A. LATAR BELAKANG
Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla mengatakan, “media televisi memberikan pengaruh yang sangat besar dalam tatanan kehidupan setiap penduduk bumi Indonesia ini”. Bahkan lebih tajam dan kuat dari senjata (pemberitaan di TRANS 7 mengenai kasus syekh Puji). Hal ini cukup beralasan, sebab dalam praktiknya, media televisi seakan-akan ‘menyodorkan’ segala kebutuhun kita, mulai dari kebutuhan akan informasi hingga hiburan. Dalam hampir setiap aspek kehidupan individu yang mengkonsumsi yang disediakan oleh media massa. Dan hal ini tidak hanya sebagai suatu hiburan semata atau media sebagai ‘pemuas’ akan informasi tapi hal ini sangat mempengaruhi publik.
Di abad informasi, tak ada yang lebih berpengaruh daripada TV. Begitu besarnya pengaruh TV, bahkan banyak pihak yang menyatakan TV lebih penting dalam pendidikan politik ketimbang partai politik. Begitu banyak warga negara yang kontak dengan televisi setiap hari. Di kamar tidur, di ruang keluarga, bahkan di ruang tunggu berbagai gedung, televisi bercokol. Setiap berita dikemas dalam gambar dan suara, disajikan kepada penonton, membuat TV merasuk ke dalam kesadaran penonton secara lebih dalam. Runtuhnya gedung WTC di New York dalam sekejap diketahui penduduk di Jakarta melalui TV. Imam Samudra yang tertangkap di Merak, seketika wajahnya dilihat oleh warga di Aceh atau Papua. Skandal Akbar Tandjung menjadi isu nasional karena televisi. Penderitaan warga di Nunukan, Kalimantan, dilihat oleh aktivis di Jakarta melalui TV. Dengan mudah, TV menentukan apa yang harus dibicarakan, bahkan apa yang harus dipikirkan. TV ada di mana-mana. Kita tak bisa lagi hidup tanpa TV. http://www.freelists.org/post/ppi/ppiindia-Mengendalikan-Politik-TV-dan-Radio
Media televisi sangat diminati karena memiliki karakteristik yang berbeda dengan media lain, yaitu audiovisual, sehingga dapat didengar sekaligus dapat dilihat. Khalayak televisi dapat melihat gambar yang bergerak disertai dengan suara (Ardianto dan Erdinaya, 2004 : 128). Dengan menonton televisi, audience seakan-akan ikut dalam tayangan yang ditayangkan di televisi, memberikan pengalaman seolah-olah audience mengalaminya sendiri. Dengan kelebihan yang dimilikinya ini, televisi dapat menarik perhatian audience sehingga informasi ataupun hiburan melalui televisi menjadi lebih efektif.
Sejak masa reformasi, dimana diberikannya kebebasan kepada media untuk berekspresi juga berpengaruh pada program-program televisi. Banyak program-program televisi baru yang bermunculan untuk menarik perhatian audience. Media mulai memainkan perannya sebagai pemberi informasi kepada khalayak, termasuk di bidang politik seperti tersebut di atas. Mulai era ini, selain berperan sebagai sarana pemenuhan informasi yang akan memberikan pendidikan politik bagi khalayak, media juga berfungsi sebagai alat pengawasan politik. Media berfungsi dalam pengawasan instrumental. Aktualisasinya adalah penyebaran informasi politik yang berguna bagi khalayak. Media bertugas mengawasi kinerja dan kebijakan yang dibuat pemerintah, kemudian menginformasikannya pada publik sebagai khalayak media (Nurudin, 2003 : 77).
Seiring dengan adanya kebebasan pers, program-program berbau politik seperti dialog politik, debat politik, dan talkshow juga semakin banyak. Program yang cukup menarik khalayak adalah talkshow karena konsep acaranya yang lebih santai. Metro TV sebagai salah satu stasiun televisi yang bersegmen pemberitaan memiliki program talkshow politik yang sangat beragam, antara lain Suara Anda, Bedah Editorial, Survei Interaktif Padamu Negeri, serta Democrazy. Dengan adanya tayangan-tayangan tersebut akan memberikan pendidikan politik kepada publik.
Melalui program-program politik tersebut menjadi sarana bagi publik untuk memperoleh informasi politik, mengkritik kinerja pemerintah, dan menyampaikan opininya mengenai kebijakan-kebijakan dan kinerja para pemegang kekuasaan politik negeri. Publik mulai berani mengungkapkan opininya mengenai kinerja pemerintah, baik opini yang positif ataupun negatif. Media massa, terutama televisi, menurut para ahli dipercaya secara langsung sangat mempengaruhi individu-individu (khalayak). Menurut Sproule (1989), media dianggap sangat berkuasa dalam membentuk opini publik. Berdasarkan penelitian McQuail (1991), memusatkan pada televisi sebagai media yang kekuasaannya kuat dalam mempengaruhi opini publik (Winarso, 2005 : 106-107). Peran media massa sangat efektif dalam menghimpun kekuatan dan opini publik. Peran media massa, termasuk televisi tidak hanya menjadi media penyampai informasi saja, tetapi juga menjadi sarana alternatif menyampaikan aspirasi. Wacana politik yang beredar dan tersebar luas tidak luput dari peran besar media termasuk televisi. Media televisi dapat menggalakkan partisipasi dan komunikasi sosial, mendidik, dan mengkritik, serta mampu meyakinkan publik akan porsi yang ditawarkan oleh media.
