebih baik.
Konsep diri merupakan Faktor yang sangat penting dan menentukan dalam komunikasi antar pribadi. Kunci keberhasilan hidup adalah konsep diri positif. Konsep diri memainkan peran yang sangat besar dalam menentukan keberhasilan hidup seseorang, karena konsep diri dapat dianalogikan sebagai suatu operating system yang menjalankan suatu komputer. Terlepas dari sebaik apapun perangkat keras komputer dan program yang di-install, apabila sistem operasinya tidak baik dan banyak kesalahan maka komputer tidak dapat bekerja dengan maksimal. Hal yang sama berlaku bagi manusia.
Konsep diri adalah sistem operasi yang menjalankan komputer mental, yang mempengaruhi kemampuan berpikir seseorang. Konsep diri ini setelah ter-install akan masuk di pikiran bawah sadar dan mempunyai bobot pengaruh sebesar 88% terhadap level kesadaran seseorang dalam suatu saat. Semakin baik konsep diri maka akan semakin mudah seseorang untuk berhasil. Demikian pula sebaliknya.
Kita dapat melihat konsep diri seseorang dari sikap mereka. Konsep diri yang negative akan mengakibatkan rasa tidak percaya diri, tidak berani mencoba hal-hal baru, tidak berani mencoba hal yang menantang, takut gagal, takut sukses, merasa diri bodoh, rendah diri, merasa diri tidak berharga, merasa tidak layak untuk sukses, pesimis, dan masih banyak perilaku inferior lainnya. Sebaliknya orang yang konsep dirinya baik akan selalu optimis, berani mencoba hal-hal baru, berani sukses, berani gagal, percaya diri, antusias, merasa diri berharga, berani menetapkan tujuan hidup, bersikap dan berpikir positip, dan dapat menjadi seorang pemimpin yang handal.
PEMBAHASAN
Tentang Konsep Diri
Menurut John Robert Powers (1977), konsep diri adalah ‘kesadaran dan pemahaman terhadap dirinya sendiri yang meliputi ; siapa aku, apa kemampuanku, apa kekuranganku, apa kelebihanku, apa perananku, dan apa keinginanku’ Konsep diri menjadi dasar perilaku hidup sehari-hari yang disadari. Kesadaran dan pemahaman akan dirinya semakin mencerminkan prinsip hidup dan kehidupannya.
Ismail (2001), menjelaskan bahwa konsep diri merupakan faktor yang sangat menentukan dalam hubungan interpersonal, karena setiap orang akan bertingkah laku sesuai dengan konsep dirinya. Artinya bahwa bila konsep diri seseorang positif, maka individu akan cenderung mengembangkan sikap-sikap postitif mengenai dirinya sendiri, seperti rasa percaya diri yang baik serta kemampuan untuk melihat dan menilai diri sendiri secara positif. Inividu dengan konsep diri positif cenderung akan dapat menimbulkan tingkah laku penyesuaian yang baik dengan lingkungan sosial. Sebaliknya bila seseorang memiliki konsep diri yang negatif, maka individu tersebut cenderung akan mengembangkan perasaan tidak mampu dan rendah diri, merasa ragu, dan kurang percaya diri. Individu dengan konsep diri yang negatif akan mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri dengan lingkungan sosial.
Konsep Diri Positif dan Negatif
Brooks dan Emmert (dalam Rahmat, 1996), mengungkapkan bahwa terdapat perbedaan karakteristik seseorang dengan konsep diri positif dan seseorang dengan konsep diri negatif. Perbedaan tersebut dapat ditunjukkan melalui beberapa indikator dari: A. Orang dengan konsep diri positif, dapat dilihat jika mereka : (1) Yakin akan kemampuan dalam mengatasi masalah; (2) Merasa setara atau sederajat dengan orang lain; (3) Menerima pujian tanpa rasa malu; (4) Menyadari bahwa setiap orang memilki berbagai perasaan, keinginan, dan perilaku yang tidak seluruhnya dapat diterima oleh masyarakat; (5) Memiliki kemampuan untuk memperbaiki diri sendiri; (6) Memiliki kesanggupan dalam mengungkapkan aspek yang tidak disenangi dan berusaha untuk merubahnya. B.Orang dengan konsep diri negatif, dapat dilihat jika mereka : (1) Peka terhadap kritik, namun dipersepsi sebagai upaya orang lain untuk menjatuhkan harga dirinya; (2) Cenderung menghindari dialog yang terbuka; (3) Selalu mempertahankan pendapat dengan berbagai logika yang keliru; (4) Sangat respek terhadap berbagai pujian yang ditujukan pada dirinya dan segala atribut atau embel-embel yang menunjang harga dirinya menjadi pusat perhatiannya; (5) Memiliki kecenderungan bersikap hiperkritis terhadap orang lain; (6) Jarang bahkan tidak pernah mengungkapkan penghargaan atau pengakuan terhadap kelebihan orang lain; (7) Memiliki perasaan mudah marah, cenderung mengeluh dan meremehkan orang lain; (8) Merasa tidak disenangi dan tidak diperhatikan oleh orang banyak, karena itulah cenderung bereaksi untuk menciptakan permusuhan; (9) Tidak mau menyalahkan diri sendiri namun selalu memandang dirinya sebagai korban dari sistem sosial yang tidak benar; (10) Pesimis terhadap segala yang bersifat kompetitif, enggan bersaing dan berprestasi, serta tidak berdaya melawan persaingan yang merugikan dirinya.
Berdasarkan pandangan di atas, dapat disimpulkan bahwa individu dengan konsep diri positif, cenderung mengembangkan sikap-sikap postitif mengenai dirinya sendiri, dan sebaliknya inividu dengan konsep diri negatif, maka individu tersebut cenderung akan mengembangkan nilai-nilai atau pandangan yang negatif tentang segala kondisi atau sistem sosial yang ada. Konsep diri yang dimiliki oleh seseorang, baik poistif maupun negatif akan mempengaruhi cara penilaian individu tersebut mengenai dirinya dan lingkungan karena itu akan sangat mempengaruhi perilakunya. Individu akan cenderung bertingkah laku sesuai dengan konsep diri yang dimilikinya yang juga akan berpengaruh pada hubungan di banyak aspek yang dijalani.
Mengapa Konsep Diri Diperlukan
Setiap orang perlu mengetahui dan memahami dirinya serta mampu menumbuhkan dan mengembangkan kemampuannya. Setelah seseorang mengetahui dirinya, maka terbentuklah sikap dan perilaku dalam menentukan arah dan prinsip hidup yang diinginkan. Seseorang yang mempunyai konsep diri, dapat menilai dirinya dalam menjalankan peranan hidup berkeluarga atau dalam masyarakat tanpa merasa lebih atau kurang terhadap kemampuan dan bersikap kepada orang lain. Perilaku seseorang dalam kehidupan bermasyarakat merupakan faktor yang menentukan, dengan demikian ‘konsep diri’ seseorang bukan suatu yang langsung jadi, melainkan diperoleh dan dibentuk melalui pendidikan, pengalaman serta pengaruh lingkungan.
Konsep Diri Punya Pengaruh
Sejauh manakah konsep-diri ini berpengaruh bagi kemajuan seseorang? Pertama, konsep-diri berhubungan dengan kualitas hubungan intrapersonal (diri sendiri). Konsep-diri positif akan memproduksi kualitas hubungan dengan diri sendiri yang positif. Ini misalnya harmonis dengan diri sendiri, mengetahui kelebihan dan kelemahan secara lebih akurat, atau punya penilaian positif terhadap diri sendiri. Hubungan yang harmonis akan menciptakan kebahagiaan diri (perasaan positif terhadap diri sendiri). Perasaan positif mendorong kita untuk melakukan hal-hal positif. Seringkali kita tidak bisa melakukan sesuatu dengan baik karena kita menyimpan perasaan yang tidak baik. Kalau kita sedang merasa berantakan, biasanya pekerjaan kita berantakan juga. Kedua, konsep diri terkait dengan kualitas hubungan dengan orang lain. Orang yang hubunganya harmonis dengan dirinya akan menghasilkan hubungan yang harmonis dengan orang lain. Sebaliknya, orang yang di dalam dirinya ada perang, akan mudah memproduksi peperangan juga di luar.Berbagai study di bidang kesehatan mental mengungkap bahwa orang yang sedang mengalami stres atau depresi kurang bisa menjalin hubungan harmonis dengan orang lain. Biasanya, hubungan mereka diwarnai dengan semangat permusuhan, konflik atau minimalnya gampang patah.
Konsep-diri juga terkait dengan isi pikiran saat berhubungan dengan orang lain atau sering disebut dengan istilah filsafat hidup. Ada orang yang punya filsafat hidup memberi, ingin berbagi, ingin bekerjasama, ingin meminta (diberi), ingin mengambil, dan lain-lain. Konsep-diri yang lemah akan mendorong kita untuk meminta. Ini misalnya saja: apa yang bisa diberikan kepada saya, apa yang bisa saya "manfaatkan", apa yang bisa saya ambil, dan lain-lain. Sebaliknya, konsep-diri yang kuat akan mendorong kita untuk berpikir, misalnya saja: Apa yang bisa saya berikan, apa yang bisa saya kerjasamakan, apa yang bisa saya sinergikan, apa yang bisa saya bantu, dan lain-lain. Kalau bicara keharmonisan hubungan jangka panjang, konsep mental yang paling menjanjikan adalah konsep mental yang kuat: saling memberi, saling berbagi, saling bersinergi, dan semisalnya.
Ketiga, konsep diri terkait dengan kualitas seseorang dalam menghadapi perubahan keadaan. Perubahan itu bisa dipahami sebagai tekanan atau tantangan. Ini tergantung pada bagaimana kita punya persepsi diri. Tantangan adalah kesempatan untuk membuktikan kemampuan, kebolehan, atau kehebatan kita. Konsep-diri yang bagus akan memproduksi kepercayaan yang bagus (pede). Orang yang pede akan cenderung melihat perubahan sebagai tantangan untuk dihadapi, tantangan untuk diselesaikan, tantangan untuk dilompati. Karena itu, seperti kata Mohammad Ali, yang membuat orang lari dari masalah itu adalah kepercayaan-diri yang rendah.
Penerapan konsep diri dalam kehidupan sehari-hari :
Dalam bermasyarakat kita menghadapi berbagai sikap dan perilaku yang berbeda-beda. Penerapan konsep diri tergantung kepada dirinya sendiri, antara lain :
1) Dapat menyadari kelemahan dan kekurangannya
2) Pandai mengendalikan diri
3) Tenggang rasa
4) Berusaha jujur terhadap diri sendiri serta menyadari peranannya
Contoh :
a. Mengambil keputusan tanpa mempelajari dan mempertimbangkan kenyataan yang sesungguhnya akan berakibat keputusan yang diambil kurang tepat. Dengan kata lain orang yang mempunyai konsep diri positif akan mengambil keputusan tanpa emosional.
b. Orang yang mempunyai sifat ‘mau menang sendiri’ (egois) tidak mau merubah diri untuk tidak egois. Orang tersebut tidak mampu merubah dirinya atau merubah konsep dirinya yang negatif.
Jadi konsep diri terbentuk melalui proses dimana seseorang telah dapat menemukan jati diri, mengetahui kekuatan dan kelemahan dirinya. Kemudian mampu menerima dirinya sebagai suatu kenyataan. Dengan kesadaran dan penerimaan ini seseorang mampu memperbaiki kekurangan sehingga mempunyai konsep diri yang positif. Untuk mendukung konsep diri tersebut, seseorang perlu memiliki sikap percaya diri. Sikap percaya diri merupakan sikap seseorang yang memiliki keyakinan teguh akan tindakannya, mampu menyatakan perasaan dan pendapatnya tanpa menyakiti perasaan diri sendiri dan perasaan orang lain.
Seseorang yang bersikap percaya diri mengakui dua hal, yaitu ; (1) dirinya mempunyai hak dan perasaan, (2) orang lain juga mempunyai hak dan perasaan. Menyadari kedua hal tersebut, seseorang tidak boleh menyakiti perasaan orang lain atau melanggar hak orang lain. Sifat percaya diri mudah dikatakan namun sulitdilaksanakan karena umumnya individu kurang yakin pada dirinya masing-masing. Sikap tersebut sudah berakar sehingga membutuhkan waktu dan tekad untuk merubahnya. Kita harus berani menyatakan perasaan dan pendapat sepanjang tidak menyakiti orang lain. Pendapat mungkin salah, namun lebih baik dikemukakan untuk kemudian dibicarakan dan diperbaiki. Seseorang yang memiliki percaya diri : lebih baik bertindak meskipun kemungkinan salah yang kemudian diselesaikan, daripada diam menerimanya dengan bersungut-sungut di belakang (ngomel)
TUJUAN PEMBAHASAN
Dengan adanya pemahaman terhadap konsep diri, diharapkan :
• Tumbuhnya kesadaran seseorang untuk memahami dan mengenali dirinya serta mampu mengembangkan kemampuannya.
• Terbentuknya sikap dan perilaku percaya diri serta prinsip hidup menuju kehidupan yang sejahtera. Sikap dan perilaku percaya diri adalah kemampuan mengekspresikan diri atau mengemukakan hak-hak pribadi serta mempertahankannya tanpa melanggar hak orang lain.
• Dapat menempatkan diri bagaimana haru berbicara, berfikir dan berperilaku menyangkut pada suatu hubungan.
KESIMPULAN
Konsep diri seseorang adalah jawaban terhadap “siapa saja” bagaimana seseorang melihat dirinya. Dengan demikian konsep diri merupakan titik pusat kesadaran perilaku seseorang. Konsep diri merupakan dasar dari seseorang untuk menilai pengalaman diri sendiri serta dasar untuk memperbaiki kekurangan dalam mencapai tujuan yang diharapkan. Konsep diri adalah seluruh persepsi tentang “aku” yang berhubungan dengan perasaaan, keyakinan, nilai-nilai, kekurangan, kelebihan serta kemampuannya. Konsep diri adalah sesuatu yang dinamis (terus berkembang) dan merupakan kumpulan dari berbagai sikap seseorang yang positif. Seseorang yang memiliki konsep diri mempunyai identitas diri yang jelas. Dengan melatih diri, seseorang akan mencapai tingkat kemantapan dalam menentukan peran, dan dapat mengambil keputusan yang selaras, serasi dan seimbang dengan keadaan, serta dapat mengembangkan konsep diri.
