Minggu, 10 Januari 2010

SOSIOLOGO KOMUNIKASI

1 Apakah isi media adalah cerminan realitas sosial masyarakatnya ?. Bagaimana representasi media tentang dunia sosio-kultural dibandingkan dengan dunia sosial yang nyata ? Berikan pendapat dan analisis anda tentang hal ini ?


Jawab :

Tidak selalu bahwa isi media merupakan cerminan dari realitas sosial yang ada dimasyarakat. Dapat dikatakan bahwa di era saat ini media memliki kecenderungan untuk merepresentasikan apa yang menjadi pemahaman atau ideologi media terhadap kehidupan sosial atau budaya masyarakat yang menjadi khalayak dari media itu sendiri. Realitas sosial masyarakat bahkan cenderung hasil dari realitias yang dibentuk oleh media itu sendiri. Bahkan dalam kenyataannya realitas sosial masyarakat “diselewengkan” makna sebenarnya, perubahan konsep kencantikan misalnya, dikonstruksikan oleh media. Misal: konsep cantik tentang perempuan modern adalah putih, kurus, berambut lurus, slim dan sebagainya. Realitas ini menggeser makna yang telah menjadi kebenaran umum dalam masyarakat. Dalam kenyataannya, realitas sosial tidak pernah memberi tolak ukur atau barometer bahwa cantik adalah seperti yang disebutkan diatas. Walau disamping itu, media juga terkadang memberi gambaran sebenarnya tentang realitas sosial yang terjadi dalam masyarakat. Misal: kenaikan BBM yang terjadi, media benar dalam merepresentasikan realitas bahwa pemerintah menaikkan harga BBM paska melambungnya harga minyak dunia saat itu. Disini digambarkan bahwa media merepresentasikan realitas yang ada atau yang terjadi dimasyarakat tanpa dibumbui oleh kepentingan atau ideologi dari media.

Agenda publik bukan lagi menjadi agenda media tetapi cenderung berubah haluan menjadi agenda media yang dikonstruksikan sebagai agenda publik itu sendiri. Jika harus membandingkan representasi media tentang dunia sosio-kultural dengan dunia sosila yang nyata, ada perbandingan dan perbedaan yang jelas saat dua dunia ini direpresentasikan oleh media. Dalam merepresentasikan dunia sosio-kultural misalnya, seperti yang telah digambarkan diatas, media sering sekali “menyelewengkan” makna atau artian dari suatu realitas sosial yang sebenarnya. Ajaibnya media sanggup memepenagruhi, mengubah, bahkan memanipulasi. Sebagai contoh lainnya: imej politik seseorang bisa terbentuk atau dibentuk. Politisi yang berusaha memoles dan memperindah diri untuk konsumsi media, dan selanjutnya media “menjejalkanya” kedalam pikiran kolektif public. Yang menjadikan politisi itu “terlihat” lebih baik dalam pandangan masyarakat. Sementara representasi media mengenai dunia sosial yang nyata ? pada umumnya jarang sekali media benar – benar merepresentasikan realitas yang nyata. Media menyuguhkan informasi dan khalayaknya tidak memiliki pilihan lain kecuali mengkonsumsi informasi tersebut.











2. Peter L Berger dan Thomas Luckmann beranggapan bahwa konstruksi social atas realitas muncul berkaitan dengan pemikiran manusia dan konteks sosial dimana pemikiran itu berkembang dan dikembangkan. Berikan analisis dan pendapat anda bagaimana gagasan tentang konstruksi sosial tersebut mempengaruhi dan dipengaruhi oleh media ?

Jawab:

Konstruksi sosial merupakan penggambaran proses sosial melalui tindakan dan interaksi antara individu dimana masing-masing individu tersebut memiliki pengalaman dan informasi yang berbeda. Didalam konstruksi sosial dapat dilihat bagaimana masyarakat melalui interaksi interpersonal menciptakan realitas-realitas sosial baru, dimana realitas sosial baru tersebut muncul sesuai dengan konteks yang ada. Di era masyarakat kapitalisme (menghamba pada konsumsi) terjadi relasi saling mempengaruhi antara media massa, realitas sosial, serta realitas sosial bentukan media, sehingga pencitraan yang dilakukan media terhadap berbagai produk acara dan informasi pada akhirnya menciptakan realitas sosial baru yang mengikuti raelitas yang dipaparkan oleh media. Media dalam hal ini dianggap sebagai agen pembentuk realitas sosial yang baru. Teori dan pendekatan konstruksi sosial atas realitas terjadi secara simultan melalui tiga proses sosial, yaitu ekternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. 3 proses ini terjadi diantara individu satu dengan individu lainnya dalam masyarakat. Karena adanya perubahan zaman, adanya perubahan masyarakat transisi modern menjadi masyarakat modern dan postmodern, teori dan pendekatan konstruksi sosial atas realitas melihat variabel atau fenomena media massa menjadi sangat substansi dalam proses eksternalisasi, subjektivasi, dan internalisasi. Konstruksi sosial yang terbentuk dalam masyarakat merupakan hasil pandangan, pemikiran dan pemaknaan masing-masing individu terhadap suatu fenomena sosial karena masing – masing individu yang berinteraksi memiliki penalaman dan informasi yang berbeda - beda. Proses yang terjadi dalam fenomena-fenomena sosial tersebut dikonstruksi masyarakat hingga membentuk suatu realitas baru dalam masyarakat tersebut. Suatu realitas dalam masyarakat ini akan menjadi agenda publik, yang selanjutnya agenda publik ini akan menjadi agenda media manakala media mengangkat agenda publik yang ada menjadi suatu hal yang dianggap penting oleh publik. Hasil konstruksi sosial yang telah menjadi agenda publik tersebut akan mempengaruhi media dalam mengambil sikap dan menentukan kebijakan serta dalam pembentukan citra dan realitas yang baru di masyarakat. Realitas yang terkonstruksi tersebut pun akan membentuk opini publik, dan hal ini juga akan mempengaruhi media dalam menjalankan fungsinya sebagai alat penyebar informasi dan pemuas kebutuhan bagi publiknya. Konstruksi sosial yang dibentuk dan dibangun masyarakat tidak hanya mempengaruhi media, tetapi juga sebaliknya bahwa konstruksi sosial yang terjadi di masyarakat dapat dipengaruhi oleh realitas yang dientuk media yang selanjutnya realitas media tesebut dikonsumsi sebagai realitas publik.