Mayoritas dari tayangan yang beredar banyak di media TV mencoba untuk mengkritisi apa yang terjadi dengan para elit politik di senayan. Misalnya saja mulai dari persoalan para anggota DPR yang mendapat jatah mobil mewah, penyediaan laptop, renovasi rumah, dan kunjungan ke luar negeri. Ditengah kondisi negara yang dilanda banyak persoalan, para elit politik masih sibuk mengurusi kepentingan diri sendiri ketimbang kepentingan rakyat. Kenyataan seperti ini yang menimbulkan banyak pergunjingan pada masyrakat luas. Pro – kontra ini memberikan persepsi dari kinerja legislatif yang dianggap bahwa etika politik para pemimpin telah terkikis. Etika politik yang seharusnya menjadi tembok atas kesewenang-wenangan politik hanya menjadi pemanis bibir oleh elit politik. Tujuan utama pemimpin politik demi kepentingan pribadi diutamakan daripada kepentingan rakyat banyak (Sugianto. 2008 : D. “Terkikisnya Etika Politik” dalam kolom “Forum”, Kompas Jawa Tengah).
Tayangan parodi politik adalah salah satu talkshow politik yang sedang diminati masyarakat. Karena selain dianggap tayangan yang menghibur, dengan menonton tayangan tersebut masyarakat tahu permasalahan dalam negerinya, serta mampu mengkritisi kinerja dan kebijakan yang dibuat pemerintah (Anonim. 2008. “Pelajar Gandrungi Tayangan Parodi Politik”, dalam http://www.pdiperjuangan-jatim.org/v02/?mod=berita&id=439).
Metro TV salah satu stasiun TV yang tak henti – hentinya menelurkan acara acara kreatif nan menghibur bagi masyarakat Indonesia. DEMOCRAZY merupakan sebuah program acara yang mengedepankan unsur politik nan menghibur dalam bentuk talkshow, bercerita tentang kegiatan parlemen dalam menghadapi & memecahkan masalah aktual bangsa dan terkadang mengkritik dan menyindirpara anggota legislatif.
Pengemasan acara DEMOCRAZY ini cenderung santai dan komedikal namun tetep memberikan solusi. Ide ide lucu dan segar akan menghiasa setiap tayangannya seperti sidang tapi tidur, sms, telepon, uang komisi, absensi, jalan-jalan ke luar negeri, tunjangan rumah, renovasi, bagi-bagi laptop, lobi-lobi, baca koran, interupsi, korupsi, fraksi, friksi, tawuran, uang ketok palu, anggaran rumah tangga, walk out, bagi-bagi kapling, suap, reses, dan penyimpangan-penyimpangan lainnya. Acara ini telah ditayangkan perdana pada hari Minggu, 17 februari 2008 pukul 21.05 wib di Metro TV. Dan akan ditayangkan setiap hari dan jam yang sama seperti diatas.
Tayangan parodi politik “DEMOCRAZY” menerima pro dan kontra. Yang pro menganggap bahwa tayangan ini merupakan sarana pendidikan politik bagi masyarakat, menjadi sarana penyampaian opini publik kepada pemerintah, kritikan kepada pemerintah, dan bentuk realita yang ada. Sedangkan yang kontra (pihak pemerintah) beranggapan bahwa parodi politik “DEMOCRAZY” itu merupakan suatu bentuk pelecehan terhadap pemerintah. Pemerintah mengajukan somasi kepada “DEMOCRAZY” karena dianggap menghina para pemimpin negeri.
Karenanya, reaksi yang datang dari pemerintah tentu saja mencerminkan ketakutan karena legitimasinya dirong-rong sedikit demi sedikit secara konsisten oleh para ‘tukang kritik’ yang kali ini memakai gaya humor dan parodi. Siapa yang tak kenal Butet Kertarajasa yang terkenal sebagai ‘tukang kritik’ sejak jaman Orde Baru yang akhirnya tumbang karena telah menekan kebebasan rakyat untuk berekspresi dalam ekonomi, politik, dan kebudayaan.