Setelah seseorang melakukan upaya mengenali kekuatan dan kelemahan diri, orang lain akan menyadari siapa saya? Mengenal diri bukanlah tujuan. Pengenalan diri adalah sebagai wahana (sarana) untuk mencapai tujuan hidup. Oleh karenanya, setelah seseorang dapat menjawab pertanyaan siapa saya? maka pertanyaan selanjutnya adalah saya ingin menjadi siapa? Jawaban atas pertanyaan tersebut tentunya beragam, sesuai dengan peran-peran yang dimainkannya. Manusia memiliki kemampuan untuk mengubah atau mengembangkan diri.
REFERENSI
• Jalaluddin Rakhmat, Psikologi Komunikasi.Cetakan 2004.
• Helmi, A. F. Dan Ramdhani, N. 1992. Konsep Diri dan Kemampuan Bergaul.
• John Robert Powers, 1977, Pelatihan Program Pengembangan Pribadi, Departemen Kesehatan RI, Jakarta.
• http://wangmuba.wordpress.com/2008/12/26/konsep-diri/
PENGARUH PERBEDAAN BUDAYA PADA KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Di Indonesia, Komunikasi antara budaya belum secara serius mendapatkan tempat sebagai suatu kajian penting, sehingga sampai saat ini masih sulit ditemui buku yang menjelaskan secara lengkap tentang definisi dari komunikasi antar budaya itu sendiri. Padahal komunikasi antar budaya di Indonesia sangatlah penting karena pada kenyataannya kehidupan masyarakat dan budaya Indonesia sangatlah heterogen yang terdiri dari berbagai suku bangsa, bahasa, agama, ras, budaya, dan istiadat. Sebagaimana dituangkan dalam semboyang Bhineka Tunggal Ika yang artinya berbeda tetapi tetap satu. Lebih dari 350 bahasa daerah berkembang di Indonesia dan ratusan etnis tersebar diberbagai wilayah. Kehidupan majemuk bangsa Indonesia yang kompleks ditandai dengan kenyataan latar belakang social budaya etnis yang berbeda-beda. Dengan kenyataan tersebut tidaklah mudah bagi bangsa Indonesia untuk mewujudkan suatu integrasi dan menghindari konflik atau bahkan perpecahan (DeVito 1997).
Komunikasi antar budaya kala ini menjadi semakin penting karena meningkatnya mobilitas orang diseluruh dunia, saling ketergantungan Ekonomi diantara banyak Negara, kemajuan Teknologi Komunikasi, perubahan pola imigrasi dan politik membutuhkan pemahaman atas kultur yang berbeda-beda (DeVito 1997). Komuniasi antara budaya sendiri lebih menekankan aspek utama yakni komunikasi antar pribadi diantara Komunikator dan Komunikan yang kebudayaannya berbeda (Mulyana 1990) .
Tujuan
Makalah ini bertujuan untuk menjelaskan tentang komunikasi antar budaya yang terjadi diantara dua orang yang memiliki latar belakang kebudayaan yang berbeda berarti mereka memiliki perbedaan kepribadian dan persepsi terhadap relasi antar pribadi. Ketika A dan B dengan budaya yang berbeda bercakap-cakap itulah yang disebut Komunikasi antar Budaya karena dua pihak “menerima” perbedaan diantara mereka sehingga bermanfaat untuk menurunkan tingkat ketidakpastian dan kecemasan dalam relasi antar pribadi.
PEMBAHASAN
Penjelasan
Definisi Komunikasi
Istilah komunikasi dari bahasa Inggris communication, dari bahasa latin communicatus yang mempunyai arti berbagi atau menjadi milik bersama, komunikasi diartikan sebagai proses sharing diantara pihak-pihak yang melakukan aktifitas komunikasi tersebut.
Menurut lexicographer (ahli kamus bahasa), komunikasi adalah upaya yang bertujuan berbagi untuk mencapai kebersamaan. Jika dua orang berkomunikasi maka pemahaman yang sama terhadap pesan yang saling dipertukarkan adalah tujuan yang diinginkan oleh keduanya. Webster’s New Collegiate Dictionary edisi tahun 1977 antara lain menjelaskan bahwa komunikasi adalah suatu proses pertukaran informasi diantara individu melalui sistem lambang-lambang, tanda-tanda atau tingkah laku.
Dan menurut Hybels dan Richard L. Weafer II, bahwa komunikasi merupakan setiap proses pertukaran informasi, gagasan, dan perasaan. Proses ini meliputi informasi yang disampaikan tidak hanya lisan dan tulisan, tetapi juga dengan bahasa tubuh, gaya maupun penampilan diri, atau menggunakan alat bantu disekililing kita untuk memperkaya sebuah pesan.
Definisi Kebudayaan
Pertama, kebudayaan dalam arti yang luas adalah perilaku yang telah tertanam, ia merupakan totalitas dari sesuatu yang dipelajari manusia, akumulasi dari pengalaman yang dialihkan secara sosial (disosialisasikan) – tidak sekadar sebuah catatan ringkas, tetapi dalam bentuk perilaku melalui pembelajaran sosial (social learning). Kedua, kebudayaan merupakan pandangan hidup dari sekelompok orang dalam bentuk perilaku, kepercayaan, nilai, dan simbol-simbol yang mereka terima tanpa sadar atau tanpa dipikirkan, yang semuanya diwariskan melalui proses komunikasi dan peniruan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Ketiga, Larry A. Samovar dan Richard E. Porter mengungkapkan kebudayaan dapat berarti simpanan akumulatif dari pengetahuan, pengalaman, kepercayaan, nilai, sikap, makna, hirarki, agama, pilihan waktu, peranan, relasi ruang, konsep yang luas, dan objek material atau kepemilikan yang dimiliki dan dipertahankan oleh sekelompok orang atau suatu generasi. Demikian pula kebudayaan bisa berarti sistem pengetahuan yang dipetukarkan oleh sejumlah orang dalam sebuah kelompok yang besar (Gudykunst dan Kim, 1992). Bahkan lebih tegas lagi Edward T. Hall mengatakan bahwa kebudayaan adalah komunikasi dan komunikasi adalah kebudayaan (Edward T. Hall, 1981). Keempat, menurut Levo-Henriksson (1994), kebudayaan itu meliputi semua aspek kehidupan kita setiap hari, terutama pandangan hidup apapun bentuknya baik itu mitos maupun sistem nilai dalam masyarakat. Roos melihat kebudayaan sebagai sistem gaya hidup dan ia merupakan faktor utama (common dominator) bagi pembentukan gaya hidup.
Kita telah membaca beberapa pengertian kebudayaan, bahwa kebudayaan merupakan satu unit interpretasi, ingatan, dan makna yang ada di dalam manusia dan bukan sekadar dalam kata-kata. Ia meliputi kepercayaan, nilai-nilai, dan norma, semua ini merupakan langkah awal di mana kita merasa berbeda dalam sebuah wacana. Kebudayaan mempengaruhi perilaku manusia karena setiap orang akan menampilkan kebudayaannya tatkala dia bertindak, seperti tindakan membuat ramalan atau harapan tentang orang lain atau perilaku mereka. Terakhir, kebudayaan melibatkan karakteristik suatu kelompok manusia dan bukan sekadar pada individu.
Pengertian kebudayaan tersebut mengandung beberapa karakteristik atau cirri-ciri yang sama, yakni kebudayaan itu ada di antara umat manusia yang sangat beraneka ragam, diperoleh dan diteruskan secara sosial melalui pembelajaran, dijabarkan dari komponen biologi, psikologi, dan sosiologi sebagai eksistensi manusia, berstruktur, terbagi dalam beberapa aspek, dinamis, dan nilainya relative.
Definisi Komunikasi antar budaya
Komunikasi antar budaya adalah seni untuk memahami dan dipahami oleh khalayak yang memiliki kebudayaan lain. (Sitaram, 1970). Komunikasi bersifat budaya apabila terjadi diantara orang-orang yang berbeda kebudayaan. (Rich, 1974). Komunikasi antarbudaya adalah komunikasi yang terjadi dalam suatu kondisi yang menunjukan adanya perbedaan budaya seperti bahasa, nilai-nilai, adat, kebiasaan. (Stewart, 1974). Komunikasi antarbudaya menunjuk pada suatu fenomena komunikasi di mana para pesertanya memiliki latar belakang budaya yang berbeda terlibat dalam suatu kontak antara satu dengan lainnya, baik secara langsung atau tidak langsung. (Young Yung Kim, 1984)
Dari defenisi tersebut nampak jelas penekanannya pada perbedaan kebudayaan sebagai faktor yang menentukan dalam berlangsungnya proses komunikasi dan interaksi yang terjadi di dalamnya. Karena itu dua konsep terpenting di sini adalah kontak dan komunikasi merupakan ciri yang membedakan studi Komunikasi Antar-Budaya dari studi-studi antropologi dan psikologi lintas budaya yang berupaya mendeskripsikan kebudayaan-kebudayaan antarbudaya. Sejauh ini upaya pemerhati Komunikasi Antar-Budaya lebih banyak diarahkan pada aspek intracultural atau pun crosscultural, buakan studi-studi intercultural dari komunikasi. Sebagaimana tradisi penelitian antropologi dan psikologi lintas budaya (cross-cultural psycology), kebanyakan dari kegiatan penelitian memusatkan perhatian pada ; pola-pola komunikasi dalam kebudayaan-kebudayaan tertentu, studi komparatif lintas budaya mengenai fenomena-fenomena komunikasi.
Unsur-unsur Kebudayaan
Karena kebudayaan memberikan identitas pada sekelompok manusia, maka muncul suatu persoalan yakni bagaimana cara kita mengidentifikasi aspek-aspek atau unsur-unsur kebudayaan yang membedakan satu kelompok masyarakat budaya dari kelompok masyarakat budaya lainnya. Samovar (1981) membagi berbagai aspek kebudayaan kedalam tiga pembagian besar unsur-unsur sosial budaya yang secara langsung sangat mempengaruhi penciptaan makna untuk persepsi, yang selanjutnya menentukan tingkah laku komunikasi.
Pengaruh-pengaruh terhadap komunikasi ini sangat beragam dan mencakup semua segi kegiatan sosial manusia. Dalam proses Komunikasi Antar-Budaya unsur-unsur yang sangat menentukan ini bekerja dan berfungsi secara terpadu bersama-sama seperti komponen dari suatu sistem stereo, karena masing-maasing saling membutuhkan dan berkaitan. Tetapi dalam penelaahan, unsur-unsur tersebut dipisah-pisahkan agar dapat diidentifikasi dan ditinjau secara satu persatu. Unsur-unsur sosial budaya tersebut adalah:
1) Sistem keyakinan, nilai dan sikap.
2) Pandangan hidup tentang dunia.
3) Organisasi sosial.
Pengaruh ketiga unsur kebudayaan tersebut pada makna untuk persepsi terutama pada aspek individual dan subjektifnya. Kita semua mungkin akan mlihat suatu obbjek atau peristiwa sosial yanng sama dan memberikan makna objektif yang sama, tetapi makna individualnya tidak mustahil akan berbeda. Misalnya orang Amerika dengan Arab sepakat menyatakan seseorang wanita berdasarkan wujud fisiknya. Tetapi kemungkinan besar keduanya akan berbeda pendapat tentang bagaimana wanita itu dalam makna sosialnya. Orang Amerika memandang nilai kesetaraan antara pria dengan wanita, sementara orang Arab memendang wanita cenderung menekankan wanita sebagai ibu rumah tangga.
Studi Kasus
Pada suatu hari saudara saya (orang jawa) berselisih dengan seorang supir angkot yang berasal dari daerah tapanuli (batak)…. masalahnya mungkin sudah diduga yaitu, senggol menyenggol kendaraan di tengah kemacetan. Karena tidak ada polisi dan kedua belah pihak tetap pada pendiriannya, mereka sepakat menuju kantor polisi terdekat. Karena si supir berbicara meledak-ledak, maka ditegurlah sang supir oleh pak polisi agar berbicara lebih santun dan tenang.
Namanya pak supir yang sedang naik pitam … sekonyong-konyong ia berbicara : “Saya orang Batak …. saya tidak bisa bicara halus seperti dia (sambil menunjuk ke arah saudara saya). Kami orang batak kalau bicara lantang dan terus terang tetapi jujur, tidak seperti orang Jawa bicara tidak jujur, berputar-putar dan berbelit-belit”. Untuk orang batak yang baik adalah bicara langsung, terbuka dan terus terang karena disitu nilai kejujuran dan keterbukaan dijunjung. Namun bagi orang jawa, hal itu tidak sopan, kalau berbicara sebaiknya harus santun.
Kebaikan buat saudara saya (sopan santun, bicara halus dengan tutur kata yang baik) dianggap keburukan bagi si supir karena dianggap berputar-putar, berbelit-belit dan tidak jujur. Begitu juga sebaliknya. Ini adalah penggambaran yang sangat jelas bagaimana budaya jawa dan budaya batak berpengaruh pada proses komunikasi mereka. Dengan 2 budaya yang berbeda disertai juga dengan karakteristik yang berbeda, hal ini akan jelas berpengaruh pada cara mereka berkomunikasi.
Hambatan
Etnosentrisme
Disatu studi kasus, Orang Indonesia merasa sakit hati dengan perlakuan American yang memberi buku dengan Tagnan kiri, sebab orang Indonesia sudah menanamkan suatu pijakan tata krama, bahwasanya memberi dengan tangan kiri, merupakan bentuk ketidaksopanan. Padahal dalam kenyataannya, orang Amerika tidak bermaksud demikian.
Hal yang seperti itu, dinamakan Etnosentrisme. Etnosentrisme menurut Sumner, ialah “ memandang segala sesuatu dalam kelompok sendiri sebagai pusat segala sesuatu itu, dan hal-hal lainnya diukur dan dinilai berdasarkan rujukan kelompoknya “ ( dalam Gudykunst dan Kim, 1985 : 5 ). Pandangan-pandangan etnosentrik itu antara lain berbentuk stereotip, yakni suatu generalisasi atas sekelompok orang, obyek, atau peristiwa yang secara luas dianut suatu budaya. Itulah yang juga terjadi di Indonesia. Indonesia terdiri dari berbagai macam etnis, sehingga menimbulkan permasalahan kegiatan komunikasi satu sama lain. Jangankan dengan yang berbeda etnis, bahkan yang satu etnis pun terkadang terjadi miss-understanding.
Sangat disayangkan, proses Komunikasi yang memiliki pesan yang akan disampaikan, ternyata menimbulkan effect yang berbeda. Sehingga terjadilah komunikasi yang tidak efektif.