Konstruksi sosial yang dibentuk oleh media tersebut melalui beberapa tahapan proses, yaitu tahap menyiapkan materi konstrukasi, tahap sebaran konstruksi, tahap pembentukan konstruksi, dan tahap konfirmasi. Didalam tahap menyiapkan materi konstruksi pihak media selalu menyiapkan isu-isu penting yang menjadi fokus kebutuhan publik, terutama yang berhubungan dengan kedudukan (tahta) yaitu segala hal yang berhubungan dengan jabatan dan kinerja birokrasi serta layanan publik, harta yaitu menyangkut persoalan materi dan kekayaan termasuk juga didalamnya persoalan korupsi, dan perempuan yaitu yang menyangkut masalah aurat, wanita cantik dan segala aktivitas mereka. Selain itu fokus dalam materi konstruksi ini adalah informasi-informasi yang sifatnya menyentuh perasaan banyak orang, misalnya sensivitas, sensualitas, maupun kengerian. Dalam menyiapkan materi konstruksi, media massa memosisikan diri pada tiga hal yaitu keberpihakan media massa kepada kapitalisme, tidak dapat dipungkiri lagi bahwa media massa hampir tidak ada yang tidak dikuasai oleh kaum kapital yang mana dalam prinsip kapitalisme ini tidak jarang idealisme media dan para pelakunya tergeser oleh kepentingan pragmatis ekonomi dalam penciptaan uang dan mengasilkan keuntungan yang besar oleh kaum penguasa tersebut. Keberpihakan semu kepada masyarakat, yang dilakukan pihak media dalam bentuk empati, simapati dan partisipasi masyarakat yang pada akhirnya tujuan dari bentuk ini adalah untuk menjual berita dengan menarik perhatian masyarakat tersebut untuk kepentingan kaum kapitalis. Keberpihakan kepada kepentingan umum juga merupakan hal yang harus dilihat media dalam menyiapkan materi konstruksi. Bentuk keberpihakan ini dalam arti sesungguhnya adalah visi setiap media, tetapi realitanya sekarang ini visi dari media tersebut lamban laun mulai terkikis dan tak pernah menunjukkan jati dirinya, namun hal-hal tentang visi tersebut tetap menggema. Tahap konstruksi sosial media selanjutnya adalah sebaran konstruksi media massa yang dilakukan melalui strategi media massa, yaitu real-time dimana semua informasi harus sampai pada pemirsa atau pembaca secepatnya dan setepatnya berdasarkan agenda media. Yang dalam hal ini apa yang dianggap penting oleh media, maka menjadi penting pula bagi publiknya. Kemudian adalah tahap pembentukan konstruksi sosial, meliputi tiga tahap yaitu konstruksi realitas pembenaran sebagai suatu bentuk konstruksi media massa yang terbangun di masyarakat yang akan cenderung membenarkan apa saja yang disajikan oleh media dan menjadikannya sebagai suatu realitas kebenaran. Kesediaan dikonstruksi oleh media massa dan menjadikan konsumsi media massa sebagai pilihan konsumtif, dimana seseorang menjadi ketergantungan terhadap media massa dan media massa merupakan suatu kebiasaan hidup yang tak bisa dilepaskan. Dan tahap yang terakhir dari konstruksi sosial yang dibangun media adalah konfirmasi. Merupakan tahapan dimana publik ataupun pihak media memberi argumentasi dan akuntabilitas terhadap pilihannya untuk terlibat dalam tahap pembentukan konstruksi. Bagi pihak media tahapan ini bertujuan untuk pemberian argumentasi terhadap alasan-alasan dari konstruksi sosial yang dibentuk. Dan bagi publik bagian ini dapat menjelaskan mengapa ia terlibat dan bersedia hadir dalam proses konstruksi sosial.



Referensi :

Bungin, Burhan. 2007. Sosiologi Komunikasi: teori, paradigma dan paradigma tekhnologi komunikasi dimasyarakat. Jakarta

2 komentar:

  1. makasi mas, setelah baca tulisan ini ku jadi mudeng. hahaha, ni kakak kelas komuniasi undip ya? soalnya mirip sama soal ujianku soskom. hehehe...

    BalasHapus
  2. iya nih mas, aku komunikasi undip 2011, barusan dapet soal UTS sama yg nomer 1. hahaha makasih mas-mas

    BalasHapus