Menurut Djamaluddin Malik dan Subandy Ibrahim (1997: 61), keistimewaan bahasa adalah karena kehadirannya dalam jagad makna yang bisa digunakan untuk ‘membahasakan’ simbol-simbol yang lain. Bahasa yang telah terkontrol dan distandardisasi ini pada gilirannya menjadi instrumen kontrol perilaku dan jagad makna yang membangunkan kesadaran kita terhadap realitas sosial-politik yang ada. Ideologi bahasa yang ditebarkan oleh ‘DEMOCRAZY’ juga tak kalah dahsyatnya ditambah dengan muatannya yang nampaknya menggiring penonton untuk mentertawakan setiap tindakan, kebijakan, watak pemerintah khususnya dan elit-elit politik pada umumnya. Dan sebenarnya itu adalah khas psikologi parodi atau lawakan, yaitu selalu menertawakan segalanya. http://fenomena-koranpakoles2007.blogspot.com/2008/01/sorotparodi-politik.html
Apa yang dijelaskan diatas adalah fenomena yang terjadi di masyarakat sekarang ini. Kebebasan media berekspresi akan mendorong kebebasan memberikan opini pula. Penilaian atau opini publik terhadap pemerintah harus benar-benar sesuai dengan realita yang terjadi. Tayangan parodi politik “DEMOCRAZY” bisa menjadi salah satu referensi untuk menjadi sarana dalam melihat dan mengkritik kinerja legislative di senayan. Tapi sebaiknya publik harus benar-benar objektif dalam memberikan penilaian atau opininya mengenai pemerintah, baik melalui informasi yang didapat dari pemberitaan media, dari program-program politik seperti parodi politik yang berisi kritikan, ataupun dengan mengamati langsung dari lingkungan. Tayangan “DEMOCRAZY” telah menimbulkan persoalan sesuai dengan isi parodi tersebut yang dianggap “melecehkan” pemerintah serta memiliki potensi untuk meyakinkan audience tentang apa yang ada di dalam program tersebut mengenai kritikan dan evaluasi terhadap kinerja pemerintah.
B. PERUMUSAN MASALAH
Kenyataan dilapangan mengatakan bahwa banyak sekali kinerja anggota legislative yang tidak sesuai dengan apa yang seharusnya mereka kerjakan. Misalnya saja mulai dari persoalan para anggota DPR yang mendapat jatah mobil mewah, penyediaan laptop, renovasi rumah, dan kunjungan ke luar negeri. Ditengah kondisi negara yang dilanda gelombang persoalan, para elit politik masih sibuk mengurusi kepentingan diri sendiri ketimbang kepentingan rakyat. Tentu dalam hal ini jelas terlihat bagaiman masyarakat dirugikan akibat perilaku wakil – wakil mereka. Dana yang dihamburkan seharusnya bisa digunakan untuk kepentingan rakyat namun kenyataanya malah digunakan untuk kepentingan para elit politik. Ditengah-tengah kondisi negeri yang begitu ironis, ketika harga bahan pokok melambung tinggi, kemiskinan, pengangguran serta berbagai persoalan negeri lainnya yang memilukan dada seakan tidak mampu mengetuk hati kecil para elit politik. Kenyataan ini jauh dari apa yang diharapkan oleh masyarakat tentunya, harapan tentang wakil mereka yang berjuang demi masyarakat sirna sudah.
Hal-hal seperti inilah yang menjadi salah satu pembahasan di “DEMOCRAZY”, yaitu tentang kinerja pemerintah. Tayangan parodi politik “DEMOCRAZY” diminati masyarakat karena selain dianggap tayangan yang menghibur, dengan menonton tayangan tersebut masyarakat tahu permasalahan dalam negerinya, serta mampu mengkritisi kinerja dan kebijakan yang dibuat pemerintah. Peran parodi politik disini sebagai sendi demokrasi dalam konteks kebebasan berekspresi, mencatat dan menagih janji serta menjadi indikator popularitas dan keyakinan pejabat di mata rakyat.
Ditengah segala permasalahan yang melanda, parodi politik muncul sebagai salah satu pilihan untuk menghibur sekaligus mengkritisi segala kebijakan, kinerja para anggota legislative. Tayangan parodi politik “DEMOCRAZY” sangat diminati masyarakat karena selain dianggap tayangan yang menghibur, dengan menonton tayangan tersebut masyarakat dapat mengetahui permasalahan dalam negerinya, serta mampu mengkritisi kinerja dan kebijakan yang dibuat pemerintah.
Dengan efek yang luar biasa, media (DEMOCRAZY) menjadi saluran atau medium bagi khlayak untuk mngerti lebih baik lagi mengenai ‘perilaku’ anggota dewan yang terhormat yang selama ini mejadi wakil mereka (rakyat). Kebebasan media berekspresi akan mendorong kebebasan memberikan opini pula. Penilaian atau opini publik terhadap pemerintah harus benar-benar sesuai dengan realita yang terjadi. Apa yang diberikan media bisa menghasilkan beragam opini public, baik yang mendukung ataupun mengkritk habis – habisan tentang kinerja para legislative. Tayangan parodi politik “DEMOCRAZY” bisa menjadi salah satu referensi untuk menjadi sarana dalam melihat dan mengkritik kinerja legislative di senayan.