Perbedaan Kode Komunikasi
Apabila kita bepergian ke Negara yang berbeda, maka kita akan menemukan bahasa yang berbeda pula di tiap negaranya. Disini kita akan mengalami sebuah kesulitan dalam berkomunikasi, karena komunikasi yang mereka lakukan dijalankan dengan media bahasa yang bukan merupakan bahasa yang biasa kita gunakan sehari-hari. Sedangkan bahasa adalah salah satu elemen terpenting dalam sebuah komunikasi. Mungkin kita akan berusaha memahami maksud dari orang yang berbicara dengan kita itu melalui gerak gerik yang dilakukannya, namun cara seperi ini tidak selalu berhasil. Karena hal tersebut akan tetap mengurangi makna dari maksud pembicaraan tersebut.
Stereotip dan Prasangka
Stereotip adalah menempatkan seseorang atau kelompok dari orang-orang menuju ketidakfleksibelan, semua kategori yang tidak menunjukkan arah. Streotip akan menjadi hamabatan dalam melakukan komunikasi antar pribadi secara efektif apabila kita gagal menyadari keunikan dari individu, kelompok, dan peristiwa.2 antropologis menganjurkan bahwa setiap orang, dari beberapa respek, 1. seperti semua orang, 2. seperti sebagian orang, 3. tidak seperti siapapun. Tantangan ketika bertemu orang lain adalah untuk menyerupai bagaimana penampilan dan keunikan orang mereka.
Suatu penilaian dan opini tentang orang lain sebelum mengetahui bagaimana latar belakang dan kenyataan sebenarnya tentang orang itu. Menghalangi komunikasi yang efektif, khususnya apabila jati diri kita tidak akurat atau mengasumsikan superioritas pada bagian kita.
Assuming Similarity
Menjadi sesuatu yang tidak akurat berasums bahwa semua orang yang termasuk kedalam kelompok atau kelas sosial lain sangat bertolak belakang dengan kehidupan kita, hal ini biasanya sangat ironis untuk berasumsi bahwa orang lain berperilaku dan berpikir sama seperti kita.
Solusi
· Efektivitas Komunikasi Antar - Budaya
Seluruh proses komunikasi pada akhirnya menggantungkan keberhasilan pada tingkat ketercapaian tujuan komunikasi, yakni sejauh mana para partisipan memberikan makna yang sama atas pesan yang dipertukarkan. Itulah yang dikatakan sebagai komunikasi antarbudaya yang efektif,sering disebut pula dengan efektivitas komunikasi antar budaya. Berikut ini ditunjukkan beberapa konsep yang berkaitan dengan efektivitas komunikasi (antarbudaya). Charley H. Dodd(1991, hlm 272) menjelaskan beberapa aspek yang patut dikaitkan dengan efektivitas komunikasi antarbudaya, yaitu
1. Aksioma (prinsip) komunikasi antarbudaya yang efektif: (1) komunikasi antarbudaya yang efektif sangat didambakan,(2) komunikasi antarbudaya yang efektif berkaitan dengan iklim komunikasi yang positif, dan (3) variabel komunikasi antarbudaya yang efektif harus dapat diidentifikasikasi.
2. Variabel kognitif dan personal yang dipakai untuk menerangkan komunikasi antarbudaya yang efektif terinci atas: (1) variabel yang berorientasi pada perilaku kerja antarbudaya,(2) perilaku yang berorientasi pada diri sendiri,(3) etnosentrisme,(4) toleransi terhadap situasi yang ambigu, (5) empati,(6) keterbukaan,(7) kompleksitias kognitif,(8) menyenangkan hubungan antarpribadi,(9) control personal,(10) kemampuan inovatif,(11) harga diri, dan (12) daya serap informasi.
· Faktor efektivitas Komunikasi Antar – Budaya
Menurut Billie J. Watstroom (1992, hlm 133), efektivitas komunikasi antarpersonal ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu(1) menghormati pribadi orang lain,(2) mendengarkan dengan senang hati,(3) mendengarkan tanpa menilai,(4) keterbukaan terhadap perubahan dan keragaman,(5) empati,(6) bersikap tegas, dan (7) kompetensi komunikasi.
Berdasarkan beberapa konsep komunikasi antarbudaya yang efektif di atas maka saya merumuskan suatu penjelasan efektivitas komunikasi antarbudaya dapat meliputi beberapa aspek, yakni:
1) Komunikasi yang efektif harus memperhatikan beberapa syarat, yaitu(1) jenis ketrampilan komunikasi macam manakah yang paling banyak dibutuhkan,(2) jenis ketrampilan berkomunikasi macam manakah yang dirasakan paling sulit?, (3) jika ada kesulitan maka dimanakah seseorang dapat memperoleh bantuan?, dan (4) kapankah jadwal yang tepat untuk memperbaharui ketrampilan berkomunikasi?
2) Kebanyakan komunikasi antarbudaya (yang merupakan komunikasi antarpribadi/ antarbudaya) bersifat oral/lisan. Karena itu. Aktivitas komunikasi seperti itu harus dapat menjawab beberapa pertanyaan mendasar: (1) what do you want to say, (2) how do you want to say,(3) to whom you want to say it, (4) to whom are you talking dan (5) meta-messages
3) Efektivitas komunikasi antarpersonal ditentukan oleh cara (1) menghormati pribadi orang lain,(2) mendengarkan dengan senang hati, (3) mendengarkan tanpa menilai, (4) keterbukaan terhadap perubahan dan keragaman, (5) empati, (6) bersikap tegas, dan (7) kompetensi komunikasi.
Mengutamakan Dialog
Menurut Charles N. Snare, konflik komunikasi antar budaya dapat diselesaikan melalui dialog yang baik, antara lain dengan identifikasi perspektif budaya. Memang muncul ketakutan terhadap terjadinya komunikasi lintas budaya. Jika kita melakukan semuanya dengan serba salah. Banyak orang mengasumsikan hal yang sama dan takut kalau lintas budaya menibulkan konflik sehingga dapat menghambat komunikasi yang efektif. Seseorang mungin takut sekali bahwa orang lain tidak mengakui dia, tidak memperhatikan dia, ini karena adanya kesadaran yang berbeda. Dapat diingat bahwa tidak semua kebudayaan senang dengan komunikasi langsung, karena itu mungkin sekali pihak ketiga yang menyumbang konflik itu. Dia mengatakan bahwa hanya dengan bantuan komunikasi kita dapat menyelesaikan berbagai konflik. Disini konflik harus dipandang sebagai unsur alamiah dari komunikasi yang mengalami hambatan, knflik hadir sebagai katalisator untuk memperbesar pengertian dan kerja sama antar manusia.
Mutual Understanding
William Powers dan David Lowrey menyatakan bahwa komunikasi yang efektif adalah dasar dari komunikasi yang jitu, yaitu komunikasi yang sejalan dengan kognisi(apa yang dipikirkan) dari dua atau tiga individu yang berkomunikasi. Harry Triandis (1997) menegaskan bahwa efektivitas komunikasi itu meliputi isomorphic attributions, yaitu bagaimana ‘menggambarkan’ (description) sesuatu menjadi sama (Powers dan Lowrey, 1984, hlm 84)
Everet Rogers dan Lawrence Kincaid juga mengatakan bahwa komunikasi antarbudaya yang efektif terjadi jika muncul mutual understanding atau komunikasi yang saling memahami. Yang dimaksudkan dengan saling memahami adalah keadaan dimana seseorang dapat memperkirakan bagaimana orang lain memberi makna atas pesan yang dikirim dan menyandi baik pesan yang diterima. Satu hal yang patut diingat bahwa pemahaman timbale balik itu tidak sama dengan pernyataan setuju, tapi hanya menyatakan dua pihak sama-sama mengerti makna dari pesan yang dipertukarkan itu (Rogers dan Kincaid, 1981).
PENUTUP
KESIMPULAN
Dengan mengetahui ciri dasar budaya dari tiap-tiap suku bangsa akan mengurangi keterkejutan budaya (gegar budaya), memberikan kepada kita wawasan terlebih dahulu dan memudahkan kita untuk berinteraksi dengan suku bangsa lain yang sebelumnya sulit kita lakukan. Dari interaksi ini selanjutnya akan cenderung terjadi relasi.
Sebenarnya keanekaragaman budaya bukanlah sesuatu yang akan hilang pada waktu mendatang yang memungkinkan kita merencanakan strategi berdasarkan asumsi saling memahami. Dari sini kemudian akan timbul empathy dari diri kita terhadap orang-orang dari suku bangsa lain. Adanya saling memahami dan pengertian di antara orang-orang berbeda budaya akan mengurangi konflik yang selama ini sering terjadi. Konflik biasanya terjadi karena berbedanya persepsi mengenai nilai- nilai antarbudaya.
Tapi kita harus optimis mengenai perbedaan budaya di Indonesia. Karena pada dasarnya. hal itu merupakan salah satu kekayaan dari Negara Republik Indonesia, Dan ini adalah tantangan bagi kita, terutama bagi mereka yang berkecimpung dalam bidang ilmu komunikasi
SARAN-SARAN
Dengan selesainya Makalah Komunikasi Antar-Budaya ini, maka kami dari penyusun mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak, sehingga Makalah kami dapat lebih sempurna. Sebab dalam penyusunan Makalah ini masih terdapat banyak kekurangan.
DAFTAR PUSTAKA
· kuliah.dagdigdug.com Drs. A. Mulyana, Teori Komunikasi-modul 14,2008. Komunikasi Antarbudaya Oleh : Dra. Hj. Dewi Widowati, M.Si.
· http://duniaimut.blog.friendster.com/15/ 15:45 120209
· Hall, Edward T. beyond culture. Garden city. NY: doubleday,1976.
· http://www.gumilarcenter.com/KLB/materi4pintumasukklb.pdf. Bahan Ajar Komunikasi Lintas Budaya Gumgum Gumilar, S.Sos., M.Si. / Program Studi Ilmu Komunikasi Unikom 16:32 120209
· Liliweri, DR Alo. Makna budaya dalam Komunikasi Antarbudaya
· Mulyana, Deddy dan Jalaludin Rakhmat (peny). 1993. komunikasi antar budaya. Bandung: remaja rosdakaraya.
HUBUNGAN INTENSITAS MENGKONSUMSI TAYANGAN PARODI POLITIK DEMOCRAZY DENGAN OPINI PUBLIK MENGENAI KINERJA LEGISLATIF
A. LATAR BELAKANG
Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla mengatakan, “media televisi memberikan pengaruh yang sangat besar dalam tatanan kehidupan setiap penduduk bumi Indonesia ini”. Bahkan lebih tajam dan kuat dari senjata (pemberitaan di TRANS 7 mengenai kasus syekh Puji). Hal ini cukup beralasan, sebab dalam praktiknya, media televisi seakan-akan ‘menyodorkan’ segala kebutuhun kita, mulai dari kebutuhan akan informasi hingga hiburan. Dalam hampir setiap aspek kehidupan individu yang mengkonsumsi yang disediakan oleh media massa. Dan hal ini tidak hanya sebagai suatu hiburan semata atau media sebagai ‘pemuas’ akan informasi tapi hal ini sangat mempengaruhi publik.
Di abad informasi, tak ada yang lebih berpengaruh daripada TV. Begitu besarnya pengaruh TV, bahkan banyak pihak yang menyatakan TV lebih penting dalam pendidikan politik ketimbang partai politik. Begitu banyak warga negara yang kontak dengan televisi setiap hari. Di kamar tidur, di ruang keluarga, bahkan di ruang tunggu berbagai gedung, televisi bercokol. Setiap berita dikemas dalam gambar dan suara, disajikan kepada penonton, membuat TV merasuk ke dalam kesadaran penonton secara lebih dalam. Runtuhnya gedung WTC di New York dalam sekejap diketahui penduduk di Jakarta melalui TV. Imam Samudra yang tertangkap di Merak, seketika wajahnya dilihat oleh warga di Aceh atau Papua. Skandal Akbar Tandjung menjadi isu nasional karena televisi. Penderitaan warga di Nunukan, Kalimantan, dilihat oleh aktivis di Jakarta melalui TV. Dengan mudah, TV menentukan apa yang harus dibicarakan, bahkan apa yang harus dipikirkan. TV ada di mana-mana. Kita tak bisa lagi hidup tanpa TV. http://www.freelists.org/post/ppi/ppiindia-Mengendalikan-Politik-TV-dan-Radio
Media televisi sangat diminati karena memiliki karakteristik yang berbeda dengan media lain, yaitu audiovisual, sehingga dapat didengar sekaligus dapat dilihat. Khalayak televisi dapat melihat gambar yang bergerak disertai dengan suara (Ardianto dan Erdinaya, 2004 : 128). Dengan menonton televisi, audience seakan-akan ikut dalam tayangan yang ditayangkan di televisi, memberikan pengalaman seolah-olah audience mengalaminya sendiri. Dengan kelebihan yang dimilikinya ini, televisi dapat menarik perhatian audience sehingga informasi ataupun hiburan melalui televisi menjadi lebih efektif.
Sejak masa reformasi, dimana diberikannya kebebasan kepada media untuk berekspresi juga berpengaruh pada program-program televisi. Banyak program-program televisi baru yang bermunculan untuk menarik perhatian audience. Media mulai memainkan perannya sebagai pemberi informasi kepada khalayak, termasuk di bidang politik seperti tersebut di atas. Mulai era ini, selain berperan sebagai sarana pemenuhan informasi yang akan memberikan pendidikan politik bagi khalayak, media juga berfungsi sebagai alat pengawasan politik. Media berfungsi dalam pengawasan instrumental. Aktualisasinya adalah penyebaran informasi politik yang berguna bagi khalayak. Media bertugas mengawasi kinerja dan kebijakan yang dibuat pemerintah, kemudian menginformasikannya pada publik sebagai khalayak media (Nurudin, 2003 : 77).
Seiring dengan adanya kebebasan pers, program-program berbau politik seperti dialog politik, debat politik, dan talkshow juga semakin banyak. Program yang cukup menarik khalayak adalah talkshow karena konsep acaranya yang lebih santai. Metro TV sebagai salah satu stasiun televisi yang bersegmen pemberitaan memiliki program talkshow politik yang sangat beragam, antara lain Suara Anda, Bedah Editorial, Survei Interaktif Padamu Negeri, serta Democrazy. Dengan adanya tayangan-tayangan tersebut akan memberikan pendidikan politik kepada publik.