Acara yang ditayangkan satu kali dalam seminggu dengan durasi 60 menit ini cukup menarik perhatian audience, terutama yang peduli pada politik, dan masyarakat luas pada umumnya. Ini terlihat dari banyaknya masyarakat yang memberikan komentar positif mengenai tayangan ini dan dukungan masyarakat agar “DEMOCRAZY” tetap tayang ketika tayangan ini dikenakan somasi oleh pemerintah. Tayangan DEMOCRAZY memberi informasi tentang politik, kinerja pemerintah, mengkritik pemerintah, dan cukup meyakinkan publik tentang realita yang terjadi dalam dunia politik Indonesia.
Media massa, terutama televisi, menurut para ahli dipercaya secara langsung sangat mempengaruhi individu-individu (khalayak). Media dianggap sangat berkuasa dalam membentuk opini publik. Televisi sebagai media yang kekuasaannya kuat dalam mempengaruhi opini publik. Media televisi dapat menggalakkan partisipasi dan komunikasi sosial, mendidik, dan mengkritik, serta mampu meyakinkan publik akan porsi yang ditawarkan oleh media. Pengaruh yang diberikan oleh media televisi amat luar biasa. Dalam setiap tayangan – tayangan yang kita lihat setiap harinya secara tidak langsung telah mengajarkan dan mempengaruhi cara berpikir kita tentang sesuatu. Karena apa yang kita lakukan atau pikirkan bisa dilihat dari apa yang kita terima. Hal ini juga berpengaruh pada bentukan opini public tentang kinerja legislatif
Dari penjelasan dan uraian di atas, maka dapat diteliti apakah intensitas menonton tayangan parodi politik “DEMOCRAZY” berpengaruh terhadap opini publik mengenai kinerja anggota legislative.
C. TUJUAN
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui hubungan antara intensitas menonton tayangan parodi politik “DEMOCRAZY” dengan opini publik mengenai kinerja anggota legislative.
D. KERANGKA TEORI
Joseph A. devito mengemukakan definisi komunikasi massa sebagai berikut : komunikasi massa adalah komunikasi yang ditujukan kepada massa, kepada khalayak yang luar biasa banyaknya. Kedua, komunikasi massa adalah komunikasi yang disalurkan oleh pemancar-pemancar yang audio dan atau visual (media). Komunikasi massa akan lebih mudah dan lebih logis bila didefinisikan menurut bentuknya (televisi, radio, surat kabar, majalah, film, buku, dan pita). Dalam komunikasi massa melalui media massa ini, sejumlah pesan akan digunakan, dimengerti, dan bisa juga mempengaruhi audience.
Menurut Mc.Luhan, media massa adalah perpanjangan alat indera kita (sense extention theory; teori perpanjangan alat indera). Dengan media massa kita memperoleh informasi tentang benda, orang atau tempat yang belum pernah kita lihat atau belum pernah kita kunjungi secara langsung. Realitas yang ditampilkan oleh media massa adalah relaitas yang sudah diseleksi. Kita cenderung memperoleh informasi tersebut semata-mata berdasarkan pada apa yang dilaporkan media massa. hal ini didukung oleh sebuah konsep dimana khlayak media massa dianggap begitu pasif sehingga dapat dengan mudah dipengaruhi secara langsung oleh media (Winarso 2005 : 73). Konsep tersebut diperkuat oleh teori ‘magic bullet’ yang mengatakan individu – individu dipercaya secara langsung dapat dipengaruhi oleh media massa. (Winarso 2005 : 106)
Dari beberapa jenis media massa yang ada, televisi merupakan media massa yang paling berpengaruh dalam kehidupan manusia karena televisi mempunyai kelebihan dari media massa lainnya yaitu bersifat audiovisual (didengar dan dilihat), dapat menggambarkan kenyataan dan langsung dapat menyajikan peristiwa yang sedang terjadi ke setiap rumah para pemirsa dimanapun mereka berada (Ardianto, 2007 : 40). Televisi mempengaruhi segala bidang kehidupan, termasuk bidang politik. Melalui fungsi surveillence, media massa memberikan informasi kepada masyarakat. Segala peristiwa dan kejadian, di mana saja di sekitar kita baik dekat maupun jauh hampir tidak pernah luput dari pemberitaan media massa.
Mulai banyak muncul program-program politik di televisi, seperti debat politik, talkshow, survey interaktif, dan sebagainya. Salah satu program politik yang sedang digemari adalah parodi politik DEMOCRAZY. Banyaknya program-program ini juga semakin meningkatkan intensitas khalayak menonton televisi. Banyaknya program-program ini juga semakin meningkatkan intensitas khalayak menonton televisi. Menurut Onong Uchjana Effendy, intensitas menonton televisi adalah tingkat kedalaman seseorang menyaksikan acara-acara di televisi, baik secara kuantitas maupun secara kualitas (Effendy, 1993 : 31). Dalam menjalankan fungsi komunikasi massa, institusi media massa menjalankan peran mediasi (penengah/penghubung). Dalam hal ini, McQuail menyebutkan peran media massa sebagai Jendela pengalaman yang meluaskan pandangan kita dan memungkinkan kita mampu memahami apa yang terjadi di sekitar diri kita, tanpa campur tangan pihak lain atau sikap memihak.
Ada alasan mengapa orang memperhatikan media massa, yaitu karena mereka berusaha menambah khazanah pengetahuan (informasi) atau memperolah bimbingan (opini). Opini Publik menurut Goldenberg adalah kumpulan pendapat orang mengenai hal ihwal yang mempengaruhi atau menarik minat komunitas (Nimmo 2005 : 10). Informasi akan men-struktur atau mengorganisasi realitas, sehingga realitas tampak sebagai gambaran yang mempunyai makna. Media massa penyebar informasi bagi pemirsa, berbagai informasi dibutuhkan oleh khalayak media mssa tersebut karena mereka (khalayak ) adalah makhluk sosial yang haus akan informasi (Ardianto, Lukiati, Karlina. 2007 : 18). Media sebagai komunikator menduduki posisi yang penting dalam proses komunikasi opini karena kenyataan bahwa kita memperoleh begitu banyak informasi politik langsung dari siaran televisi, radio, dan dari surat kabarAdapun opini yang muncul itu menyangkut kinerja Pemerintah, yaitu berupa kebijakan-kebijakan politik yang dibuat oleh pemimpin negara seperti dalam rangka hubungan luar negeri, pertahanan dan keamanan, anggaran belanja negara, kewarganegaraan, nasionalisasi, perubahan susunan dan sistem pemerintahan, penegakan HAM, pemberantasan korupsi, partai politik, pemilu, kabinet Presiden, otonomi daerah, dan sebagainya. Begitu pula yang dilakukan oleh DEMOCRAZY sebagai komunikator politik yang menciptakan opini. Opini tersebut diterima oleh khalayak, dipertimbangkan, kemudian menimbulkan opini publik.
Media massa, terutama televisi, menurut para ahli dipercaya secara langsung sangat mempengaruhi individu-individu (khalayak). Menurut Sproule (1989), media dianggap sangat berkuasa dalam membentuk opini publik. Penelitian McQuail (1991), menyatakan bahwa televisi sebagai media yang kekuasaannya kuat dalam mempengaruhi opini publik (Winarso, 2005 : 106-107). Hal ini sesuai dengan teori masyarakat massa dan kekuasaan yang memberikan gambaran jelas mengenai keberadaan dan kadar kekuasaan media dalam masyarakat yang ditandai oleh luasnya jangkauan, keterpencilan institusi, isolasi individu, dan kurangnya integrasi kelompok setempat. Kenyataan ini menunjukkan bahwa media dapat dikendalikan atau dikelola untuk dijadikan sebagai alat utama yang efektif dalam mengorganisasi massa, kelompok khalayak, konsumen, pasar, dan pemilih. Teori masyarakat massa memberi kedudukan terhormat kepada media sebagai penggerak dan pengaman teori masyarakat massa. Teori ini juga sangat mengunggulkan gagasan yang menyatakan bahwa media menyuguhkan pandangan tentang dunia, semacam pengganti atau lingkungan semu (pseudo-environment) yang merupakan sarana ampuh untuk memanipulasi orang.
Media bukan saja membentuk hubungan ketergantungan (dependensi) warga masyarakat terhadap media dalam hal penciptaan pendapat, tetapi juga dalam hal penciptaan identitas dan kesadaran, Gagasan dimana khlayak tergantung pada informasi media untuk memenuhi kebutuhan akan informasi dan pencapaian tujuan adalah inti dari teori ketergantungan (Winarso 2005 : 115). Tayangan parodi politik DEMOCRAZY tersebut diduga memiliki pengaruh terhadap opini publik. Hal ini dilihat dari sisi media bahwa media massa seringkali dipandang sebagai alat kekuasaan yang efektif karena kemampuannya untuk menarik dan mengarahkan perhatian, membujuk pendapat dan anggapan (opini), mempengaruhi pilihan sikap, memberikan status legitimasi, serta mendefinisikan dan membentuk persepsi realitas (McQuail, 1996 : 82).