Melalui program-program politik tersebut menjadi sarana bagi publik untuk memperoleh informasi politik, mengkritik kinerja pemerintah, dan menyampaikan opininya mengenai kebijakan-kebijakan dan kinerja para pemegang kekuasaan politik negeri. Publik mulai berani mengungkapkan opininya mengenai kinerja pemerintah, baik opini yang positif ataupun negatif. Media massa, terutama televisi, menurut para ahli dipercaya secara langsung sangat mempengaruhi individu-individu (khalayak). Menurut Sproule (1989), media dianggap sangat berkuasa dalam membentuk opini publik. Berdasarkan penelitian McQuail (1991), memusatkan pada televisi sebagai media yang kekuasaannya kuat dalam mempengaruhi opini publik (Winarso, 2005 : 106-107). Peran media massa sangat efektif dalam menghimpun kekuatan dan opini publik. Peran media massa, termasuk televisi tidak hanya menjadi media penyampai informasi saja, tetapi juga menjadi sarana alternatif menyampaikan aspirasi. Wacana politik yang beredar dan tersebar luas tidak luput dari peran besar media termasuk televisi. Media televisi dapat menggalakkan partisipasi dan komunikasi sosial, mendidik, dan mengkritik, serta mampu meyakinkan publik akan porsi yang ditawarkan oleh media.
Mayoritas dari tayangan yang beredar banyak di media TV mencoba untuk mengkritisi apa yang terjadi dengan para elit politik di senayan. Misalnya saja mulai dari persoalan para anggota DPR yang mendapat jatah mobil mewah, penyediaan laptop, renovasi rumah, dan kunjungan ke luar negeri. Ditengah kondisi negara yang dilanda banyak persoalan, para elit politik masih sibuk mengurusi kepentingan diri sendiri ketimbang kepentingan rakyat. Kenyataan seperti ini yang menimbulkan banyak pergunjingan pada masyrakat luas. Pro – kontra ini memberikan persepsi dari kinerja legislatif yang dianggap bahwa etika politik para pemimpin telah terkikis. Etika politik yang seharusnya menjadi tembok atas kesewenang-wenangan politik hanya menjadi pemanis bibir oleh elit politik. Tujuan utama pemimpin politik demi kepentingan pribadi diutamakan daripada kepentingan rakyat banyak (Sugianto. 2008 : D. “Terkikisnya Etika Politik” dalam kolom “Forum”, Kompas Jawa Tengah).
Tayangan parodi politik adalah salah satu talkshow politik yang sedang diminati masyarakat. Karena selain dianggap tayangan yang menghibur, dengan menonton tayangan tersebut masyarakat tahu permasalahan dalam negerinya, serta mampu mengkritisi kinerja dan kebijakan yang dibuat pemerintah (Anonim. 2008. “Pelajar Gandrungi Tayangan Parodi Politik”, dalam http://www.pdiperjuangan-jatim.org/v02/?mod=berita&id=439).
Metro TV salah satu stasiun TV yang tak henti – hentinya menelurkan acara acara kreatif nan menghibur bagi masyarakat Indonesia. DEMOCRAZY merupakan sebuah program acara yang mengedepankan unsur politik nan menghibur dalam bentuk talkshow, bercerita tentang kegiatan parlemen dalam menghadapi & memecahkan masalah aktual bangsa dan terkadang mengkritik dan menyindirpara anggota legislatif.
Pengemasan acara DEMOCRAZY ini cenderung santai dan komedikal namun tetep memberikan solusi. Ide ide lucu dan segar akan menghiasa setiap tayangannya seperti sidang tapi tidur, sms, telepon, uang komisi, absensi, jalan-jalan ke luar negeri, tunjangan rumah, renovasi, bagi-bagi laptop, lobi-lobi, baca koran, interupsi, korupsi, fraksi, friksi, tawuran, uang ketok palu, anggaran rumah tangga, walk out, bagi-bagi kapling, suap, reses, dan penyimpangan-penyimpangan lainnya. Acara ini telah ditayangkan perdana pada hari Minggu, 17 februari 2008 pukul 21.05 wib di Metro TV. Dan akan ditayangkan setiap hari dan jam yang sama seperti diatas.
Tayangan parodi politik “DEMOCRAZY” menerima pro dan kontra. Yang pro menganggap bahwa tayangan ini merupakan sarana pendidikan politik bagi masyarakat, menjadi sarana penyampaian opini publik kepada pemerintah, kritikan kepada pemerintah, dan bentuk realita yang ada. Sedangkan yang kontra (pihak pemerintah) beranggapan bahwa parodi politik “DEMOCRAZY” itu merupakan suatu bentuk pelecehan terhadap pemerintah. Pemerintah mengajukan somasi kepada “DEMOCRAZY” karena dianggap menghina para pemimpin negeri.
Karenanya, reaksi yang datang dari pemerintah tentu saja mencerminkan ketakutan karena legitimasinya dirong-rong sedikit demi sedikit secara konsisten oleh para ‘tukang kritik’ yang kali ini memakai gaya humor dan parodi. Siapa yang tak kenal Butet Kertarajasa yang terkenal sebagai ‘tukang kritik’ sejak jaman Orde Baru yang akhirnya tumbang karena telah menekan kebebasan rakyat untuk berekspresi dalam ekonomi, politik, dan kebudayaan.
Menurut Djamaluddin Malik dan Subandy Ibrahim (1997: 61), keistimewaan bahasa adalah karena kehadirannya dalam jagad makna yang bisa digunakan untuk ‘membahasakan’ simbol-simbol yang lain. Bahasa yang telah terkontrol dan distandardisasi ini pada gilirannya menjadi instrumen kontrol perilaku dan jagad makna yang membangunkan kesadaran kita terhadap realitas sosial-politik yang ada. Ideologi bahasa yang ditebarkan oleh ‘DEMOCRAZY’ juga tak kalah dahsyatnya ditambah dengan muatannya yang nampaknya menggiring penonton untuk mentertawakan setiap tindakan, kebijakan, watak pemerintah khususnya dan elit-elit politik pada umumnya. Dan sebenarnya itu adalah khas psikologi parodi atau lawakan, yaitu selalu menertawakan segalanya. http://fenomena-koranpakoles2007.blogspot.com/2008/01/sorotparodi-politik.html
Apa yang dijelaskan diatas adalah fenomena yang terjadi di masyarakat sekarang ini. Kebebasan media berekspresi akan mendorong kebebasan memberikan opini pula. Penilaian atau opini publik terhadap pemerintah harus benar-benar sesuai dengan realita yang terjadi. Tayangan parodi politik “DEMOCRAZY” bisa menjadi salah satu referensi untuk menjadi sarana dalam melihat dan mengkritik kinerja legislative di senayan. Tapi sebaiknya publik harus benar-benar objektif dalam memberikan penilaian atau opininya mengenai pemerintah, baik melalui informasi yang didapat dari pemberitaan media, dari program-program politik seperti parodi politik yang berisi kritikan, ataupun dengan mengamati langsung dari lingkungan. Tayangan “DEMOCRAZY” telah menimbulkan persoalan sesuai dengan isi parodi tersebut yang dianggap “melecehkan” pemerintah serta memiliki potensi untuk meyakinkan audience tentang apa yang ada di dalam program tersebut mengenai kritikan dan evaluasi terhadap kinerja pemerintah.
B. PERUMUSAN MASALAH
Kenyataan dilapangan mengatakan bahwa banyak sekali kinerja anggota legislative yang tidak sesuai dengan apa yang seharusnya mereka kerjakan. Misalnya saja mulai dari persoalan para anggota DPR yang mendapat jatah mobil mewah, penyediaan laptop, renovasi rumah, dan kunjungan ke luar negeri. Ditengah kondisi negara yang dilanda gelombang persoalan, para elit politik masih sibuk mengurusi kepentingan diri sendiri ketimbang kepentingan rakyat. Tentu dalam hal ini jelas terlihat bagaiman masyarakat dirugikan akibat perilaku wakil – wakil mereka. Dana yang dihamburkan seharusnya bisa digunakan untuk kepentingan rakyat namun kenyataanya malah digunakan untuk kepentingan para elit politik. Ditengah-tengah kondisi negeri yang begitu ironis, ketika harga bahan pokok melambung tinggi, kemiskinan, pengangguran serta berbagai persoalan negeri lainnya yang memilukan dada seakan tidak mampu mengetuk hati kecil para elit politik. Kenyataan ini jauh dari apa yang diharapkan oleh masyarakat tentunya, harapan tentang wakil mereka yang berjuang demi masyarakat sirna sudah.
Hal-hal seperti inilah yang menjadi salah satu pembahasan di “DEMOCRAZY”, yaitu tentang kinerja pemerintah. Tayangan parodi politik “DEMOCRAZY” diminati masyarakat karena selain dianggap tayangan yang menghibur, dengan menonton tayangan tersebut masyarakat tahu permasalahan dalam negerinya, serta mampu mengkritisi kinerja dan kebijakan yang dibuat pemerintah. Peran parodi politik disini sebagai sendi demokrasi dalam konteks kebebasan berekspresi, mencatat dan menagih janji serta menjadi indikator popularitas dan keyakinan pejabat di mata rakyat.
Ditengah segala permasalahan yang melanda, parodi politik muncul sebagai salah satu pilihan untuk menghibur sekaligus mengkritisi segala kebijakan, kinerja para anggota legislative. Tayangan parodi politik “DEMOCRAZY” sangat diminati masyarakat karena selain dianggap tayangan yang menghibur, dengan menonton tayangan tersebut masyarakat dapat mengetahui permasalahan dalam negerinya, serta mampu mengkritisi kinerja dan kebijakan yang dibuat pemerintah.
Dengan efek yang luar biasa, media (DEMOCRAZY) menjadi saluran atau medium bagi khlayak untuk mngerti lebih baik lagi mengenai ‘perilaku’ anggota dewan yang terhormat yang selama ini mejadi wakil mereka (rakyat). Kebebasan media berekspresi akan mendorong kebebasan memberikan opini pula. Penilaian atau opini publik terhadap pemerintah harus benar-benar sesuai dengan realita yang terjadi. Apa yang diberikan media bisa menghasilkan beragam opini public, baik yang mendukung ataupun mengkritk habis – habisan tentang kinerja para legislative. Tayangan parodi politik “DEMOCRAZY” bisa menjadi salah satu referensi untuk menjadi sarana dalam melihat dan mengkritik kinerja legislative di senayan.
Acara yang ditayangkan satu kali dalam seminggu dengan durasi 60 menit ini cukup menarik perhatian audience, terutama yang peduli pada politik, dan masyarakat luas pada umumnya. Ini terlihat dari banyaknya masyarakat yang memberikan komentar positif mengenai tayangan ini dan dukungan masyarakat agar “DEMOCRAZY” tetap tayang ketika tayangan ini dikenakan somasi oleh pemerintah. Tayangan DEMOCRAZY memberi informasi tentang politik, kinerja pemerintah, mengkritik pemerintah, dan cukup meyakinkan publik tentang realita yang terjadi dalam dunia politik Indonesia.
Media massa, terutama televisi, menurut para ahli dipercaya secara langsung sangat mempengaruhi individu-individu (khalayak). Media dianggap sangat berkuasa dalam membentuk opini publik. Televisi sebagai media yang kekuasaannya kuat dalam mempengaruhi opini publik. Media televisi dapat menggalakkan partisipasi dan komunikasi sosial, mendidik, dan mengkritik, serta mampu meyakinkan publik akan porsi yang ditawarkan oleh media. Pengaruh yang diberikan oleh media televisi amat luar biasa. Dalam setiap tayangan – tayangan yang kita lihat setiap harinya secara tidak langsung telah mengajarkan dan mempengaruhi cara berpikir kita tentang sesuatu. Karena apa yang kita lakukan atau pikirkan bisa dilihat dari apa yang kita terima. Hal ini juga berpengaruh pada bentukan opini public tentang kinerja legislatif
Dari penjelasan dan uraian di atas, maka dapat diteliti apakah intensitas menonton tayangan parodi politik “DEMOCRAZY” berpengaruh terhadap opini publik mengenai kinerja anggota legislative.
C. TUJUAN
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui hubungan antara intensitas menonton tayangan parodi politik “DEMOCRAZY” dengan opini publik mengenai kinerja anggota legislative.
D. KERANGKA TEORI
Joseph A. devito mengemukakan definisi komunikasi massa sebagai berikut : komunikasi massa adalah komunikasi yang ditujukan kepada massa, kepada khalayak yang luar biasa banyaknya. Kedua, komunikasi massa adalah komunikasi yang disalurkan oleh pemancar-pemancar yang audio dan atau visual (media). Komunikasi massa akan lebih mudah dan lebih logis bila didefinisikan menurut bentuknya (televisi, radio, surat kabar, majalah, film, buku, dan pita). Dalam komunikasi massa melalui media massa ini, sejumlah pesan akan digunakan, dimengerti, dan bisa juga mempengaruhi audience.
Menurut Mc.Luhan, media massa adalah perpanjangan alat indera kita (sense extention theory; teori perpanjangan alat indera). Dengan media massa kita memperoleh informasi tentang benda, orang atau tempat yang belum pernah kita lihat atau belum pernah kita kunjungi secara langsung. Realitas yang ditampilkan oleh media massa adalah relaitas yang sudah diseleksi. Kita cenderung memperoleh informasi tersebut semata-mata berdasarkan pada apa yang dilaporkan media massa. hal ini didukung oleh sebuah konsep dimana khlayak media massa dianggap begitu pasif sehingga dapat dengan mudah dipengaruhi secara langsung oleh media (Winarso 2005 : 73). Konsep tersebut diperkuat oleh teori ‘magic bullet’ yang mengatakan individu – individu dipercaya secara langsung dapat dipengaruhi oleh media massa. (Winarso 2005 : 106)
Dari beberapa jenis media massa yang ada, televisi merupakan media massa yang paling berpengaruh dalam kehidupan manusia karena televisi mempunyai kelebihan dari media massa lainnya yaitu bersifat audiovisual (didengar dan dilihat), dapat menggambarkan kenyataan dan langsung dapat menyajikan peristiwa yang sedang terjadi ke setiap rumah para pemirsa dimanapun mereka berada (Ardianto, 2007 : 40). Televisi mempengaruhi segala bidang kehidupan, termasuk bidang politik. Melalui fungsi surveillence, media massa memberikan informasi kepada masyarakat. Segala peristiwa dan kejadian, di mana saja di sekitar kita baik dekat maupun jauh hampir tidak pernah luput dari pemberitaan media massa.