Dalam kaitannya dengan persoalan bahwa tayangan DEMOCRAZY berpengaruh terhadap opini, hal ini dapat dikaitkan dengan adanya efek pesan dari media massa. Penelitian tentang efek media massa ini untuk mengetahui sejauh mana kehadiran suatu media atau proses penyampaian pesan mempengaruhi khalayak dalam berpikir, bersikap, dan berperilaku. Tayangan parodi politik DEMOCRAZY tersebut diduga memiliki potensi untuk berpengaruh dan menghasilkan efek bagi khalayak yang menontonnya. Hal ini didukung oleh teori keperkasaan efek. Komunikasi massa dapat mempunyai efek perkasa atau besar jika digunakan dalam program atau kampanye yang dipersiapkan secara cermat berdasarkan prinsip-prinsip teori komunikasi. Menurut Elizabeth Noelle-Neuman (1973) dalam Return to the Concept of Powerfull Mass Media : media massa mempunyai efek perkasa terhadap opini publik. Selanjutnya lebih memperkuat pandangan dari apa yang dianggap sebagai opini publik, Noelle-Neuman menghubungkan konsepnya dengan gagasan dari Lippman,Walter Lippman (1965) menyebutnya "picture of reality" (Suprapto, 2006 : 52). Teori ini sangat mendukung bahwa tayangan DEMOCRAZY mampu mempengaruhi opini publik.
Efek komunikasi massa adalah bagaimana media menambah pengetahuan, mengubah sikap, atau menggerakkan perilaku kita. Ada tiga efek pesan media massa, yaitu :
Efek Kognitif adalah akibat yang timbu pada didri komunikan yang sifatnyaninformatif bagi dirinya (transmisi pengetahuan, keterampilan, kepercayaan, atau informasi ). Media massa dapat membantu khalayak dalam mempelajari informasi yang bermanfaat dan mengembangkan keterampilan kognitifnya (Ardianto, 2005 : 53).
Efek afektif menjelaskan bahwa media massa bukan hanya sekedar memberitahu khalayak tentang sesuatu, tetapi lebih dari itu, khalayak diharapkan dapat turut merasakan perasaan iba, terharu, sedih, gembira, marah dan sebagainya (Ardianto, 2005 : 54).
Efek behavioral merupakan akibat yang timbul pada diri khalayak dalam bentuk perilaku, tindakan atau kegiatan (Ardianto, 2005 : 56). Perubahan perilaku yang terjadi adalah perilaku atau kegiatan yang bisa diamati, misalnya seorang wanita meniru potongan rambut Lady Diana yang disiarkan oleh media massa.
Dalam kaitannya dengan efek media massa, tayangan parodi politik DEMOCRAZY diduga dapat menimbulkan efek sampai pada tahap efek behavioral bagi khalayaknya. Tayangan ini awalnya memberikan pengetahuan tentang kondisi politik negeri dan kebijakan-kebijakan atau kinerja para pemimpin politik negeri sehingga mendorong proses berpikir bagi publik tentang kinerja pemerintah seperti apa yang diceritakan dalam tayangan tersebut. Kemudian muncul perasaan-perasaan tertentu dalam diri publik, apakah senang dan puas dengan kinerja Pemerintah, atau tidak senang dan tidak puas dengan kinerja Pemerintah. Dan pada tahap akhir adalah menimbulkan efek behavioral, dimana muncul tindakan dari publik yang menyampaikan opininya tentang kinerja Pemerintah dalam bentuk pernyataan, bahkan jika ada publik yang tidak puas dengan kinerja Pemerintah, public sering melakukan aksi demo.
Dengan demikian dapat dilihat sejauh mana hubungan antara pengaruh media massa khususnya televisi melalui tayangan parodi politik DEMOCRAZY dalam waktu lama sehingga mempengaruhi publik dalam memberikan opininya terhadap kinerja Pemerintah. Pembentukan opini bagi setiap individu akan dipengaruhi oleh faktor internal maupun eksternalnya.
Berdasarkan uraian kerangka teori di atas, dapat kita ketahui hubungan antar variabel dapat digambarkan dalam diagram geometri sebagai berikut :
Variable Bebas (X)
Intensitas mengkonsumsi
parodi politik DEMOCRAZY
'
Variable Terikat (Y)
Opini publik mengenai
kinerja anggota legislatif
E. HIPOTESIS
Ada pengaruh negatif antara intensitas mengkonsumsi tayangan parodi politik DEMOCRAZY terhadap opini publik mengenai kinerja anggota legislatif, artinya semakin tinggi intensitas khalayak mengkonsumsi tayangan parodi politik DEMOCRAZY, semakin negatif pula opini publik yang muncul tentang kinerja anggota legislatif.
F. DEFINISI KONSEPTUAL DAN OPERASIONAL
Adapun definisi konseptual dari penelitian ini adalah :
© Intensitas mengkonsumsi tayangan parodi politik DEMOCRAZY adalah tingkat konsumsi seseorang menyaksikan tayangan parodi politik DEMOCRAZY, baik secara kuantitas maupun secara kualitas.
© Opini publik mengenai kinerja anggota legislatif adalah kumpulan pendapat orang mengenai hal ihwal yang mempengaruhi atau menarik minat dari komunitas tertentu mengenai kinerja anggota legislatif mencakup pengawasan dan penindaklanjutan terhadap RAPBN, menetapkan dan mengubah Undang-Undang Dasar dan pengawasan terhadap suatu pemerintahan .
Adapun definisi operasional dari penelitian ini adalah :
© Intensitas menonton tayangan parodi politik DEMOCRAZY Merupakan tingkat kedalaman seseorang dalam mengkonsumsi tayangan parodi politik DEMOCRAZY, baik secara kualitas maupun kuantitas.
Adapun indikator-indikator untuk mengukur intensitas menonton, yaitu :
· Lama atau waktu mengkonsumsi tayangan parodi politik DEMOCRAZY dalam satu kali tayang, yaitu banyaknya waktu yang dihabiskan seseorang untuk mengkonsumsi tayangan DEMOCRAZY dalam satu kali tayang.
· Frekuensi menonton tayangan parodi politik DEMOCRAZY dalam satu bulan, yaitu banyaknya mengkonsumsi tayangan DEMOCRAZY dalam satu bulan.
· Perhatian atau keseriusan penonton dalam menyimak tayangan parodi politik DEMOCRAZY, yaitu tingkat kedalaman seseorang dalam hal perhatian dan keseriusan ketika menonton tayangan DEMOCRAZY.
© Opini publik mengenai kinerja anggota legislatif merupakan pendapat yang muncul dari publik terkait dengan kinerja anggota legislatif. Adapun indikator-indikator untuk mengukur opini publik mengenai kinerja anggota legislatif , yaitu :
Macam-macam kinerja dan kebijakan anggota legislatif :
· Opini publik mengenai kebijakan berkaitan dengan tugas legislatif menetapkan dan mengubah Undang-Undang Dasar. Karena UUD adalah salah satu hal yang mendasar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Skala pengukurannya menggunakan skala ordinal.
· Opini publik mengenai kinerja kabinet pemerintahan, yaitu pendapat yang muncul dari publik mengenai kinerja anggota legislatif dalam bidang pengawasan agar menjalankan pengawasan terhadap suatu pemerintahan secara efektif. Skala pengukurannya menggunakan skala ordinal.
· Opini publik mengenai pengawasan dan penindaklanjutan terhadap RAPBN ( rancangan anggaran pendapatan belanja negara), dalam bidang anggaran dapat membuat perencanaan anggaran berlandaskan cost effectiveness. Skala pengukurannya menggunakan skala ordinal.
METODE PENELITIAN
I. TIPE PENELETIAN
Tipe yang dipakai dalam penelitian ini adalah explanatory, yaitu penelitian yang bertujuan untuk menjelaskan hubungan antara dua atau lebih gejala atau variable (Ulber 2009 : 30), yaitu antara pengaruh intensitas menonton tayangan parodi politik DEMOCRAZY yang merupakan variabel bebas (X) terhadap variabel terikat yaitu opini publik mengenai kinerja anggota legislatif (Y).
II. POPULASI DAN SAMPEL
© Populasi
Populasi dalam penelitian ini diambil dari kota Jakarta yang berpenduduk 8.513.385. jakarta diambil sebagai populasi dalam peneletian ini karena kota ini dianggap memenuhi setidaknya dua unsur yang menjadi target audience bagi tayangan parody politik DEMOCRAZY, yaitu 23 - 40 tahun keatas dari kelas sosio-ekonomi ke atas (B-AB-A) atau yang memiliki pengeluaran rutin bulanan rumah tangganya di atas Rp 1,75 juta (AGB Nielsen Media Research). Jakarta memiliki sekitar 4.647.476 penduduk usia produktif yang rata – rata lulusan SMA – Strata 1 (DepKominfo.Newsroom.com). serta upah minimum daerah tertinggi yaitu Rp 976.800 – Rp 1.350.000 per bulan (www.kompas.com).
© Sampel
Sampel dari penelitian ini adalah beberapa orang yang dianggap berpotensi sebgai responden, yang tetap masuk dalam kategori populasi. Menurut Krejcie dan Morgan, apabila jumlah populasi lebih dari 1 juta orang maka jumlah sampel yang diambil sebanyak 384 orang mewakili dari populasi 8.513.385 jiwa (Sekaran, 2006 : 253). Jadi, sampel dalam penelitian ini adalah 384 orang. Penelitian ini menggunakan teknik simple random sampling, yaitu cara menarik anggota sampel dari populasi secara acak (random) (Ulber 2009 : 261). Sampel akan dipilih secara acak sesuai dengan syarat yang sesuai dengan populasi. Teknik ini merupakan cara terbaik memperoleh sampel yang representatif karena probabilitasnya sangat tinggi dibanding dengan yang lain (Ulber 2009 : 261).
III. TEKNIK DAN ALAT PENGUMPULAN DATA
a. Teknik pengumpulan data
Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan kuesioner yang akan diisi oleh responden.
b. Alat pengumpulan data
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner, yaitu kumpulan daftar pertanyaan yang disusun secara sistematis dan berisi alternatif jawaban yang terstruktur yang harus diisi oleh responden.