Mulai banyak muncul program-program politik di televisi, seperti debat politik, talkshow, survey interaktif, dan sebagainya. Salah satu program politik yang sedang digemari adalah parodi politik DEMOCRAZY. Banyaknya program-program ini juga semakin meningkatkan intensitas khalayak menonton televisi. Banyaknya program-program ini juga semakin meningkatkan intensitas khalayak menonton televisi. Menurut Onong Uchjana Effendy, intensitas menonton televisi adalah tingkat kedalaman seseorang menyaksikan acara-acara di televisi, baik secara kuantitas maupun secara kualitas (Effendy, 1993 : 31). Dalam menjalankan fungsi komunikasi massa, institusi media massa menjalankan peran mediasi (penengah/penghubung). Dalam hal ini, McQuail menyebutkan peran media massa sebagai Jendela pengalaman yang meluaskan pandangan kita dan memungkinkan kita mampu memahami apa yang terjadi di sekitar diri kita, tanpa campur tangan pihak lain atau sikap memihak.
Ada alasan mengapa orang memperhatikan media massa, yaitu karena mereka berusaha menambah khazanah pengetahuan (informasi) atau memperolah bimbingan (opini). Opini Publik menurut Goldenberg adalah kumpulan pendapat orang mengenai hal ihwal yang mempengaruhi atau menarik minat komunitas (Nimmo 2005 : 10). Informasi akan men-struktur atau mengorganisasi realitas, sehingga realitas tampak sebagai gambaran yang mempunyai makna. Media massa penyebar informasi bagi pemirsa, berbagai informasi dibutuhkan oleh khalayak media mssa tersebut karena mereka (khalayak ) adalah makhluk sosial yang haus akan informasi (Ardianto, Lukiati, Karlina. 2007 : 18). Media sebagai komunikator menduduki posisi yang penting dalam proses komunikasi opini karena kenyataan bahwa kita memperoleh begitu banyak informasi politik langsung dari siaran televisi, radio, dan dari surat kabarAdapun opini yang muncul itu menyangkut kinerja Pemerintah, yaitu berupa kebijakan-kebijakan politik yang dibuat oleh pemimpin negara seperti dalam rangka hubungan luar negeri, pertahanan dan keamanan, anggaran belanja negara, kewarganegaraan, nasionalisasi, perubahan susunan dan sistem pemerintahan, penegakan HAM, pemberantasan korupsi, partai politik, pemilu, kabinet Presiden, otonomi daerah, dan sebagainya. Begitu pula yang dilakukan oleh DEMOCRAZY sebagai komunikator politik yang menciptakan opini. Opini tersebut diterima oleh khalayak, dipertimbangkan, kemudian menimbulkan opini publik.
Media massa, terutama televisi, menurut para ahli dipercaya secara langsung sangat mempengaruhi individu-individu (khalayak). Menurut Sproule (1989), media dianggap sangat berkuasa dalam membentuk opini publik. Penelitian McQuail (1991), menyatakan bahwa televisi sebagai media yang kekuasaannya kuat dalam mempengaruhi opini publik (Winarso, 2005 : 106-107). Hal ini sesuai dengan teori masyarakat massa dan kekuasaan yang memberikan gambaran jelas mengenai keberadaan dan kadar kekuasaan media dalam masyarakat yang ditandai oleh luasnya jangkauan, keterpencilan institusi, isolasi individu, dan kurangnya integrasi kelompok setempat. Kenyataan ini menunjukkan bahwa media dapat dikendalikan atau dikelola untuk dijadikan sebagai alat utama yang efektif dalam mengorganisasi massa, kelompok khalayak, konsumen, pasar, dan pemilih. Teori masyarakat massa memberi kedudukan terhormat kepada media sebagai penggerak dan pengaman teori masyarakat massa. Teori ini juga sangat mengunggulkan gagasan yang menyatakan bahwa media menyuguhkan pandangan tentang dunia, semacam pengganti atau lingkungan semu (pseudo-environment) yang merupakan sarana ampuh untuk memanipulasi orang.
Media bukan saja membentuk hubungan ketergantungan (dependensi) warga masyarakat terhadap media dalam hal penciptaan pendapat, tetapi juga dalam hal penciptaan identitas dan kesadaran, Gagasan dimana khlayak tergantung pada informasi media untuk memenuhi kebutuhan akan informasi dan pencapaian tujuan adalah inti dari teori ketergantungan (Winarso 2005 : 115). Tayangan parodi politik DEMOCRAZY tersebut diduga memiliki pengaruh terhadap opini publik. Hal ini dilihat dari sisi media bahwa media massa seringkali dipandang sebagai alat kekuasaan yang efektif karena kemampuannya untuk menarik dan mengarahkan perhatian, membujuk pendapat dan anggapan (opini), mempengaruhi pilihan sikap, memberikan status legitimasi, serta mendefinisikan dan membentuk persepsi realitas (McQuail, 1996 : 82).
Dalam kaitannya dengan persoalan bahwa tayangan DEMOCRAZY berpengaruh terhadap opini, hal ini dapat dikaitkan dengan adanya efek pesan dari media massa. Penelitian tentang efek media massa ini untuk mengetahui sejauh mana kehadiran suatu media atau proses penyampaian pesan mempengaruhi khalayak dalam berpikir, bersikap, dan berperilaku. Tayangan parodi politik DEMOCRAZY tersebut diduga memiliki potensi untuk berpengaruh dan menghasilkan efek bagi khalayak yang menontonnya. Hal ini didukung oleh teori keperkasaan efek. Komunikasi massa dapat mempunyai efek perkasa atau besar jika digunakan dalam program atau kampanye yang dipersiapkan secara cermat berdasarkan prinsip-prinsip teori komunikasi. Menurut Elizabeth Noelle-Neuman (1973) dalam Return to the Concept of Powerfull Mass Media : media massa mempunyai efek perkasa terhadap opini publik. Selanjutnya lebih memperkuat pandangan dari apa yang dianggap sebagai opini publik, Noelle-Neuman menghubungkan konsepnya dengan gagasan dari Lippman,Walter Lippman (1965) menyebutnya "picture of reality" (Suprapto, 2006 : 52). Teori ini sangat mendukung bahwa tayangan DEMOCRAZY mampu mempengaruhi opini publik.
Efek komunikasi massa adalah bagaimana media menambah pengetahuan, mengubah sikap, atau menggerakkan perilaku kita. Ada tiga efek pesan media massa, yaitu :
Efek Kognitif adalah akibat yang timbu pada didri komunikan yang sifatnyaninformatif bagi dirinya (transmisi pengetahuan, keterampilan, kepercayaan, atau informasi ). Media massa dapat membantu khalayak dalam mempelajari informasi yang bermanfaat dan mengembangkan keterampilan kognitifnya (Ardianto, 2005 : 53).
Efek afektif menjelaskan bahwa media massa bukan hanya sekedar memberitahu khalayak tentang sesuatu, tetapi lebih dari itu, khalayak diharapkan dapat turut merasakan perasaan iba, terharu, sedih, gembira, marah dan sebagainya (Ardianto, 2005 : 54).
Efek behavioral merupakan akibat yang timbul pada diri khalayak dalam bentuk perilaku, tindakan atau kegiatan (Ardianto, 2005 : 56). Perubahan perilaku yang terjadi adalah perilaku atau kegiatan yang bisa diamati, misalnya seorang wanita meniru potongan rambut Lady Diana yang disiarkan oleh media massa.
Dalam kaitannya dengan efek media massa, tayangan parodi politik DEMOCRAZY diduga dapat menimbulkan efek sampai pada tahap efek behavioral bagi khalayaknya. Tayangan ini awalnya memberikan pengetahuan tentang kondisi politik negeri dan kebijakan-kebijakan atau kinerja para pemimpin politik negeri sehingga mendorong proses berpikir bagi publik tentang kinerja pemerintah seperti apa yang diceritakan dalam tayangan tersebut. Kemudian muncul perasaan-perasaan tertentu dalam diri publik, apakah senang dan puas dengan kinerja Pemerintah, atau tidak senang dan tidak puas dengan kinerja Pemerintah. Dan pada tahap akhir adalah menimbulkan efek behavioral, dimana muncul tindakan dari publik yang menyampaikan opininya tentang kinerja Pemerintah dalam bentuk pernyataan, bahkan jika ada publik yang tidak puas dengan kinerja Pemerintah, public sering melakukan aksi demo.
Dengan demikian dapat dilihat sejauh mana hubungan antara pengaruh media massa khususnya televisi melalui tayangan parodi politik DEMOCRAZY dalam waktu lama sehingga mempengaruhi publik dalam memberikan opininya terhadap kinerja Pemerintah. Pembentukan opini bagi setiap individu akan dipengaruhi oleh faktor internal maupun eksternalnya.
Berdasarkan uraian kerangka teori di atas, dapat kita ketahui hubungan antar variabel dapat digambarkan dalam diagram geometri sebagai berikut :
Variable Bebas (X)
Intensitas mengkonsumsi
parodi politik DEMOCRAZY
'
Variable Terikat (Y)
Opini publik mengenai
kinerja anggota legislatif
E. HIPOTESIS
Ada pengaruh negatif antara intensitas mengkonsumsi tayangan parodi politik DEMOCRAZY terhadap opini publik mengenai kinerja anggota legislatif, artinya semakin tinggi intensitas khalayak mengkonsumsi tayangan parodi politik DEMOCRAZY, semakin negatif pula opini publik yang muncul tentang kinerja anggota legislatif.
F. DEFINISI KONSEPTUAL DAN OPERASIONAL
Adapun definisi konseptual dari penelitian ini adalah :
© Intensitas mengkonsumsi tayangan parodi politik DEMOCRAZY adalah tingkat konsumsi seseorang menyaksikan tayangan parodi politik DEMOCRAZY, baik secara kuantitas maupun secara kualitas.
© Opini publik mengenai kinerja anggota legislatif adalah kumpulan pendapat orang mengenai hal ihwal yang mempengaruhi atau menarik minat dari komunitas tertentu mengenai kinerja anggota legislatif mencakup pengawasan dan penindaklanjutan terhadap RAPBN, menetapkan dan mengubah Undang-Undang Dasar dan pengawasan terhadap suatu pemerintahan .
Adapun definisi operasional dari penelitian ini adalah :
© Intensitas menonton tayangan parodi politik DEMOCRAZY Merupakan tingkat kedalaman seseorang dalam mengkonsumsi tayangan parodi politik DEMOCRAZY, baik secara kualitas maupun kuantitas.
Adapun indikator-indikator untuk mengukur intensitas menonton, yaitu :
· Lama atau waktu mengkonsumsi tayangan parodi politik DEMOCRAZY dalam satu kali tayang, yaitu banyaknya waktu yang dihabiskan seseorang untuk mengkonsumsi tayangan DEMOCRAZY dalam satu kali tayang.
· Frekuensi menonton tayangan parodi politik DEMOCRAZY dalam satu bulan, yaitu banyaknya mengkonsumsi tayangan DEMOCRAZY dalam satu bulan.
· Perhatian atau keseriusan penonton dalam menyimak tayangan parodi politik DEMOCRAZY, yaitu tingkat kedalaman seseorang dalam hal perhatian dan keseriusan ketika menonton tayangan DEMOCRAZY.
© Opini publik mengenai kinerja anggota legislatif merupakan pendapat yang muncul dari publik terkait dengan kinerja anggota legislatif. Adapun indikator-indikator untuk mengukur opini publik mengenai kinerja anggota legislatif , yaitu :
Macam-macam kinerja dan kebijakan anggota legislatif :
· Opini publik mengenai kebijakan berkaitan dengan tugas legislatif menetapkan dan mengubah Undang-Undang Dasar. Karena UUD adalah salah satu hal yang mendasar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Skala pengukurannya menggunakan skala ordinal.
· Opini publik mengenai kinerja kabinet pemerintahan, yaitu pendapat yang muncul dari publik mengenai kinerja anggota legislatif dalam bidang pengawasan agar menjalankan pengawasan terhadap suatu pemerintahan secara efektif. Skala pengukurannya menggunakan skala ordinal.
· Opini publik mengenai pengawasan dan penindaklanjutan terhadap RAPBN ( rancangan anggaran pendapatan belanja negara), dalam bidang anggaran dapat membuat perencanaan anggaran berlandaskan cost effectiveness. Skala pengukurannya menggunakan skala ordinal.
METODE PENELITIAN
I. TIPE PENELETIAN
Tipe yang dipakai dalam penelitian ini adalah explanatory, yaitu penelitian yang bertujuan untuk menjelaskan hubungan antara dua atau lebih gejala atau variable (Ulber 2009 : 30), yaitu antara pengaruh intensitas menonton tayangan parodi politik DEMOCRAZY yang merupakan variabel bebas (X) terhadap variabel terikat yaitu opini publik mengenai kinerja anggota legislatif (Y).
II. POPULASI DAN SAMPEL
© Populasi
Populasi dalam penelitian ini diambil dari kota Jakarta yang berpenduduk 8.513.385. jakarta diambil sebagai populasi dalam peneletian ini karena kota ini dianggap memenuhi setidaknya dua unsur yang menjadi target audience bagi tayangan parody politik DEMOCRAZY, yaitu 23 - 40 tahun keatas dari kelas sosio-ekonomi ke atas (B-AB-A) atau yang memiliki pengeluaran rutin bulanan rumah tangganya di atas Rp 1,75 juta (AGB Nielsen Media Research). Jakarta memiliki sekitar 4.647.476 penduduk usia produktif yang rata – rata lulusan SMA – Strata 1 (DepKominfo.Newsroom.com). serta upah minimum daerah tertinggi yaitu Rp 976.800 – Rp 1.350.000 per bulan (www.kompas.com).
© Sampel
Sampel dari penelitian ini adalah beberapa orang yang dianggap berpotensi sebgai responden, yang tetap masuk dalam kategori populasi. Menurut Krejcie dan Morgan, apabila jumlah populasi lebih dari 1 juta orang maka jumlah sampel yang diambil sebanyak 384 orang mewakili dari populasi 8.513.385 jiwa (Sekaran, 2006 : 253). Jadi, sampel dalam penelitian ini adalah 384 orang. Penelitian ini menggunakan teknik simple random sampling, yaitu cara menarik anggota sampel dari populasi secara acak (random) (Ulber 2009 : 261). Sampel akan dipilih secara acak sesuai dengan syarat yang sesuai dengan populasi. Teknik ini merupakan cara terbaik memperoleh sampel yang representatif karena probabilitasnya sangat tinggi dibanding dengan yang lain (Ulber 2009 : 261).
III. TEKNIK DAN ALAT PENGUMPULAN DATA
a. Teknik pengumpulan data
Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan kuesioner yang akan diisi oleh responden.
b. Alat pengumpulan data
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner, yaitu kumpulan daftar pertanyaan yang disusun secara sistematis dan berisi alternatif jawaban yang terstruktur yang harus diisi oleh responden.
IV. SUMBER DATA
© Primer :
Data yang diperoleh langsung dari objek penelitian, yaitu data dari responden yang mengisi kuesioner yang dibagikan.
© Sekunder :
Data yang diperoleh secara tidak langsung, yaitu dari dokumen dan arsip-arsip yang telah dikumpulkan oleh pihak lain, serta sumber-sumber lain yang mempunyai relevansi dengan masalah yang diteliti.
V. TEKNIK PENGOLAHAN DATA
Setelah data yang dibutuhkan telah terkumpul, maka akan dilakukan pengolahan data melalui langkah-langkah sebagai berikut :
© Editing :
Melakukan kegiatan meneliti dan mengoreksi kembali keseluruhan data yang telah diperoleh dalam daftar pertanyaan dari responden. Apakah sesuai dengan ketentuan atau tidak.
© Koding
Melakukan kegiatan mengklarifikasikan jawaban dari responden menurut macam atau jenisnya dengan tanda atau kode tertentu yang biasanya berbentuk angka.
© Tabulasi
Menyajikan data yang diperoleh dari hasil penelitian dalam bentuk tabel.
VI. ANALISA DATA
Analisa kuantitatif merupakan analisis data yang ditujukan pada data-data berupa angka-angka. Setelah data terkumpul kemudian diklasifikasikan dalam kategori-kategori, maka dihitung dengan analisa kuantitatif yang dilakukan dengan menggunakan uji statistik. Untuk melakukan uji hipotesis dalam penelitian ini yang menunjukkan adanya korelasi antara variabel (X) yaitu intensitas mengkonsumsi tayangan parodi politik DEMOCRAZY dengan variabel (Y) yaitu opini publik mengenai kinerja anggota legislatif, maka digunakan rumus Koefisien Korelasi Rank Kendall’s (Suparmoko, 1987). Rumus ini digunakan untuk menghitung hubungan antar variabel yang datanya ordinal. Adapun rumusnya adalah sebagai berikut :
Keterangan :
t : Koefisien Korelasi Rank Kendall’s
S : Skor sebenarnya adalah jumlah rank yang lebih tinggi di kanan
dikurangi jumlah rank yang lebih rendah di kiri
N : banyaknya obyek / individu yang diuraikan pada X dan Y
Tx : ½ S t (t – 1), t adalah banyak observasi berangka sama dalam tiap
kelompok angka sama pada variabel X
Ty : ½ S t (t - 1), t adalah banyak observasi berangka sama dalam tiap
kelompok angka sama pada variabel Y
Selanjutnya, untuk menguji tingkat signifikansinya digunakan rumus :
Kriteria penerimaan atau penolakan hipotesis :
Jika z hitung ≥ z table 1% : sangat signifikan
Jika z hitung ≥ z table 5% : signifikan
Jika z hitung ≤ z table 5% : tidak signifikan
DAFTAR PUTAKA :
· Ardianto, Elvinaro. 2004. Komunikasi Massa : Suatu Pengantar. Bandung : Remaja Rosdakarya.
· Ardianto, Elvinaro. Komala, Lukiati. Karlina, Siti. 2007. Komunikasi Massa : sebuah pengantar. Edisi revisi
· Effendy, Onong Uchjana. 1993. Dinamika Komunikasi. Bandung : Remaja Rosdakarya.
· McQuail, 1987, Teori Komunikasi Massa: Suatu Pengantar, Jakarta: Erlangga
· Nurudin. 2003. Komunikasi Massa. Malang : Cespur.
· Nurudin. 2007, Pengantar Komunikasi massa. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
· Sekaran, Uma. 2006. Research Methods for Business Askill Building Approach 2 Edition. USA : Souther Illinois University at Carbondale
· Sugianto. 2008. Terkikisnya Etika Politik. dalam Kompas Jawa Tengah, 11 April 2008, kolom Forum : D.
Suparmoko, M. 1987. Metode Penelitian Praktis. Yogyakarta : BPFE.
Suprapto, Tommy. 2006. Pengantar Teori Komunikasi. Yogyakarta : Media Pressindo.
· Silalahi, Ulber. 2009. Metode penelitian sosial. Bandung : Reflika Aditama
· Winarso, Heru Puji. 2005. Sosiologi Komunikasi Massa. Jakarta : Prestasi Pustaka.
WEBSITE :
· http://www.freelists.org/post/ppi/ppiindia-Mengendalikan-Politik-TV-dan-Radio
· (Anonim. 2008. “Pelajar Gandrungi Tayangan Parodi Politik”, dalam http://www.pdiperjuangan-jatim.org/v02/?mod=berita&id=439).
· http://fenomena-koranpakoles2007.blogspot.com/2008/01/sorotparodi-politik.html
· http://www.kompas.com/
· http://www.Kominfo-Newsroom/Survei kepemirsaan televisi
Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla mengatakan, “media televisi memberikan pengaruh yang sangat besar dalam tatanan kehidupan setiap penduduk bumi Indonesia ini”. Bahkan lebih tajam dan kuat dari senjata (pemberitaan di TRANS 7 mengenai kasus syekh Puji). Hal ini cukup beralasan, sebab dalam praktiknya, media televisi seakan-akan ‘menyodorkan’ segala kebutuhun kita, mulai dari kebutuhan akan informasi hingga hiburan. Dalam hampir setiap aspek kehidupan individu yang mengkonsumsi yang disediakan oleh media massa. Dan hal ini tidak hanya sebagai suatu hiburan semata atau media sebagai ‘pemuas’ akan informasi tapi hal ini sangat mempengaruhi publik.
Di abad informasi, tak ada yang lebih berpengaruh daripada TV. Begitu besarnya pengaruh TV, bahkan banyak pihak yang menyatakan TV lebih penting dalam pendidikan politik ketimbang partai politik. Begitu banyak warga negara yang kontak dengan televisi setiap hari. Di kamar tidur, di ruang keluarga, bahkan di ruang tunggu berbagai gedung, televisi bercokol. Setiap berita dikemas dalam gambar dan suara, disajikan kepada penonton, membuat TV merasuk ke dalam kesadaran penonton secara lebih dalam. Runtuhnya gedung WTC di New York dalam sekejap diketahui penduduk di Jakarta melalui TV. Imam Samudra yang tertangkap di Merak, seketika wajahnya dilihat oleh warga di Aceh atau Papua. Skandal Akbar Tandjung menjadi isu nasional karena televisi. Penderitaan warga di Nunukan, Kalimantan, dilihat oleh aktivis di Jakarta melalui TV. Dengan mudah, TV menentukan apa yang harus dibicarakan, bahkan apa yang harus dipikirkan. TV ada di mana-mana. Kita tak bisa lagi hidup tanpa TV. http://www.freelists.org/post/ppi/ppiindia-Mengendalikan-Politik-TV-dan-Radio
Media televisi sangat diminati karena memiliki karakteristik yang berbeda dengan media lain, yaitu audiovisual, sehingga dapat didengar sekaligus dapat dilihat. Khalayak televisi dapat melihat gambar yang bergerak disertai dengan suara (Ardianto dan Erdinaya, 2004 : 128). Dengan menonton televisi, audience seakan-akan ikut dalam tayangan yang ditayangkan di televisi, memberikan pengalaman seolah-olah audience mengalaminya sendiri. Dengan kelebihan yang dimilikinya ini, televisi dapat menarik perhatian audience sehingga informasi ataupun hiburan melalui televisi menjadi lebih efektif.
Sejak masa reformasi, dimana diberikannya kebebasan kepada media untuk berekspresi juga berpengaruh pada program-program televisi. Banyak program-program televisi baru yang bermunculan untuk menarik perhatian audience. Media mulai memainkan perannya sebagai pemberi informasi kepada khalayak, termasuk di bidang politik seperti tersebut di atas. Mulai era ini, selain berperan sebagai sarana pemenuhan informasi yang akan memberikan pendidikan politik bagi khalayak, media juga berfungsi sebagai alat pengawasan politik. Media berfungsi dalam pengawasan instrumental. Aktualisasinya adalah penyebaran informasi politik yang berguna bagi khalayak. Media bertugas mengawasi kinerja dan kebijakan yang dibuat pemerintah, kemudian menginformasikannya pada publik sebagai khalayak media (Nurudin, 2003 : 77).
Seiring dengan adanya kebebasan pers, program-program berbau politik seperti dialog politik, debat politik, dan talkshow juga semakin banyak. Program yang cukup menarik khalayak adalah talkshow karena konsep acaranya yang lebih santai. Metro TV sebagai salah satu stasiun televisi yang bersegmen pemberitaan memiliki program talkshow politik yang sangat beragam, antara lain Suara Anda, Bedah Editorial, Survei Interaktif Padamu Negeri, serta Democrazy. Dengan adanya tayangan-tayangan tersebut akan memberikan pendidikan politik kepada publik.
Melalui program-program politik tersebut menjadi sarana bagi publik untuk memperoleh informasi politik, mengkritik kinerja pemerintah, dan menyampaikan opininya mengenai kebijakan-kebijakan dan kinerja para pemegang kekuasaan politik negeri. Publik mulai berani mengungkapkan opininya mengenai kinerja pemerintah, baik opini yang positif ataupun negatif. Media massa, terutama televisi, menurut para ahli dipercaya secara langsung sangat mempengaruhi individu-individu (khalayak). Menurut Sproule (1989), media dianggap sangat berkuasa dalam membentuk opini publik. Berdasarkan penelitian McQuail (1991), memusatkan pada televisi sebagai media yang kekuasaannya kuat dalam mempengaruhi opini publik (Winarso, 2005 : 106-107). Peran media massa sangat efektif dalam menghimpun kekuatan dan opini publik. Peran media massa, termasuk televisi tidak hanya menjadi media penyampai informasi saja, tetapi juga menjadi sarana alternatif menyampaikan aspirasi. Wacana politik yang beredar dan tersebar luas tidak luput dari peran besar media termasuk televisi. Media televisi dapat menggalakkan partisipasi dan komunikasi sosial, mendidik, dan mengkritik, serta mampu meyakinkan publik akan porsi yang ditawarkan oleh media.
Mayoritas dari tayangan yang beredar banyak di media TV mencoba untuk mengkritisi apa yang terjadi dengan para elit politik di senayan. Misalnya saja mulai dari persoalan para anggota DPR yang mendapat jatah mobil mewah, penyediaan laptop, renovasi rumah, dan kunjungan ke luar negeri. Ditengah kondisi negara yang dilanda banyak persoalan, para elit politik masih sibuk mengurusi kepentingan diri sendiri ketimbang kepentingan rakyat. Kenyataan seperti ini yang menimbulkan banyak pergunjingan pada masyrakat luas. Pro – kontra ini memberikan persepsi dari kinerja legislatif yang dianggap bahwa etika politik para pemimpin telah terkikis. Etika politik yang seharusnya menjadi tembok atas kesewenang-wenangan politik hanya menjadi pemanis bibir oleh elit politik. Tujuan utama pemimpin politik demi kepentingan pribadi diutamakan daripada kepentingan rakyat banyak (Sugianto. 2008 : D. “Terkikisnya Etika Politik” dalam kolom “Forum”, Kompas Jawa Tengah).
Tayangan parodi politik adalah salah satu talkshow politik yang sedang diminati masyarakat. Karena selain dianggap tayangan yang menghibur, dengan menonton tayangan tersebut masyarakat tahu permasalahan dalam negerinya, serta mampu mengkritisi kinerja dan kebijakan yang dibuat pemerintah (Anonim. 2008. “Pelajar Gandrungi Tayangan Parodi Politik”, dalam http://www.pdiperjuangan-jatim.org/v02/?mod=berita&id=439).
Metro TV salah satu stasiun TV yang tak henti – hentinya menelurkan acara acara kreatif nan menghibur bagi masyarakat Indonesia. DEMOCRAZY merupakan sebuah program acara yang mengedepankan unsur politik nan menghibur dalam bentuk talkshow, bercerita tentang kegiatan parlemen dalam menghadapi & memecahkan masalah aktual bangsa dan terkadang mengkritik dan menyindirpara anggota legislatif.
Pengemasan acara DEMOCRAZY ini cenderung santai dan komedikal namun tetep memberikan solusi. Ide ide lucu dan segar akan menghiasa setiap tayangannya seperti sidang tapi tidur, sms, telepon, uang komisi, absensi, jalan-jalan ke luar negeri, tunjangan rumah, renovasi, bagi-bagi laptop, lobi-lobi, baca koran, interupsi, korupsi, fraksi, friksi, tawuran, uang ketok palu, anggaran rumah tangga, walk out, bagi-bagi kapling, suap, reses, dan penyimpangan-penyimpangan lainnya. Acara ini telah ditayangkan perdana pada hari Minggu, 17 februari 2008 pukul 21.05 wib di Metro TV. Dan akan ditayangkan setiap hari dan jam yang sama seperti diatas.
Tayangan parodi politik “DEMOCRAZY” menerima pro dan kontra. Yang pro menganggap bahwa tayangan ini merupakan sarana pendidikan politik bagi masyarakat, menjadi sarana penyampaian opini publik kepada pemerintah, kritikan kepada pemerintah, dan bentuk realita yang ada. Sedangkan yang kontra (pihak pemerintah) beranggapan bahwa parodi politik “DEMOCRAZY” itu merupakan suatu bentuk pelecehan terhadap pemerintah. Pemerintah mengajukan somasi kepada “DEMOCRAZY” karena dianggap menghina para pemimpin negeri.
Karenanya, reaksi yang datang dari pemerintah tentu saja mencerminkan ketakutan karena legitimasinya dirong-rong sedikit demi sedikit secara konsisten oleh para ‘tukang kritik’ yang kali ini memakai gaya humor dan parodi. Siapa yang tak kenal Butet Kertarajasa yang terkenal sebagai ‘tukang kritik’ sejak jaman Orde Baru yang akhirnya tumbang karena telah menekan kebebasan rakyat untuk berekspresi dalam ekonomi, politik, dan kebudayaan.
Menurut Djamaluddin Malik dan Subandy Ibrahim (1997: 61), keistimewaan bahasa adalah karena kehadirannya dalam jagad makna yang bisa digunakan untuk ‘membahasakan’ simbol-simbol yang lain. Bahasa yang telah terkontrol dan distandardisasi ini pada gilirannya menjadi instrumen kontrol perilaku dan jagad makna yang membangunkan kesadaran kita terhadap realitas sosial-politik yang ada. Ideologi bahasa yang ditebarkan oleh ‘DEMOCRAZY’ juga tak kalah dahsyatnya ditambah dengan muatannya yang nampaknya menggiring penonton untuk mentertawakan setiap tindakan, kebijakan, watak pemerintah khususnya dan elit-elit politik pada umumnya. Dan sebenarnya itu adalah khas psikologi parodi atau lawakan, yaitu selalu menertawakan segalanya. http://fenomena-koranpakoles2007.blogspot.com/2008/01/sorotparodi-politik.html
Apa yang dijelaskan diatas adalah fenomena yang terjadi di masyarakat sekarang ini. Kebebasan media berekspresi akan mendorong kebebasan memberikan opini pula. Penilaian atau opini publik terhadap pemerintah harus benar-benar sesuai dengan realita yang terjadi. Tayangan parodi politik “DEMOCRAZY” bisa menjadi salah satu referensi untuk menjadi sarana dalam melihat dan mengkritik kinerja legislative di senayan. Tapi sebaiknya publik harus benar-benar objektif dalam memberikan penilaian atau opininya mengenai pemerintah, baik melalui informasi yang didapat dari pemberitaan media, dari program-program politik seperti parodi politik yang berisi kritikan, ataupun dengan mengamati langsung dari lingkungan. Tayangan “DEMOCRAZY” telah menimbulkan persoalan sesuai dengan isi parodi tersebut yang dianggap “melecehkan” pemerintah serta memiliki potensi untuk meyakinkan audience tentang apa yang ada di dalam program tersebut mengenai kritikan dan evaluasi terhadap kinerja pemerintah.
B. PERUMUSAN MASALAH
Kenyataan dilapangan mengatakan bahwa banyak sekali kinerja anggota legislative yang tidak sesuai dengan apa yang seharusnya mereka kerjakan. Misalnya saja mulai dari persoalan para anggota DPR yang mendapat jatah mobil mewah, penyediaan laptop, renovasi rumah, dan kunjungan ke luar negeri. Ditengah kondisi negara yang dilanda gelombang persoalan, para elit politik masih sibuk mengurusi kepentingan diri sendiri ketimbang kepentingan rakyat. Tentu dalam hal ini jelas terlihat bagaiman masyarakat dirugikan akibat perilaku wakil – wakil mereka. Dana yang dihamburkan seharusnya bisa digunakan untuk kepentingan rakyat namun kenyataanya malah digunakan untuk kepentingan para elit politik. Ditengah-tengah kondisi negeri yang begitu ironis, ketika harga bahan pokok melambung tinggi, kemiskinan, pengangguran serta berbagai persoalan negeri lainnya yang memilukan dada seakan tidak mampu mengetuk hati kecil para elit politik. Kenyataan ini jauh dari apa yang diharapkan oleh masyarakat tentunya, harapan tentang wakil mereka yang berjuang demi masyarakat sirna sudah.
Hal-hal seperti inilah yang menjadi salah satu pembahasan di “DEMOCRAZY”, yaitu tentang kinerja pemerintah. Tayangan parodi politik “DEMOCRAZY” diminati masyarakat karena selain dianggap tayangan yang menghibur, dengan menonton tayangan tersebut masyarakat tahu permasalahan dalam negerinya, serta mampu mengkritisi kinerja dan kebijakan yang dibuat pemerintah. Peran parodi politik disini sebagai sendi demokrasi dalam konteks kebebasan berekspresi, mencatat dan menagih janji serta menjadi indikator popularitas dan keyakinan pejabat di mata rakyat.
Ditengah segala permasalahan yang melanda, parodi politik muncul sebagai salah satu pilihan untuk menghibur sekaligus mengkritisi segala kebijakan, kinerja para anggota legislative. Tayangan parodi politik “DEMOCRAZY” sangat diminati masyarakat karena selain dianggap tayangan yang menghibur, dengan menonton tayangan tersebut masyarakat dapat mengetahui permasalahan dalam negerinya, serta mampu mengkritisi kinerja dan kebijakan yang dibuat pemerintah.
Dengan efek yang luar biasa, media (DEMOCRAZY) menjadi saluran atau medium bagi khlayak untuk mngerti lebih baik lagi mengenai ‘perilaku’ anggota dewan yang terhormat yang selama ini mejadi wakil mereka (rakyat). Kebebasan media berekspresi akan mendorong kebebasan memberikan opini pula. Penilaian atau opini publik terhadap pemerintah harus benar-benar sesuai dengan realita yang terjadi. Apa yang diberikan media bisa menghasilkan beragam opini public, baik yang mendukung ataupun mengkritk habis – habisan tentang kinerja para legislative. Tayangan parodi politik “DEMOCRAZY” bisa menjadi salah satu referensi untuk menjadi sarana dalam melihat dan mengkritik kinerja legislative di senayan.
Acara yang ditayangkan satu kali dalam seminggu dengan durasi 60 menit ini cukup menarik perhatian audience, terutama yang peduli pada politik, dan masyarakat luas pada umumnya. Ini terlihat dari banyaknya masyarakat yang memberikan komentar positif mengenai tayangan ini dan dukungan masyarakat agar “DEMOCRAZY” tetap tayang ketika tayangan ini dikenakan somasi oleh pemerintah. Tayangan DEMOCRAZY memberi informasi tentang politik, kinerja pemerintah, mengkritik pemerintah, dan cukup meyakinkan publik tentang realita yang terjadi dalam dunia politik Indonesia.
Media massa, terutama televisi, menurut para ahli dipercaya secara langsung sangat mempengaruhi individu-individu (khalayak). Media dianggap sangat berkuasa dalam membentuk opini publik. Televisi sebagai media yang kekuasaannya kuat dalam mempengaruhi opini publik. Media televisi dapat menggalakkan partisipasi dan komunikasi sosial, mendidik, dan mengkritik, serta mampu meyakinkan publik akan porsi yang ditawarkan oleh media. Pengaruh yang diberikan oleh media televisi amat luar biasa. Dalam setiap tayangan – tayangan yang kita lihat setiap harinya secara tidak langsung telah mengajarkan dan mempengaruhi cara berpikir kita tentang sesuatu. Karena apa yang kita lakukan atau pikirkan bisa dilihat dari apa yang kita terima. Hal ini juga berpengaruh pada bentukan opini public tentang kinerja legislatif
Dari penjelasan dan uraian di atas, maka dapat diteliti apakah intensitas menonton tayangan parodi politik “DEMOCRAZY” berpengaruh terhadap opini publik mengenai kinerja anggota legislative.
C. TUJUAN
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui hubungan antara intensitas menonton tayangan parodi politik “DEMOCRAZY” dengan opini publik mengenai kinerja anggota legislative.
D. KERANGKA TEORI
Joseph A. devito mengemukakan definisi komunikasi massa sebagai berikut : komunikasi massa adalah komunikasi yang ditujukan kepada massa, kepada khalayak yang luar biasa banyaknya. Kedua, komunikasi massa adalah komunikasi yang disalurkan oleh pemancar-pemancar yang audio dan atau visual (media). Komunikasi massa akan lebih mudah dan lebih logis bila didefinisikan menurut bentuknya (televisi, radio, surat kabar, majalah, film, buku, dan pita). Dalam komunikasi massa melalui media massa ini, sejumlah pesan akan digunakan, dimengerti, dan bisa juga mempengaruhi audience.
Menurut Mc.Luhan, media massa adalah perpanjangan alat indera kita (sense extention theory; teori perpanjangan alat indera). Dengan media massa kita memperoleh informasi tentang benda, orang atau tempat yang belum pernah kita lihat atau belum pernah kita kunjungi secara langsung. Realitas yang ditampilkan oleh media massa adalah relaitas yang sudah diseleksi. Kita cenderung memperoleh informasi tersebut semata-mata berdasarkan pada apa yang dilaporkan media massa. hal ini didukung oleh sebuah konsep dimana khlayak media massa dianggap begitu pasif sehingga dapat dengan mudah dipengaruhi secara langsung oleh media (Winarso 2005 : 73). Konsep tersebut diperkuat oleh teori ‘magic bullet’ yang mengatakan individu – individu dipercaya secara langsung dapat dipengaruhi oleh media massa. (Winarso 2005 : 106)
Dari beberapa jenis media massa yang ada, televisi merupakan media massa yang paling berpengaruh dalam kehidupan manusia karena televisi mempunyai kelebihan dari media massa lainnya yaitu bersifat audiovisual (didengar dan dilihat), dapat menggambarkan kenyataan dan langsung dapat menyajikan peristiwa yang sedang terjadi ke setiap rumah para pemirsa dimanapun mereka berada (Ardianto, 2007 : 40). Televisi mempengaruhi segala bidang kehidupan, termasuk bidang politik. Melalui fungsi surveillence, media massa memberikan informasi kepada masyarakat. Segala peristiwa dan kejadian, di mana saja di sekitar kita baik dekat maupun jauh hampir tidak pernah luput dari pemberitaan media massa.
Mulai banyak muncul program-program politik di televisi, seperti debat politik, talkshow, survey interaktif, dan sebagainya. Salah satu program politik yang sedang digemari adalah parodi politik DEMOCRAZY. Banyaknya program-program ini juga semakin meningkatkan intensitas khalayak menonton televisi. Banyaknya program-program ini juga semakin meningkatkan intensitas khalayak menonton televisi. Menurut Onong Uchjana Effendy, intensitas menonton televisi adalah tingkat kedalaman seseorang menyaksikan acara-acara di televisi, baik secara kuantitas maupun secara kualitas (Effendy, 1993 : 31). Dalam menjalankan fungsi komunikasi massa, institusi media massa menjalankan peran mediasi (penengah/penghubung). Dalam hal ini, McQuail menyebutkan peran media massa sebagai Jendela pengalaman yang meluaskan pandangan kita dan memungkinkan kita mampu memahami apa yang terjadi di sekitar diri kita, tanpa campur tangan pihak lain atau sikap memihak.
Ada alasan mengapa orang memperhatikan media massa, yaitu karena mereka berusaha menambah khazanah pengetahuan (informasi) atau memperolah bimbingan (opini). Opini Publik menurut Goldenberg adalah kumpulan pendapat orang mengenai hal ihwal yang mempengaruhi atau menarik minat komunitas (Nimmo 2005 : 10). Informasi akan men-struktur atau mengorganisasi realitas, sehingga realitas tampak sebagai gambaran yang mempunyai makna. Media massa penyebar informasi bagi pemirsa, berbagai informasi dibutuhkan oleh khalayak media mssa tersebut karena mereka (khalayak ) adalah makhluk sosial yang haus akan informasi (Ardianto, Lukiati, Karlina. 2007 : 18). Media sebagai komunikator menduduki posisi yang penting dalam proses komunikasi opini karena kenyataan bahwa kita memperoleh begitu banyak informasi politik langsung dari siaran televisi, radio, dan dari surat kabarAdapun opini yang muncul itu menyangkut kinerja Pemerintah, yaitu berupa kebijakan-kebijakan politik yang dibuat oleh pemimpin negara seperti dalam rangka hubungan luar negeri, pertahanan dan keamanan, anggaran belanja negara, kewarganegaraan, nasionalisasi, perubahan susunan dan sistem pemerintahan, penegakan HAM, pemberantasan korupsi, partai politik, pemilu, kabinet Presiden, otonomi daerah, dan sebagainya. Begitu pula yang dilakukan oleh DEMOCRAZY sebagai komunikator politik yang menciptakan opini. Opini tersebut diterima oleh khalayak, dipertimbangkan, kemudian menimbulkan opini publik.
Media massa, terutama televisi, menurut para ahli dipercaya secara langsung sangat mempengaruhi individu-individu (khalayak). Menurut Sproule (1989), media dianggap sangat berkuasa dalam membentuk opini publik. Penelitian McQuail (1991), menyatakan bahwa televisi sebagai media yang kekuasaannya kuat dalam mempengaruhi opini publik (Winarso, 2005 : 106-107). Hal ini sesuai dengan teori masyarakat massa dan kekuasaan yang memberikan gambaran jelas mengenai keberadaan dan kadar kekuasaan media dalam masyarakat yang ditandai oleh luasnya jangkauan, keterpencilan institusi, isolasi individu, dan kurangnya integrasi kelompok setempat. Kenyataan ini menunjukkan bahwa media dapat dikendalikan atau dikelola untuk dijadikan sebagai alat utama yang efektif dalam mengorganisasi massa, kelompok khalayak, konsumen, pasar, dan pemilih. Teori masyarakat massa memberi kedudukan terhormat kepada media sebagai penggerak dan pengaman teori masyarakat massa. Teori ini juga sangat mengunggulkan gagasan yang menyatakan bahwa media menyuguhkan pandangan tentang dunia, semacam pengganti atau lingkungan semu (pseudo-environment) yang merupakan sarana ampuh untuk memanipulasi orang.
Media bukan saja membentuk hubungan ketergantungan (dependensi) warga masyarakat terhadap media dalam hal penciptaan pendapat, tetapi juga dalam hal penciptaan identitas dan kesadaran, Gagasan dimana khlayak tergantung pada informasi media untuk memenuhi kebutuhan akan informasi dan pencapaian tujuan adalah inti dari teori ketergantungan (Winarso 2005 : 115). Tayangan parodi politik DEMOCRAZY tersebut diduga memiliki pengaruh terhadap opini publik. Hal ini dilihat dari sisi media bahwa media massa seringkali dipandang sebagai alat kekuasaan yang efektif karena kemampuannya untuk menarik dan mengarahkan perhatian, membujuk pendapat dan anggapan (opini), mempengaruhi pilihan sikap, memberikan status legitimasi, serta mendefinisikan dan membentuk persepsi realitas (McQuail, 1996 : 82).
Dalam kaitannya dengan persoalan bahwa tayangan DEMOCRAZY berpengaruh terhadap opini, hal ini dapat dikaitkan dengan adanya efek pesan dari media massa. Penelitian tentang efek media massa ini untuk mengetahui sejauh mana kehadiran suatu media atau proses penyampaian pesan mempengaruhi khalayak dalam berpikir, bersikap, dan berperilaku. Tayangan parodi politik DEMOCRAZY tersebut diduga memiliki potensi untuk berpengaruh dan menghasilkan efek bagi khalayak yang menontonnya. Hal ini didukung oleh teori keperkasaan efek. Komunikasi massa dapat mempunyai efek perkasa atau besar jika digunakan dalam program atau kampanye yang dipersiapkan secara cermat berdasarkan prinsip-prinsip teori komunikasi. Menurut Elizabeth Noelle-Neuman (1973) dalam Return to the Concept of Powerfull Mass Media : media massa mempunyai efek perkasa terhadap opini publik. Selanjutnya lebih memperkuat pandangan dari apa yang dianggap sebagai opini publik, Noelle-Neuman menghubungkan konsepnya dengan gagasan dari Lippman,Walter Lippman (1965) menyebutnya "picture of reality" (Suprapto, 2006 : 52). Teori ini sangat mendukung bahwa tayangan DEMOCRAZY mampu mempengaruhi opini publik.
Efek komunikasi massa adalah bagaimana media menambah pengetahuan, mengubah sikap, atau menggerakkan perilaku kita. Ada tiga efek pesan media massa, yaitu :
Efek Kognitif adalah akibat yang timbu pada didri komunikan yang sifatnyaninformatif bagi dirinya (transmisi pengetahuan, keterampilan, kepercayaan, atau informasi ). Media massa dapat membantu khalayak dalam mempelajari informasi yang bermanfaat dan mengembangkan keterampilan kognitifnya (Ardianto, 2005 : 53).
Efek afektif menjelaskan bahwa media massa bukan hanya sekedar memberitahu khalayak tentang sesuatu, tetapi lebih dari itu, khalayak diharapkan dapat turut merasakan perasaan iba, terharu, sedih, gembira, marah dan sebagainya (Ardianto, 2005 : 54).
Efek behavioral merupakan akibat yang timbul pada diri khalayak dalam bentuk perilaku, tindakan atau kegiatan (Ardianto, 2005 : 56). Perubahan perilaku yang terjadi adalah perilaku atau kegiatan yang bisa diamati, misalnya seorang wanita meniru potongan rambut Lady Diana yang disiarkan oleh media massa.
Dalam kaitannya dengan efek media massa, tayangan parodi politik DEMOCRAZY diduga dapat menimbulkan efek sampai pada tahap efek behavioral bagi khalayaknya. Tayangan ini awalnya memberikan pengetahuan tentang kondisi politik negeri dan kebijakan-kebijakan atau kinerja para pemimpin politik negeri sehingga mendorong proses berpikir bagi publik tentang kinerja pemerintah seperti apa yang diceritakan dalam tayangan tersebut. Kemudian muncul perasaan-perasaan tertentu dalam diri publik, apakah senang dan puas dengan kinerja Pemerintah, atau tidak senang dan tidak puas dengan kinerja Pemerintah. Dan pada tahap akhir adalah menimbulkan efek behavioral, dimana muncul tindakan dari publik yang menyampaikan opininya tentang kinerja Pemerintah dalam bentuk pernyataan, bahkan jika ada publik yang tidak puas dengan kinerja Pemerintah, public sering melakukan aksi demo.
Dengan demikian dapat dilihat sejauh mana hubungan antara pengaruh media massa khususnya televisi melalui tayangan parodi politik DEMOCRAZY dalam waktu lama sehingga mempengaruhi publik dalam memberikan opininya terhadap kinerja Pemerintah. Pembentukan opini bagi setiap individu akan dipengaruhi oleh faktor internal maupun eksternalnya.
Berdasarkan uraian kerangka teori di atas, dapat kita ketahui hubungan antar variabel dapat digambarkan dalam diagram geometri sebagai berikut :
Variable Bebas (X)
Intensitas mengkonsumsi
parodi politik DEMOCRAZY
'
Variable Terikat (Y)
Opini publik mengenai
kinerja anggota legislatif
E. HIPOTESIS
Ada pengaruh negatif antara intensitas mengkonsumsi tayangan parodi politik DEMOCRAZY terhadap opini publik mengenai kinerja anggota legislatif, artinya semakin tinggi intensitas khalayak mengkonsumsi tayangan parodi politik DEMOCRAZY, semakin negatif pula opini publik yang muncul tentang kinerja anggota legislatif.
F. DEFINISI KONSEPTUAL DAN OPERASIONAL
Adapun definisi konseptual dari penelitian ini adalah :
© Intensitas mengkonsumsi tayangan parodi politik DEMOCRAZY adalah tingkat konsumsi seseorang menyaksikan tayangan parodi politik DEMOCRAZY, baik secara kuantitas maupun secara kualitas.
© Opini publik mengenai kinerja anggota legislatif adalah kumpulan pendapat orang mengenai hal ihwal yang mempengaruhi atau menarik minat dari komunitas tertentu mengenai kinerja anggota legislatif mencakup pengawasan dan penindaklanjutan terhadap RAPBN, menetapkan dan mengubah Undang-Undang Dasar dan pengawasan terhadap suatu pemerintahan .
Adapun definisi operasional dari penelitian ini adalah :
© Intensitas menonton tayangan parodi politik DEMOCRAZY Merupakan tingkat kedalaman seseorang dalam mengkonsumsi tayangan parodi politik DEMOCRAZY, baik secara kualitas maupun kuantitas.
Adapun indikator-indikator untuk mengukur intensitas menonton, yaitu :
· Lama atau waktu mengkonsumsi tayangan parodi politik DEMOCRAZY dalam satu kali tayang, yaitu banyaknya waktu yang dihabiskan seseorang untuk mengkonsumsi tayangan DEMOCRAZY dalam satu kali tayang.
· Frekuensi menonton tayangan parodi politik DEMOCRAZY dalam satu bulan, yaitu banyaknya mengkonsumsi tayangan DEMOCRAZY dalam satu bulan.
· Perhatian atau keseriusan penonton dalam menyimak tayangan parodi politik DEMOCRAZY, yaitu tingkat kedalaman seseorang dalam hal perhatian dan keseriusan ketika menonton tayangan DEMOCRAZY.
© Opini publik mengenai kinerja anggota legislatif merupakan pendapat yang muncul dari publik terkait dengan kinerja anggota legislatif. Adapun indikator-indikator untuk mengukur opini publik mengenai kinerja anggota legislatif , yaitu :
Macam-macam kinerja dan kebijakan anggota legislatif :
· Opini publik mengenai kebijakan berkaitan dengan tugas legislatif menetapkan dan mengubah Undang-Undang Dasar. Karena UUD adalah salah satu hal yang mendasar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Skala pengukurannya menggunakan skala ordinal.
· Opini publik mengenai kinerja kabinet pemerintahan, yaitu pendapat yang muncul dari publik mengenai kinerja anggota legislatif dalam bidang pengawasan agar menjalankan pengawasan terhadap suatu pemerintahan secara efektif. Skala pengukurannya menggunakan skala ordinal.
· Opini publik mengenai pengawasan dan penindaklanjutan terhadap RAPBN ( rancangan anggaran pendapatan belanja negara), dalam bidang anggaran dapat membuat perencanaan anggaran berlandaskan cost effectiveness. Skala pengukurannya menggunakan skala ordinal.
METODE PENELITIAN
I. TIPE PENELETIAN
Tipe yang dipakai dalam penelitian ini adalah explanatory, yaitu penelitian yang bertujuan untuk menjelaskan hubungan antara dua atau lebih gejala atau variable (Ulber 2009 : 30), yaitu antara pengaruh intensitas menonton tayangan parodi politik DEMOCRAZY yang merupakan variabel bebas (X) terhadap variabel terikat yaitu opini publik mengenai kinerja anggota legislatif (Y).
II. POPULASI DAN SAMPEL
© Populasi
Populasi dalam penelitian ini diambil dari kota Jakarta yang berpenduduk 8.513.385. jakarta diambil sebagai populasi dalam peneletian ini karena kota ini dianggap memenuhi setidaknya dua unsur yang menjadi target audience bagi tayangan parody politik DEMOCRAZY, yaitu 23 - 40 tahun keatas dari kelas sosio-ekonomi ke atas (B-AB-A) atau yang memiliki pengeluaran rutin bulanan rumah tangganya di atas Rp 1,75 juta (AGB Nielsen Media Research). Jakarta memiliki sekitar 4.647.476 penduduk usia produktif yang rata – rata lulusan SMA – Strata 1 (DepKominfo.Newsroom.com). serta upah minimum daerah tertinggi yaitu Rp 976.800 – Rp 1.350.000 per bulan (www.kompas.com).
© Sampel
Sampel dari penelitian ini adalah beberapa orang yang dianggap berpotensi sebgai responden, yang tetap masuk dalam kategori populasi. Menurut Krejcie dan Morgan, apabila jumlah populasi lebih dari 1 juta orang maka jumlah sampel yang diambil sebanyak 384 orang mewakili dari populasi 8.513.385 jiwa (Sekaran, 2006 : 253). Jadi, sampel dalam penelitian ini adalah 384 orang. Penelitian ini menggunakan teknik simple random sampling, yaitu cara menarik anggota sampel dari populasi secara acak (random) (Ulber 2009 : 261). Sampel akan dipilih secara acak sesuai dengan syarat yang sesuai dengan populasi. Teknik ini merupakan cara terbaik memperoleh sampel yang representatif karena probabilitasnya sangat tinggi dibanding dengan yang lain (Ulber 2009 : 261).
III. TEKNIK DAN ALAT PENGUMPULAN DATA
a. Teknik pengumpulan data
Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan kuesioner yang akan diisi oleh responden.
b. Alat pengumpulan data
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner, yaitu kumpulan daftar pertanyaan yang disusun secara sistematis dan berisi alternatif jawaban yang terstruktur yang harus diisi oleh responden.
IV. SUMBER DATA
© Primer :
Data yang diperoleh langsung dari objek penelitian, yaitu data dari responden yang mengisi kuesioner yang dibagikan.
© Sekunder :
Data yang diperoleh secara tidak langsung, yaitu dari dokumen dan arsip-arsip yang telah dikumpulkan oleh pihak lain, serta sumber-sumber lain yang mempunyai relevansi dengan masalah yang diteliti.
V. TEKNIK PENGOLAHAN DATA
Setelah data yang dibutuhkan telah terkumpul, maka akan dilakukan pengolahan data melalui langkah-langkah sebagai berikut :
© Editing :
Melakukan kegiatan meneliti dan mengoreksi kembali keseluruhan data yang telah diperoleh dalam daftar pertanyaan dari responden. Apakah sesuai dengan ketentuan atau tidak.
© Koding
Melakukan kegiatan mengklarifikasikan jawaban dari responden menurut macam atau jenisnya dengan tanda atau kode tertentu yang biasanya berbentuk angka.
© Tabulasi
Menyajikan data yang diperoleh dari hasil penelitian dalam bentuk tabel.
VI. ANALISA DATA
Analisa kuantitatif merupakan analisis data yang ditujukan pada data-data berupa angka-angka. Setelah data terkumpul kemudian diklasifikasikan dalam kategori-kategori, maka dihitung dengan analisa kuantitatif yang dilakukan dengan menggunakan uji statistik. Untuk melakukan uji hipotesis dalam penelitian ini yang menunjukkan adanya korelasi antara variabel (X) yaitu intensitas mengkonsumsi tayangan parodi politik DEMOCRAZY dengan variabel (Y) yaitu opini publik mengenai kinerja anggota legislatif, maka digunakan rumus Koefisien Korelasi Rank Kendall’s (Suparmoko, 1987). Rumus ini digunakan untuk menghitung hubungan antar variabel yang datanya ordinal. Adapun rumusnya adalah sebagai berikut :
Keterangan :
t : Koefisien Korelasi Rank Kendall’s
S : Skor sebenarnya adalah jumlah rank yang lebih tinggi di kanan
dikurangi jumlah rank yang lebih rendah di kiri
N : banyaknya obyek / individu yang diuraikan pada X dan Y
Tx : ½ S t (t – 1), t adalah banyak observasi berangka sama dalam tiap
kelompok angka sama pada variabel X
Ty : ½ S t (t - 1), t adalah banyak observasi berangka sama dalam tiap
kelompok angka sama pada variabel Y
Selanjutnya, untuk menguji tingkat signifikansinya digunakan rumus :
Kriteria penerimaan atau penolakan hipotesis :
Jika z hitung ≥ z table 1% : sangat signifikan
Jika z hitung ≥ z table 5% : signifikan
Jika z hitung ≤ z table 5% : tidak signifikan
DAFTAR PUTAKA :
· Ardianto, Elvinaro. 2004. Komunikasi Massa : Suatu Pengantar. Bandung : Remaja Rosdakarya.
· Ardianto, Elvinaro. Komala, Lukiati. Karlina, Siti. 2007. Komunikasi Massa : sebuah pengantar. Edisi revisi
· Effendy, Onong Uchjana. 1993. Dinamika Komunikasi. Bandung : Remaja Rosdakarya.
· McQuail, 1987, Teori Komunikasi Massa: Suatu Pengantar, Jakarta: Erlangga
· Nurudin. 2003. Komunikasi Massa. Malang : Cespur.
· Nurudin. 2007, Pengantar Komunikasi massa. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
· Sekaran, Uma. 2006. Research Methods for Business Askill Building Approach 2 Edition. USA : Souther Illinois University at Carbondale
· Sugianto. 2008. Terkikisnya Etika Politik. dalam Kompas Jawa Tengah, 11 April 2008, kolom Forum : D.
Suparmoko, M. 1987. Metode Penelitian Praktis. Yogyakarta : BPFE.
Suprapto, Tommy. 2006. Pengantar Teori Komunikasi. Yogyakarta : Media Pressindo.
· Silalahi, Ulber. 2009. Metode penelitian sosial. Bandung : Reflika Aditama
· Winarso, Heru Puji. 2005. Sosiologi Komunikasi Massa. Jakarta : Prestasi Pustaka.
WEBSITE :
· http://www.freelists.org/post/ppi/ppiindia-Mengendalikan-Politik-TV-dan-Radio
· (Anonim. 2008. “Pelajar Gandrungi Tayangan Parodi Politik”, dalam http://www.pdiperjuangan-jatim.org/v02/?mod=berita&id=439).
· http://fenomena-koranpakoles2007.blogspot.com/2008/01/sorotparodi-politik.html
· http://www.kompas.com/
· http://www.Kominfo-Newsroom/Survei kepemirsaan televisi
Langganan:
Postingan (Atom)