IV. SUMBER DATA
© Primer :
Data yang diperoleh langsung dari objek penelitian, yaitu data dari responden yang mengisi kuesioner yang dibagikan.
© Sekunder :
Data yang diperoleh secara tidak langsung, yaitu dari dokumen dan arsip-arsip yang telah dikumpulkan oleh pihak lain, serta sumber-sumber lain yang mempunyai relevansi dengan masalah yang diteliti.
V. TEKNIK PENGOLAHAN DATA
Setelah data yang dibutuhkan telah terkumpul, maka akan dilakukan pengolahan data melalui langkah-langkah sebagai berikut :
© Editing :
Melakukan kegiatan meneliti dan mengoreksi kembali keseluruhan data yang telah diperoleh dalam daftar pertanyaan dari responden. Apakah sesuai dengan ketentuan atau tidak.
© Koding
Melakukan kegiatan mengklarifikasikan jawaban dari responden menurut macam atau jenisnya dengan tanda atau kode tertentu yang biasanya berbentuk angka.
© Tabulasi
Menyajikan data yang diperoleh dari hasil penelitian dalam bentuk tabel.
VI. ANALISA DATA
Analisa kuantitatif merupakan analisis data yang ditujukan pada data-data berupa angka-angka. Setelah data terkumpul kemudian diklasifikasikan dalam kategori-kategori, maka dihitung dengan analisa kuantitatif yang dilakukan dengan menggunakan uji statistik. Untuk melakukan uji hipotesis dalam penelitian ini yang menunjukkan adanya korelasi antara variabel (X) yaitu intensitas mengkonsumsi tayangan parodi politik DEMOCRAZY dengan variabel (Y) yaitu opini publik mengenai kinerja anggota legislatif, maka digunakan rumus Koefisien Korelasi Rank Kendall’s (Suparmoko, 1987). Rumus ini digunakan untuk menghitung hubungan antar variabel yang datanya ordinal. Adapun rumusnya adalah sebagai berikut :
Keterangan :
t : Koefisien Korelasi Rank Kendall’s
S : Skor sebenarnya adalah jumlah rank yang lebih tinggi di kanan
dikurangi jumlah rank yang lebih rendah di kiri
N : banyaknya obyek / individu yang diuraikan pada X dan Y
Tx : ½ S t (t – 1), t adalah banyak observasi berangka sama dalam tiap
kelompok angka sama pada variabel X
Ty : ½ S t (t - 1), t adalah banyak observasi berangka sama dalam tiap
kelompok angka sama pada variabel Y
Selanjutnya, untuk menguji tingkat signifikansinya digunakan rumus :
Kriteria penerimaan atau penolakan hipotesis :
Jika z hitung ≥ z table 1% : sangat signifikan
Jika z hitung ≥ z table 5% : signifikan
Jika z hitung ≤ z table 5% : tidak signifikan
DAFTAR PUTAKA :
· Ardianto, Elvinaro. 2004. Komunikasi Massa : Suatu Pengantar. Bandung : Remaja Rosdakarya.
· Ardianto, Elvinaro. Komala, Lukiati. Karlina, Siti. 2007. Komunikasi Massa : sebuah pengantar. Edisi revisi
· Effendy, Onong Uchjana. 1993. Dinamika Komunikasi. Bandung : Remaja Rosdakarya.
· McQuail, 1987, Teori Komunikasi Massa: Suatu Pengantar, Jakarta: Erlangga
· Nurudin. 2003. Komunikasi Massa. Malang : Cespur.
· Nurudin. 2007, Pengantar Komunikasi massa. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
· Sekaran, Uma. 2006. Research Methods for Business Askill Building Approach 2 Edition. USA : Souther Illinois University at Carbondale
· Sugianto. 2008. Terkikisnya Etika Politik. dalam Kompas Jawa Tengah, 11 April 2008, kolom Forum : D.
Suparmoko, M. 1987. Metode Penelitian Praktis. Yogyakarta : BPFE.
Suprapto, Tommy. 2006. Pengantar Teori Komunikasi. Yogyakarta : Media Pressindo.
· Silalahi, Ulber. 2009. Metode penelitian sosial. Bandung : Reflika Aditama
· Winarso, Heru Puji. 2005. Sosiologi Komunikasi Massa. Jakarta : Prestasi Pustaka.
WEBSITE :
· http://www.freelists.org/post/ppi/ppiindia-Mengendalikan-Politik-TV-dan-Radio
· (Anonim. 2008. “Pelajar Gandrungi Tayangan Parodi Politik”, dalam http://www.pdiperjuangan-jatim.org/v02/?mod=berita&id=439).
· http://fenomena-koranpakoles2007.blogspot.com/2008/01/sorotparodi-politik.html
· http://www.kompas.com/
· http://www.Kominfo-Newsroom/Survei kepemirsaan televisi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar